BerandaDaerahPBI Kuatkan Komitment Pelestarian Kebaya Nusantara di Puncak HKN 2026 yang Berpusat...

PBI Kuatkan Komitment Pelestarian Kebaya Nusantara di Puncak HKN 2026 yang Berpusat di Undiknas Denpasar

Foto: Suasana peringatan Hari Kebaya Nasional (HKN) 2026 yang dipusatkan di Auditorium Dwitunggal Universitas Pendidikan Nasional (Undiknas) Denpasar, Jumat (24/7/2026).

Denpasar, KabarBaliSatu

Kebaya bukan sekadar busana. Ia adalah sehelai kain yang menyimpan ingatan, merawat identitas, sekaligus menjadi jembatan yang menghubungkan generasi hari ini dengan akar budaya leluhur.

Semangat itulah yang dihidupkan Perempuan Berkebaya Indonesia (PBI) dalam peringatan Hari Kebaya Nasional (HKN) 2026 yang dipusatkan di Auditorium Dwitunggal Universitas Pendidikan Nasional (Undiknas) Denpasar, Jumat (24/7/2026).

Mengusung tema “Generasi Berbudaya dan Berdaya, Melestarikan Kebaya Nusantara Melalui Edukasi Anak Bangsa”, peringatan HKN tahun ini disinergikan dengan Hari Anak Nasional (HAN) yang diperingati sehari sebelumnya pada, 23 Juli 2026. Komitmen pelestarian kebaya dikukuhkan dalam puncak peringatan HKN yang diselenggarakan PBI di Undiknas Denpasar.

Bersama Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Jegeg Bagus Undiknas Denpasar, serta Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah VIII Bali dan Nusa Tenggara Barat, PBI membawa perayaan kebaya keluar dari ruang seremonial. Kegiatan ini juga mendapat dukungan dari organisasi kemahasiswaan lainnya seperti, UKM I See Undiknas, UKM MAPALA Undiknas, dan KBMHD Undiknas. Kebaya pun ditempatkan sebagai bagian dari gerakan kebudayaan yang hidup, tumbuh, dan diwariskan melalui pendidikan kepada generasi penerus.

Kegiatan ini juga semakin semarak dengan kehadiran jajaran Perempuan Berkebaya Indonesia (PBI) dari berbagai daerah di Indonesia. Hadir perwakilan PBI Bogor, Ibu Sitawati Ken Utami; PBI Tangerang Raya, Ibu Artati Yudhiwati; PBI Pekalongan, Ibu Munafah; PBI Yogyakarta, Ibu Tinuk; PBI Grobogan yang pada kesempatan tersebut diwakili Sekretaris 2 Cabang Grobogan, Ibu Dra. Maria Goreti Sutriasih, M.Pd.; PBI Sumatera Utara, Ibu Syafitra; serta PBI Sukabumi, Ibu Reffi W. Andriani. Dari Bali, turut hadir Ibu Dr. AAA Ngurah Tini Rusmini Gorda, SH, MM, MH.

Acara tersebut juga dihadiri Ketua Umum PBI Rahmi Hidayati serta Dewan Penasehat PBI Pusat, Ibu Miranti Serad Ginanjar. Kehadiran para tokoh dan perwakilan PBI dari berbagai wilayah menjadi momentum untuk mempererat jejaring gerakan kebaya di tingkat nasional sekaligus mendorong kebaya agar semakin dikenal, dicintai, dan dilestarikan oleh generasi muda sebagai bagian penting dari jati diri dan kekayaan budaya bangsa.

Lebih dari sekadar perayaan, rangkaian kegiatan tahun ini menjadi langkah awal yang strategis untuk mendorong Kebaya Karangasem diusulkan sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) di tingkat nasional, hingga kelak diperjuangkan menuju pengakuan UNESCO.

Dengan kemasan yang segar dan dekat dengan dunia anak muda, kegiatan tersebut tetap berpijak pada akar tradisi. Kebudayaan dirayakan dengan cara yang lebih cair, kolaboratif, sekaligus menyentuh persoalan nyata di sekitar masyarakat.

Rangkaian kegiatan diawali dengan riding santai menyusuri kawasan heritage Kota Denpasar bersama komunitas Vespa Udayana. Dari jalanan kota, semangat pelestarian kemudian berlanjut ke tepian air melalui aksi lingkungan berupa penuangan cairan eco-enzim di Tukad Korea atau Tukad Badung.

Kegiatan yang berkolaborasi dengan Mapala Undiknas itu menjadi pengingat bahwa merawat budaya tidak dapat dipisahkan dari merawat ruang hidup. Sungai, laut, dan lingkungan adalah bagian dari warisan yang juga harus dijaga agar tetap dapat dinikmati generasi mendatang.

Di lokasi yang sama, rangkaian kegiatan dirangkai dengan pelantikan pengurus DPD Peduli Wisata Budaya Indonesia (PEWEBI) Provinsi Bali, Kota Denpasar, dan Kabupaten Badung.

Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-13 Komunitas Anak Bangsa. Momen tersebut menjadi penanda kebersamaan sekaligus memperkuat semangat kolaborasi dalam merawat kebudayaan, membangun kepedulian sosial, dan mendorong generasi muda untuk terus mengambil peran dalam menjaga warisan budaya bangsa.

