BerandaDaerahADUJAK GenRe Bali 2026 Dorong Generasi Muda Jadi Agen Perubahan dan Penggerak...

ADUJAK GenRe Bali 2026 Dorong Generasi Muda Jadi Agen Perubahan dan Penggerak Keluarga Berkualitas

Perebutkan Piala Bergilir Gubernur Bali, Pemenang Siap Berkompetisi di Tingkat Nasional

Foto: Duta GenRe Bali tampil dalam ajang ADUJAK GenRe Bali 2026 yang menjadi momentum mendorong generasi muda sebagai agen perubahan, sekaligus mengedukasi remaja tentang perencanaan masa depan, kesehatan reproduksi, serta pentingnya membangun keluarga berkualitas.

Denpasar, KabarBaliSatu

Ajang Apresiasi Duta dan Jambore Ajang Kreativitas (ADUJAK) GenRe Bali 2026 menjadi ruang strategis untuk memperkuat peran generasi muda sebagai agen perubahan. Melalui ajang ini, para remaja Bali didorong tidak hanya aktif berkarya, tetapi juga menjadi penggerak lahirnya keluarga berkualitas sekaligus menjaga keberlanjutan adat dan budaya Bali.

Puncak ADUJAK GenRe Bali 2026 berlangsung di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Provinsi Bali, Denpasar, Rabu (12/8/2026). Para peserta terbaik nantinya akan dipersiapkan mewakili Bali dalam ADUJAK GenRe tingkat nasional yang digelar di Jakarta pada 21–22 September 2026.

Kepala Perwakilan BKKBN Provinsi Bali, dr. Ni Luh Gede Sukardiasih, mengatakan proses pemilihan Duta GenRe dilakukan secara berjenjang dengan melibatkan perwakilan dari seluruh kabupaten/kota di Bali.

“Ini ada perebutan Piala Bergilir Gubernur Bali. Kita mempersiapkan Duta GenRe yang mewakili masing-masing kabupaten/kota secara berpasangan. Kemudian pemenangnya akan mewakili Bali di ADUJAK Nasional tanggal 21 sampai 22 September di Jakarta,” ujar Sukardiasih.

Menurutnya, keberadaan Duta GenRe memiliki posisi penting di tengah peluang bonus demografi. Besarnya jumlah penduduk usia produktif harus diimbangi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia agar mampu menjadi kekuatan pembangunan Bali.

“Tujuannya tentu kita ingin meningkatkan kualitas remaja kita karena peluang bonus demografi. Usia produktif jauh lebih tinggi dibandingkan yang nonproduktif. Peluang ini harus kita optimalkan agar generasi muda kita berkualitas untuk mengisi pembangunan, terutama di Bali,” katanya.

Edukasi dari Remaja untuk Remaja

Salah satu peran utama Duta GenRe adalah menjadi edukator bagi teman sebaya. Mereka menyampaikan edukasi mengenai berbagai persoalan yang perlu dihindari remaja, mulai dari seks bebas, pernikahan usia dini, hingga penyalahgunaan narkoba dan zat adiktif.

Selain itu, mereka juga berperan memberikan pemahaman mengenai kesehatan reproduksi dan pentingnya merencanakan kehidupan sejak usia remaja.

“Kita mengedukasi teman sebaya, terutama tentang menghindari seks bebas, menghindari pernikahan usia dini, menghindari narkoba dan napza. Tiga poin itu. Selanjutnya memberikan edukasi tentang kesehatan reproduksi,” jelasnya.

Peran tersebut juga mulai dimanfaatkan berbagai instansi pemerintah. Salah satunya Badan Narkotika Nasional (BNN) yang melibatkan Duta GenRe dalam menyosialisasikan bahaya penyalahgunaan narkoba di kalangan generasi muda.

Di Bali, Duta GenRe juga dilibatkan dalam sosialisasi program KB Krama Bali. Program tersebut tidak hanya berorientasi pada pengendalian jumlah penduduk, tetapi juga diarahkan untuk membangun keluarga Bali yang berkualitas sekaligus menjaga keberlanjutan adat dan budaya.

Sukardiasih menjelaskan, peserta GenRe merupakan remaja berusia 15–24 tahun yang belum menikah. Mereka dapat berasal dari jenjang SMP, SMA maupun perguruan tinggi.

Proses seleksi dilakukan di masing-masing kabupaten/kota dengan melibatkan koordinator Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (OPDKB).

Pendekatan melalui sesama remaja dinilai efektif karena generasi muda memiliki karakter yang adaptif, kreatif, inovatif, serta memiliki kemauan belajar yang tinggi.

“Kita lihat yang sudah lulusan-lulusannya, alumni dari Forum GenRe ini, di beberapa tempat memang mengalami peningkatan kualitas yang lebih bagus,” ujarnya.