Ketua PBI Provinsi Bali, Dr. Gung Tini Gorda, menegaskan bahwa konsep utama yang selalu diusung organisasinya adalah “Sinergi Pang pada Payu”, yakni menghadirkan sebanyak mungkin manfaat melalui satu rangkaian kegiatan.

Menurutnya, peringatan Hari Kebaya Nasional sengaja dipadukan dengan Hari Anak Nasional agar setiap aktivitas memiliki dampak yang lebih luas. Mulai dari aksi menjaga lingkungan, pelestarian budaya, hingga edukasi kepada generasi muda dilakukan dalam satu kesatuan gerakan.

“Hari ini kami tidak hanya merayakan Hari Kebaya Nasional, tetapi juga menyelaraskannya dengan Hari Anak Nasional. Kami ingin menunjukkan bahwa budaya, lingkungan, pendidikan, dan anak-anak dapat dirangkai dalam satu gerakan yang saling menguatkan. Inilah kekuatan perempuan, mampu melahirkan banyak manfaat dalam satu konsep kegiatan,” ujarnya.

Ia menambahkan, salah satu misi besar Perempuan Berkebaya Indonesia adalah menjadikan kebaya sebagai pakaian sehari-hari perempuan Indonesia, bukan hanya digunakan saat upacara adat atau acara resmi.

Menurutnya, kebaya merupakan identitas bangsa yang harus terus diwariskan kepada generasi penerus. Karena itu, pemilihan kampus sebagai lokasi kegiatan menjadi bagian dari strategi memperkenalkan budaya kepada kalangan akademisi dan mahasiswa, sekaligus menyinergikan pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi dengan upaya pelestarian budaya.

“Kami ingin sejak dini anak-anak dan generasi muda memahami bahwa ketika berbicara tentang kebaya, sesungguhnya kita sedang berbicara tentang Indonesia,” katanya.

Vice Rector for Human Resources and Finance Universitas Undiknas, Dr. Anak Agung Ayu Ngurah Sri Rahayu Gorda, S.H., M.M., M.H., C.Med., juga menilai kebaya merupakan identitas yang mampu menghadirkan rasa percaya diri sekaligus keanggunan perempuan Indonesia.

Namun menurutnya, pekerjaan rumah terbesar saat ini adalah menjadikan kebaya sebagai bagian dari keseharian masyarakat.

“Kebaya jangan hanya menghiasi lemari. Jangan hanya dipakai saat upacara adat atau acara resmi. Kita harus mendorong para desainer muda menciptakan kebaya yang nyaman dipakai setiap hari sehingga masyarakat semakin bangga mengenakannya,” ujarnya.

Dalam suasana penuh keakraban, ia juga mengapresiasi sosok yang konsisten mengenakan kebaya setiap hari dan berharap kebiasaan tersebut mampu menginspirasi lebih banyak perempuan Indonesia untuk menjadikan kebaya sebagai bagian dari gaya hidup.

Di sisi lain, ia mengingatkan pentingnya perhatian terhadap anak-anak sebagai generasi penerus bangsa.

“Tugas kita adalah memastikan anak-anak Indonesia tumbuh dengan rasa aman, nyaman, bahagia, hak-haknya terpenuhi, dan mendapatkan lingkungan terbaik untuk berkembang. Mereka adalah masa depan bangsa ini,” tuturnya.

Dukungan juga datang dari Ketua Umum Perempuan Berkebaya Indonesia (PBI) Rahmi Hidayati. Dalam pidatonya, Rahma Hidayati menilai, perkembangan teknologi dan media sosial menjadi peluang besar untuk memperkenalkan kebaya kepada masyarakat luas, khususnya generasi muda. Melalui narasi, foto, hingga video, pengetahuan tentang kebaya dapat disebarluaskan dengan cara yang lebih mudah dipahami dan dekat dengan kehidupan generasi saat ini.

Menurut Rahmi, cara masyarakat mendapatkan informasi telah berubah sangat jauh. Jika dahulu informasi hanya dapat diperoleh melalui koran, televisi, atau radio, kini siapa pun dapat mengakses dan menyebarkan informasi melalui berbagai platform digital.

“Zaman sekarang tidak cuma membaca, kita juga menonton video. Sekarang website banyak, kita bisa membuat website dengan biaya yang tidak mahal. Kita juga bisa punya media sosial dan berbagi banyak hal di sana,” ujar Rahma.

Namun, kemudahan tersebut sekaligus menghadirkan tantangan. Informasi tentang kebaya yang beredar di ruang digital harus dikelola dengan baik agar masyarakat tidak keliru memahami busana tradisional tersebut.

Rahmi menilai, salah satu hal yang paling penting untuk dipahami adalah mengenai pakem kebaya.

Ia mencontohkan, masih ada anggapan bahwa setiap pakaian berbahan brokat dapat disebut sebagai kebaya. Padahal, menurutnya, bahan bukan satu-satunya penentu. Model dan karakter kebaya juga memiliki pakem yang perlu dipahami.

“Yang benar-benar perlu kita pahami adalah soal pakem kebaya. Seperti apa yang disebut kebaya. Ada orang yang saya tahu, kalau bahannya brokat itu disebut kebaya, walaupun modelnya bukan kebaya. Jadi, model kebaya itulah yang perlu kita pahami dulu, pakemnya apa,” katanya.

Secara umum, Rahmi menjelaskan, kebaya memiliki ciri khas berupa bukaan di bagian depan, berlengan, memiliki bentuk kiri dan kanan yang simetris, serta menutup tubuh. Namun, di balik bentuk tersebut terdapat perjalanan sejarah yang panjang.

Rahmi mengaku menemukan referensi mengenai sejarah kebaya dari sebuah disertasi atau tesis di Universitas Gadjah Mada (UGM). Dari berbagai bacaan tersebut, ia semakin memahami bahwa perjalanan kebaya tidak dapat dilepaskan dari perjalanan sejarah dan perubahan sosial masyarakat Indonesia.

Ia mengisahkan, pada masa lalu perempuan di Nusantara mengenakan berbagai bentuk pakaian yang belum sepenuhnya menutup bagian tubuh seperti bahu, lengan, dan punggung. Seiring masuknya pengaruh Islam dan perubahan nilai dalam masyarakat, muncul kebutuhan untuk mengenakan busana yang lebih menutup tubuh.

Dari proses panjang itulah, berkembang berbagai bentuk kebaya yang kemudian menjadi bagian dari kekayaan busana tradisional Indonesia.

Salah satunya adalah model kebaya yang dikenal luas sebagai kebaya Kartini, yang memiliki bukaan di bagian depan. Nama tersebut tidak lepas dari sosok R.A. Kartini yang kerap mengenakan model kebaya tersebut.

Kemudian terdapat kebaya kutubaru yang memiliki tambahan kain berbentuk bidang di bagian tengah. Ada pula bentuk lain yang berkembang di berbagai daerah, termasuk kebaya Sunda dengan karakter khasnya, serta kebaya labuh.

Beragam bentuk tersebut menunjukkan bahwa kebaya Indonesia bukanlah satu bentuk busana yang seragam. Ia tumbuh dari keberagaman budaya, sejarah, dan tradisi masyarakat di berbagai wilayah Nusantara.

“Pelan-pelan kita share ke seluruh generasi, termasuk generasi muda, supaya mereka tahu ini namanya kebaya, ini bukan. Itu melalui narasi-narasi tadi, termasuk foto dan video yang kita buat,” tutur Rahma.

Bagi PBI, upaya memperkenalkan kebaya tidak cukup dilakukan melalui seremoni atau peringatan tertentu. Pelestarian budaya harus menyentuh generasi yang akan menjadi pewarisnya.

Karena itu, PBI mengembangkan berbagai gerakan seperti Kebaya Goes to School, Kebaya Goes to Campus, Kebaya Goes to Office, hingga Kebaya Goes to the World.

Gerakan tersebut menjadi jembatan untuk membawa kebaya lebih dekat dengan berbagai kelompok masyarakat, mulai dari anak-anak sekolah, mahasiswa, pekerja, hingga masyarakat internasional.

Rahmi menegaskan, generasi muda menjadi kunci utama dalam menjaga keberlangsungan kebaya. Sebab, kebudayaan tidak akan bertahan hanya dengan menyimpannya di museum atau mengenakannya pada acara-acara tertentu. Kebudayaan harus hidup di tengah masyarakat dan diwariskan melalui pengalaman sehari-hari.

“Kalau kita ngomongin pelestarian budaya, itu harus ke generasi muda. Makanya mulai ke anak sekolah, sampai yang sudah kerja, goes to office,” ujarnya.

Lebih jauh, Rahmi mengajak generasi muda Indonesia yang memiliki kesempatan bepergian ke luar negeri untuk mengenakan kebaya. Menurutnya, langkah sederhana tersebut dapat menjadi cara efektif memperkenalkan identitas budaya Indonesia di mata dunia.

Ia berharap suatu hari nanti, ketika masyarakat dunia melihat seorang perempuan mengenakan kebaya, mereka dapat langsung mengenali bahwa busana tersebut berasal dari Indonesia.

“Kalau kita melihat perempuan memakai baju kimono atau baju Korea, kita langsung tahu itu orang Korea. Sekarang bagaimana caranya supaya ketika kita sedang kelayapan di dunia, orang langsung tahu itu kebaya dari Indonesia. Itu tugas kita,” katanya.

Sementara itu, Deputi Bidang Koordinasi Penguatan Karakter dan Jati Diri Bangsa Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Republik Indonesia, Prof. Warsito, S.Si., DEA., Ph.D., memberikan apresiasi atas inisiatif PBI yang berhasil mempertemukan semangat Hari Kebaya Nasional dengan Hari Anak Nasional dalam satu gerakan edukatif.

Menurutnya, kegiatan seperti ini menjadi bagian penting dalam memperkuat karakter sekaligus jati diri bangsa melalui pengenalan kebaya kepada anak-anak sejak usia dini.