Didorong Merencanakan Masa Depan

Lebih jauh, Duta GenRe diharapkan tidak berhenti pada kegiatan seremonial. Mereka harus mampu menjadi agen perubahan di lingkungan masing-masing, khususnya dalam membangun kesadaran tentang pentingnya perencanaan kehidupan berkeluarga.

Hal ini sejalan dengan program KB Krama Bali yang diarahkan untuk mempertahankan sekaligus melestarikan budaya Bali. Namun, menurut Sukardiasih, pelestarian budaya harus berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas manusia.

“Tidak bisa lepas hanya jumlah saja yang kita pikir, kualitasnya juga,” tegasnya.

Karena itu, remaja didorong mulai merancang kehidupan berkeluarga sejak dini. Kesiapan memasuki jenjang perkawinan tidak hanya menyangkut usia, tetapi juga kesiapan fisik, mental, sosial dan finansial.

Dalam edukasi GenRe, perempuan dianjurkan menikah minimal pada usia 21 tahun, sedangkan laki-laki 25 tahun. Calon pasangan juga didorong merencanakan jumlah anak serta mempersiapkan diri menjadi orang tua.

“Untuk perempuan 21, untuk laki-laki 25. Jangan menikah umur 18. Kita merencanakan, nanti kita mau punya anak berapa. Rencanakan dari sekarang. Jadi pada saat menikah itu sudah siap fisik, mental, sosial dan finansial,” katanya.

Jaringan GenRe juga tidak berhenti di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota. Di tingkat desa terdapat Duta GenRe yang menjadi bagian dari jejaring edukasi remaja. Duta GenRe kabupaten/kota turut berperan membina dan merangkul Duta GenRe di desa.

Meski demikian, Sukardiasih mengakui pihaknya belum dapat mengukur secara pasti seberapa besar keberadaan Duta GenRe telah mengubah perilaku masyarakat. Menurutnya, kesimpulan tersebut harus didukung data dan survei khusus.

“Kalau kita berbicara, tentu harus pakai data, survei data. Kita belum survei, nanti salah lagi,” ujarnya.

Duta GenRe Bali Diincar Bawa Prestasi Nasional

Sukardiasih berharap Duta GenRe Bali 2026 yang terpilih mampu membawa nama baik Bali pada ajang nasional. Harapan itu cukup beralasan mengingat kiprah generasi muda Bali di Forum GenRe tingkat nasional telah menunjukkan hasil positif.

Ia menyebut Ketua Forum GenRe Nasional saat ini berasal dari Tabanan. Sosok tersebut dinilai menjadi salah satu contoh keberhasilan pembinaan GenRe di Bali.

Selain menempuh pendidikan di Jakarta, ia juga bekerja sebagai staf di Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) serta berperan dalam menyatukan Forum GenRe di berbagai daerah di Indonesia.

“Sekarang Ketua Forum GenRe Nasional orang Bali. Itu Arya dari Tabanan. Dia menjadi contoh sekarang, bekerja sambil belajar di Jakarta, berkuliah. Sambil bekerja dia menjadi staf di Kemenpora. Dan dialah yang menjadi leading teman-teman menyatukan Forum GenRe di seluruh Indonesia,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat, Desa, Kependudukan dan Pencatatan Sipil (PMD Dukcapil) Provinsi Bali, I Made Dwi Dewata, menegaskan bahwa pembangunan keluarga berkualitas merupakan bagian penting dalam menjaga keberlanjutan masyarakat Bali.

Menurutnya, pembangunan kependudukan tidak boleh hanya dilihat dari sisi jumlah. Yang tidak kalah penting adalah memastikan hadirnya generasi penerus yang berkualitas untuk menjaga seni, budaya, tradisi dan adat Bali.

“Pada prinsipnya kita mempertahankan tradisi yang sudah kita miliki dari zaman dahulu. Untuk mempertahankan seni budaya, kalau penduduknya berkurang, siapa lagi yang akan mempertahankan dan melestarikan?” katanya.

Ia mencontohkan berbagai aktivitas adat yang membutuhkan keterlibatan masyarakat secara langsung. Salah satunya megambel yang membutuhkan cukup banyak orang untuk menjalankannya.

“Contoh megambel. Kan membutuhkan orang banyak. Kalau masyarakat kita tidak ada penerus, nanti mencari pengambel agak susah,” ujarnya.

Karena itu, pembangunan kependudukan di Bali diarahkan untuk mencapai dua tujuan sekaligus. Pertama, membangun keluarga dan sumber daya manusia yang berkualitas. Kedua, memastikan adat, tradisi dan budaya Bali tetap memiliki generasi penerus.

“Sehingga inilah tujuannya, satu berkualitas dan kedua untuk mempertahankan tradisi dan adat. Karena adat itu merupakan akar, fondasi untuk kita kembangkan,” tegasnya. (kbs)

Berita Lainnya

Berita Terkini