Ia mengingatkan bahwa Kebaya Nusantara telah memperoleh pengakuan UNESCO pada akhir 2024. Karena itu, tugas berikutnya adalah memastikan kebaya tetap hidup di tengah masyarakat.

Prof. Warsito bahkan mengajak seluruh pemerintah daerah untuk mempertimbangkan penerapan satu hari dalam sepekan bagi aparatur sipil negara (ASN) mengenakan kebaya Nusantara sebagai bagian dari pakaian kerja, sehingga kebaya semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari.

“Biar kebaya menjadi kebanggaan bersama. Kebaya adalah simbol keanggunan sekaligus kekuatan jiwa perempuan Indonesia. Mari kita lestarikan bersama sebagai identitas bangsa,” ujarnya.

Dukungan terhadap gerakan pelestarian kebaya juga datang dari berbagai pemangku kepentingan. Perwakilan Deputi Bidang Koordinasi Penguatan Karakter dan Jati Diri Bangsa, Made Dharma Winasa, menegaskan bahwa kebaya bukan sekadar pakaian tradisional, melainkan mahakarya budaya yang telah diakui dunia dan menjadi simbol jati diri bangsa Indonesia.

Menurutnya, kebaya memancarkan ketangguhan, keanggunan, sekaligus pesona perempuan Indonesia yang harus terus dijaga keberadaannya.

“Kebaya adalah mahakarya budaya yang telah diakui dunia. Ini bukan sekadar busana, melainkan cerminan jiwa, ketangguhan, dan keanggunan perempuan Indonesia. Kebaya adalah benteng identitas bangsa sekaligus penguat jati diri kita,” ujarnya.

Ia menilai gerakan perempuan Indonesia untuk terus berkebaya merupakan bagian nyata dari upaya pelestarian budaya yang sejalan dengan cita-cita besar mewujudkan Indonesia Emas 2045.

Menurutnya, diperingatinya Hari Kebaya Nasional bersamaan dengan Hari Anak Nasional mengandung pesan yang sangat strategis. Kecintaan terhadap warisan budaya tidak bisa dibangun secara instan, tetapi harus ditanamkan sejak usia dini.

“Mengenalkan kebaya kepada putri-putri kita adalah salah satu cara menjaga warisan leluhur. Di balik kebaya tersimpan sejarah, filosofi, nilai kesabaran, dan keanggunan yang membentuk karakter perempuan Indonesia,” katanya.

Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Arifah Fauzi juga memberikan dukungan terhadap peringatan Hari Kebaya Nasional 2026 yang dirangkaikan dengan peringatan Hari Anak Nasional ke-42 tahun 2026 di Bali. Menurutnya kebaya bukan sekadar selembar kain yang membalut tubuh perempuan Indonesia. Di balik setiap lipatan, motif, sulaman, dan helai benangnya, tersimpan cerita panjang tentang perjalanan bangsa, tentang kesederhanaan yang anggun, ketangguhan yang tak banyak bicara, serta martabat perempuan yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Dalam suasana penuh kebanggaan tersebut, Arifah menyampaikan apresiasi kepada Perempuan Berkebaya Indonesia (PBI) yang dinilainya konsisten menghidupkan gerakan pelestarian kebaya sebagai bagian dari warisan budaya bangsa. Ia juga mengapresiasi Universitas Pendidikan Nasional (Undiknas) Bali yang menjadi tuan rumah kegiatan tersebut.

Menurut Arifah, perguruan tinggi memiliki posisi strategis dalam membentuk generasi muda yang unggul dan berdaya saing, namun tetap memiliki akar yang kuat pada nilai-nilai budaya bangsa.

“Kebaya bukan sekadar busana. Kebaya adalah cerita tentang perjalanan perempuan Indonesia, tentang nilai, kesederhanaan, keanggunan, ketangguhan, dan penghormatan terhadap akar budaya,” ujar Arifah.

Ia menuturkan, kebaya menyimpan nilai-nilai kesantunan, penghormatan, keindahan, gotong royong, ketekunan, hingga martabat perempuan Indonesia. Lebih dari itu, kebaya merupakan bahasa budaya yang mampu menjembatani masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Bagi Arifah, perempuan Indonesia tidak hanya berperan sebagai penjaga budaya. Perempuan juga merupakan pendidik pertama di dalam keluarga, pembentuk karakter anak, sekaligus penggerak pembangunan nasional.

Karena itu, menjaga kebudayaan di tengah derasnya arus globalisasi bukan berarti menutup diri dari perubahan. Sebaliknya, budaya harus terus hidup, berkembang, dan didekatkan dengan generasi muda agar tetap relevan sepanjang zaman.

“Pelestarian kebaya harus menjadi gerakan bersama yang inklusif, kreatif, dan membanggakan,” tegasnya.

Peringatan Hari Kebaya Nasional tahun ini, lanjut Arifah, memiliki makna yang semakin istimewa karena diselenggarakan dalam rangkaian Hari Anak Nasional ke-42 tahun 2026 dengan tema “Sayangi Anak, Lindungi dan Bangun Masa Depannya.”

Menurutnya, membangun masa depan anak tidak cukup hanya dengan memastikan terpenuhinya kebutuhan gizi, pendidikan, kesehatan, serta perlindungan dari kekerasan. Anak-anak juga perlu dibekali identitas, karakter, dan rasa bangga sebagai bagian dari bangsa Indonesia.

Salah satu jalannya adalah melalui budaya.

“Pelestarian budaya harus dimulai sejak anak-anak. Biarkan anak-anak mengenal kebaya bukan karena kewajiban, tetapi karena rasa bangga,” katanya.

Ia mengajak masyarakat untuk mengenalkan kebaya kepada anak sejak usia dini. Sebab, di balik setiap motif, kain, dan sulaman, terdapat kisah tentang Indonesia yang layak diketahui dan dicintai oleh generasi penerus.

Seorang ibu yang mengenalkan kebaya kepada putrinya, seorang ayah yang mengajak anak mencintai budaya daerahnya, hingga seorang guru yang memperkenalkan keberagaman budaya di sekolah, menurut Arifah, sejatinya sedang menanamkan akar yang kuat bagi masa depan anak-anak Indonesia.

Akar itu kelak menjadi pijakan ketika mereka tumbuh dan menghadapi dunia yang terus berubah.

“Budaya yang hidup akan melahirkan anak-anak yang memiliki karakter. Karakter yang baik akan melahirkan generasi emas Indonesia. Inilah fondasi menuju Indonesia Emas 2045, sejalan dengan semangat Asta Cita Presiden Republik Indonesia,” ujarnya.

Arifah menegaskan, pemerintah melalui Kementerian PPPA terus mendorong pemenuhan hak anak secara utuh, termasuk hak anak untuk mengenal, menikmati, dan mengembangkan kehidupan budaya sebagaimana diamanatkan dalam Konvensi Hak Anak dan peraturan perundang-undangan nasional.

Dalam momentum Hari Kebaya Nasional 2026, ia pun mengajak seluruh masyarakat menjadikan kebaya sebagai simbol persatuan di tengah keberagaman Indonesia.

Kebaya, kata dia, perlu diperkenalkan melalui berbagai ruang kehidupan anak, mulai dari keluarga, sekolah, komunitas hingga ruang publik. Bersamaan dengan itu, masyarakat juga diajak memberikan dukungan kepada para pengrajin, penenun, pembatik, desainer, pelaku UMKM, dan seluruh penjaga warisan budaya yang selama ini menjadi tangan-tangan penting dalam menghidupkan kebaya.

Kepada anak-anak Indonesia, Arifah menyampaikan pesan penuh kasih agar mereka mencintai budaya sendiri dan tidak pernah merasa malu menjadi bagian dari warisan bangsa.

“Cintailah budayamu, banggalah menjadi anak Indonesia, banggalah memakai kebaya, banggalah memakai kain tradisional, banggalah menggunakan karya bangsa sendiri. Karena anak yang mengenal budayanya akan tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri dan siap menjadi pemimpin Indonesia di masa depan,” pesannya.

Ia berharap kebaya tidak hanya hadir sebagai pakaian yang dikenakan pada peringatan tertentu. Lebih dari itu, kebaya harus menjadi simbol penghormatan kepada perempuan Indonesia, kepada budaya bangsa, dan kepada nilai-nilai luhur yang selama ini menjadi perekat persatuan.

Menutup sambutannya, Arifah menyampaikan sebuah ungkapan yang menggambarkan eratnya hubungan antara budaya dan masa depan anak bangsa.

“Budaya adalah akar, anak adalah tunasnya. Jika akar kita kuat, maka tunas akan tumbuh kokoh memberi kehidupan bagi masa depan bangsa. Ketika anak-anak mencintai budayanya sejak dini, sesungguhnya kita sedang menenun masa depan Indonesia yang berkarakter, berdaya dan bermartabat.”

Dari kebaya, sebuah pesan tentang masa depan pun dititipkan. Bahwa menjaga warisan bukan hanya tentang merawat apa yang telah diberikan oleh masa lalu, tetapi juga tentang memastikan anak-anak hari ini memiliki akar yang cukup kuat untuk tumbuh menghadapi zaman.

Sementara itu, PPK LLDIKTI Wilayah VIII, Made Adi Kartikayasa yang mewakili Ketua LLDIKTI Wilayah VIII Bali dan Nusa Tenggara Barat, memandang peringatan Hari Kebaya Nasional dan Hari Anak Nasional sebagai dua momentum yang saling melengkapi.

Baginya, kebaya berbicara tentang warisan, sedangkan anak-anak adalah harapan masa depan. Pertemuan kedua momentum tersebut menjadi pengingat bahwa bangsa Indonesia memiliki tanggung jawab besar untuk menentukan warisan seperti apa yang akan dititipkan kepada generasi penerus.

“Kita tidak cukup hanya mengajarkan anak-anak mengenakan kebaya. Yang jauh lebih penting adalah mewariskan rasa bangga menjadi bagian dari bangsa Indonesia. Budaya tidak boleh berhenti sebagai kostum yang dikenakan saat peringatan, tetapi harus dipelajari, dikembangkan, diwariskan, hingga menjadi sebuah peradaban,” tuturnya.

Ia menegaskan perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam menjaga keberlangsungan budaya. Kampus, menurutnya, tidak boleh hanya menjadi tempat memperoleh gelar akademik, tetapi harus menjadi rumah kebudayaan yang melahirkan inovasi sekaligus menjaga tradisi.

Menurutnya, mahasiswa memiliki ruang yang sangat luas untuk berkontribusi, mulai dari meneliti kain dan busana tradisional yang ramah lingkungan, mendokumentasikan kisah para perajin, mengembangkan kewirausahaan berbasis budaya, menciptakan desain kebaya yang lebih inklusif, hingga memanfaatkan teknologi digital untuk memperkenalkan kekayaan budaya Nusantara kepada dunia.

“Dengan demikian, pelestarian kebaya tidak berhenti pada nostalgia, tetapi tumbuh menjadi ilmu pengetahuan, kreativitas, inovasi, bahkan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

Ia pun menyampaikan pesan yang disebutnya sebagai titipan dari Kepala LLDIKTI Wilayah VIII.

“Kebaya adalah penjaga martabat tubuh, pendidikan adalah penjaga martabat pikiran, dan perlindungan terhadap anak adalah penjaga martabat masa depan.”

Pesan serupa juga disampaikan narasumber Kebaya Talks, Anak Agung Mia Intentilia, S.IP., M.A. Menurut dosen Universitas Pendidikan Nasional tersebut, perguruan tinggi memiliki tanggung jawab besar dalam melestarikan kebaya melalui pelaksanaan Tri Dharma Perguruan Tinggi.

Ia menjelaskan bahwa pelestarian budaya dapat dimulai dari proses pembelajaran di ruang kelas. Seorang dosen tidak hanya menyampaikan materi akademik, tetapi juga menanamkan pendidikan karakter, identitas bangsa, serta kecintaan terhadap budaya Indonesia kepada para mahasiswa.

“Salah satu mata kuliah yang saya ampu adalah Cross Cultural Understanding. Dalam mata kuliah itu kami membahas budaya Indonesia, termasuk kebaya dan proses pengakuannya oleh UNESCO. Mahasiswa tidak hanya memahami kebaya sebagai pakaian, tetapi juga sebagai identitas bangsa yang perlu dipromosikan kepada dunia dengan memahami filosofi yang terkandung di dalamnya,” jelasnya.

Selain melalui pendidikan, pelestarian kebaya juga diperkuat lewat penelitian. Menurutnya, hasil-hasil riset mengenai kebaya harus terus dipublikasikan agar memperkaya literatur akademik sekaligus memperluas pemahaman masyarakat terhadap nilai budaya yang dimiliki Indonesia.

Ia mencontohkan pengalamannya mempresentasikan penelitian mengenai diplomasi budaya di Universitas Indonesia yang menunjukkan bahwa kebaya merupakan salah satu instrumen strategis dalam memperkuat diplomasi budaya Indonesia di tingkat internasional.

Sementara melalui pengabdian kepada masyarakat, ia menilai sinergi berbagai organisasi yang dipimpin dan diinisiasi Dr. Gung Tini Gorda telah menjadi contoh nyata bagaimana perguruan tinggi, komunitas, pemerintah, dan masyarakat dapat bergerak bersama melestarikan kebaya.

“Kegiatan hari ini adalah bukti bahwa Tri Dharma Perguruan Tinggi tidak berhenti di ruang kelas. Ketika pendidikan, penelitian, dan pengabdian bertemu dalam satu gerakan bersama masyarakat, maka pelestarian kebaya akan terus hidup dan memberikan dampak nyata bagi generasi mendatang,” pungkasnya.

Sementara itu, Ketua Perempuan Berkebaya Indonesia (PBI) Cabang Bogor, Sitawati Ken Utami, yang juga salah satu narasumber Kebaya Talks, mengaku bahagia dapat menjadi bagian dari peringatan Hari Kebaya Nasional ke-3 yang dipadukan dengan Hari Anak Nasional di Universitas Pendidikan Nasional (Undiknas), Denpasar.

Menurutnya, penyatuan dua momentum tersebut bukanlah tanpa alasan. Kebaya dan anak-anak memiliki keterkaitan yang erat karena keberlangsungan warisan budaya bergantung pada generasi penerus yang akan menjaganya.

“Saya sangat senang berada di Denpasar untuk memperingati Hari Kebaya Nasional bersama Hari Anak Nasional. Kebaya membutuhkan generasi penerus yang akan terus melestarikannya. Karena itu, anak-anak yang sehat, mandiri, dan cerdas juga perlu memahami pentingnya menjaga kebaya sebagai warisan budaya bangsa,” ujarnya.

Ia melihat perubahan besar dalam cara generasi muda memandang kebaya. Jika satu dekade lalu kebaya masih dianggap kuno dan hanya identik dengan acara formal, kini justru semakin banyak anak muda yang mengenakannya dengan penuh kebanggaan dan kreativitas.

“Perempuan-perempuan muda sekarang sudah berani berkreasi dengan model kebaya, memadukannya dengan berbagai aksesori dan gaya yang lebih modern. Kebaya kini tampil lebih kekinian tanpa kehilangan nilai budayanya,” katanya.

Sebagai penulis buku tentang kebaya, Sitawati berharap seluruh perjalanan pelestarian kebaya dapat didokumentasikan secara serius agar menjadi referensi bagi generasi mendatang.

“Harapan saya, semua upaya yang kita lakukan hari ini terdokumentasi dengan baik. Sepuluh, dua puluh, bahkan lima puluh tahun ke depan, generasi berikutnya masih bisa mempelajari perjalanan kebaya dari sumber yang autentik,” tuturnya.

Pandangan senada disampaikan Direktur Pengembangan dan Strategi GTS Institute Bali, Putu Alia Vina Lestari. Sebagai representasi generasi muda, ia mengaku kegiatan tersebut membuka wawasannya bahwa kebaya menyimpan keragaman budaya, sejarah, dan filosofi yang selama ini belum banyak dipahaminya.

“Acara hari ini benar-benar membuka mata saya. Saya baru menyadari bahwa kebaya memiliki begitu banyak bentuk, sejarah, dan filosofi. Saya menjadi semakin memahami mengapa kebaya menjadi identitas bangsa Indonesia,” ungkapnya.

Tak hanya belajar tentang budaya, ia juga mengapresiasi rangkaian aksi lingkungan yang digelar sebelum acara utama. Menurutnya, pelestarian budaya ternyata dapat berjalan beriringan dengan kepedulian terhadap kelestarian alam.

“Saya kagum karena gagasan tentang kebaya bisa dipadukan dengan gerakan menjaga lingkungan. Budaya dan keberlanjutan ternyata dapat berjalan bersama. Ini menjadi inspirasi bagi saya sebagai generasi muda untuk terus mengenakan kebaya, bukan hanya pada acara tertentu, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.

Ia berharap peringatan Hari Kebaya Nasional tidak berhenti sebagai agenda tahunan semata, melainkan menjadi gerakan yang terus hidup dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat.

“Semoga ini tidak menjadi ritual satu hari saja, tetapi menjadi nilai yang terus kita bawa ke mana pun dan kapan pun,” ujarnya.

Inspirasi yang sama juga dirasakan Michelle Kezia, peraih Juara I Parade Kebaya. Baginya, kemenangan yang diraih bukan sekadar sebuah prestasi, melainkan pengalaman berharga untuk semakin mengenal kekayaan budaya Indonesia.

“Saya sangat bersyukur dan bahagia bisa berpartisipasi dalam lomba ini. Banyak hal yang saya pelajari, mulai dari kain tradisional, adat, hingga makna kebaya itu sendiri,” katanya.

Michelle berharap semakin banyak generasi muda kembali bangga mengenakan kebaya dan kain tradisional Indonesia sebagai bagian dari identitas bangsa.

“Untuk teman-teman di luar sana, mari kembali memakai kebaya dan kain tradisional Indonesia. Kain kita sangat indah dan merupakan kekayaan budaya yang luar biasa. Sudah saatnya kita melestarikannya bersama-sama,” pungkasnya.

Rangkaian peringatan Hari Kebaya Nasional dan Hari Anak Nasional tidak hanya berlangsung di dalam auditorium. Sejak pagi, semangat pelestarian budaya telah diwujudkan melalui aksi nyata menjaga lingkungan di Tukad Korea atau Tukad Badung dengan penuangan cairan eco enzyme yang melibatkan Perempuan Berkebaya Indonesia (PBI), Peduli Wisata Budaya Indonesia (PEWIBI), Mahasiswa Pecinta Alam (Mapala) Undiknas, serta berbagai elemen masyarakat.

Ketua Panitia Hari Kebaya Nasional dan Hari Anak Nasional 2026, Agnes Beryl Junaidi, mengatakan kegiatan tersebut menjadi simbol bahwa pelestarian budaya harus berjalan berdampingan dengan kepedulian terhadap lingkungan.

Ia berharap penggunaan eco enzyme dapat semakin dikenal masyarakat dan dimanfaatkan dalam kehidupan sehari-hari, baik oleh warga sekitar maupun ibu rumah tangga.

“Hari ini kami melakukan penuangan eco enzyme di Tukad Korea. Harapannya kegiatan ini memberikan manfaat bagi masyarakat dan dapat terus dikembangkan oleh warga maupun ibu-ibu rumah tangga sehingga menjadi kebiasaan yang berdampak positif bagi lingkungan,” ujarnya.

Agnes juga mengungkapkan bahwa peringatan Hari Kebaya Nasional tahun ini turut mengajak para pedagang di Pasar Badung dan Pasar Kumbasari untuk mengenakan kebaya sebagai bentuk kecintaan terhadap budaya Indonesia.

Menurutnya, kebaya sudah saatnya hadir dalam aktivitas sehari-hari, bukan hanya dikenakan saat upacara adat atau acara resmi.

“Kami berharap masyarakat, khususnya warga di sekitar Tukad Korea, dapat mulai membiasakan memakai kebaya dalam kehidupan sehari-hari sehingga kebaya benar-benar hidup di tengah masyarakat,” katanya.

Ketua Umum Peduli Wisata Budaya Indonesia (PEWIBI), Irlisa Rachmadiana, menjelaskan bahwa eco enzyme merupakan cairan serbaguna hasil fermentasi kulit buah, gula, dan air yang memiliki banyak manfaat, mulai dari kebutuhan rumah tangga, pertanian, hingga pelestarian lingkungan.

Menurutnya, produk tersebut juga memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai bagian dari program UMKM maupun desa wisata.

“Eco enzyme dapat dimanfaatkan sebagai pembersih alami, pencuci piring, pewangi ruangan, pupuk organik cair, pengendali hama, penyubur tanah, hingga membantu mengolah limbah. Karena itu kami menuangkannya ke sungai sebagai upaya mengurangi pencemaran sekaligus menjaga kualitas lingkungan,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa aksi tersebut merupakan bentuk nyata kepedulian PEWIBI terhadap keberlangsungan destinasi wisata berbasis budaya.

“Peduli wisata budaya berarti kita juga peduli terhadap lingkungan wisata. Sungai yang bersih akan menjaga keindahan kawasan wisata, meningkatkan kenyamanan masyarakat, sekaligus menjadi daya tarik bagi wisatawan yang datang ke Bali,” tuturnya.

Ketua Umum Mapala Undiknas, Ariel Emmanuel Putra Yudantha, menambahkan bahwa eco enzyme memiliki manfaat besar dalam membantu memperbaiki kualitas air sungai.

Menurutnya, cairan tersebut mampu menekan pertumbuhan mikroba penyebab bau sehingga air sungai menjadi lebih bersih dan jernih.

“Kami berharap masyarakat semakin sadar pentingnya menjaga lingkungan. Jika kita bersama-sama merawat sungai, lingkungan akan menjadi lebih sehat dan nyaman untuk semua,” ujarnya.

Ia juga membuka peluang agar aksi serupa dapat kembali dilaksanakan pada kesempatan berikutnya sebagai bagian dari gerakan berkelanjutan menjaga lingkungan.

Dukungan terhadap kegiatan tersebut turut disampaikan Pelaksana Tugas Direktur Utama Perumda Pasar Kota Denpasar, Kadek, yang mengajak masyarakat menjaga kebersihan sungai dengan tidak membuang sampah sembarangan.

“Kami mengucapkan terima kasih atas terselenggaranya kegiatan ini. Mari bersama-sama menjaga lingkungan, terutama masyarakat yang berada di kawasan hilir sungai, agar tidak membuang sampah sembarangan sehingga kebersihan sungai tetap terjaga,” katanya.

Semangat pelestarian budaya juga tumbuh dari peserta termuda yang mengikuti lomba mewarnai tingkat TK dan SD. Tawa dan senyum mereka menjadi warna tersendiri dalam peringatan Hari Kebaya Nasional yang dipadukan dengan Hari Anak Nasional.

Peraih Juara I Lomba Mewarnai tingkat TK, Syakil, mengaku sangat senang mengikuti perlombaan tersebut.

“Tadi mewarnai gambar sekolah. Aku pakai warna kuning,” ucapnya polos sambil tersenyum.

Keceriaan serupa juga dirasakan Kidung, salah seorang peserta lomba mewarnai. Dengan penuh semangat ia menceritakan hasil karyanya.

“Aku tadi mewarnai orang. Orangnya aku warnai pakai warna krem,” katanya.

Bagi Kidung, kegiatan itu menjadi pengalaman yang menyenangkan. Ia bahkan berharap dapat kembali mengikuti lomba serupa pada kesempatan berikutnya.

Kepolosan anak-anak itu menjadi penutup yang indah dalam rangkaian Hari Kebaya Nasional dan Hari Anak Nasional 2026. Di tangan merekalah harapan untuk menjaga kebaya, budaya, dan lingkungan akan terus bertumbuh, menjadi warisan yang hidup dari generasi ke generasi.

Pada akhirnya, peringatan Hari Kebaya Nasional di Undiknas bukan sekadar tentang perempuan yang mengenakan kebaya. Ia adalah cerita tentang sebuah bangsa yang sedang berusaha mengingat siapa dirinya.

Tentang sungai yang harus tetap mengalir bersih. Tentang anak-anak yang belajar mengenal warna dan budaya. Tentang mahasiswa yang bergerak di ruang-ruang pendidikan. Tentang perempuan yang merawat warisan leluhur melalui sehelai busana.

Dan tentang kebaya yang diharapkan tidak berhenti sebagai kenangan dalam foto-foto perayaan, tetapi terus hidup di jalanan, di kampus, di rumah, dan dalam keseharian perempuan Indonesia.

Sebab ketika kebaya tetap dikenakan, sesungguhnya sebuah identitas sedang dijaga. Ketika kebaya dikenalkan kepada anak-anak, sebuah ingatan sedang diwariskan. Dan ketika kebaya diperjuangkan hingga ke panggung UNESCO, yang dibawa bukan hanya sehelai kain, melainkan cerita panjang tentang Indonesia. (kbs)

Berita Lainnya

Berita Terkini