Foto: Ilustrasi Nengah Senantara menyoroti perbedaan harga oba tantara Indonesia-Malaysia.
Jakarta, KabarBaliSatu
Anggota Komisi VI DPR RI dari Daerah Pemilihan Bali sekaligus Ketua DPW Partai NasDem Provinsi Bali, Ir. Nengah Senantara, menyoroti tingginya harga obat di Indonesia yang disebut mencapai hingga 500 persen lebih mahal dibandingkan dengan Malaysia. Ia meminta PT Bio Farma memberikan penjelasan yang transparan terkait persoalan tersebut karena telah menjadi perhatian pemerintah hingga masyarakat luas.
Pernyataan itu disampaikan Senantara saat mengikuti Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi VI DPR RI bersama PT Bio Farma beserta subholding, Selasa (9/6/2026). Agenda rapat meliputi evaluasi kinerja korporasi tahun 2025, penyampaian rencana kerja dan roadmap perusahaan tahun 2026, serta berbagai isu strategis di sektor farmasi nasional.
Dalam rapat tersebut, Senantara mengaku prihatin setelah mendengar kembali pernyataan yang sebelumnya juga disampaikan Menteri Kesehatan mengenai tingginya harga obat di Indonesia. Menurutnya, jika seorang menteri sampai mengeluhkan persoalan tersebut, maka kondisi yang dirasakan masyarakat tentu jauh lebih berat.
“Yang ketiga, tadi teman kita juga nyinggung. Bahkan Menteri Kesehatan juga menyampaikan bahwa harga obat kita 500 persen lebih mahal jika dibandingkan dengan negara Malaysia. Mohon kami dijelaskan pak. Sehingga, ini menteri mengeluh, apalagi masyarakatnya,” ujar Senantara dalam rapat.
Politisi NasDem asal Bali itu meminta Bio Farma menjelaskan secara rinci faktor-faktor yang menyebabkan harga obat di Indonesia bisa jauh lebih tinggi dibandingkan negara tetangga. Ia menilai persoalan tersebut perlu diurai secara terbuka agar dapat ditemukan solusi yang tepat.
“Ini mohon penjelasan, terutama sampai menterinya hafal betul tentang nama obatnya, obat Lipitor dan Restore. Jadi ini sampai menteri mengeluhkan, rupanya ada apa ini sampai 500 persen harganya lebih mahal,” lanjut politisi berlatar belakang pengusaha sukses itu.
Menurut Senantara, perbedaan harga yang sangat tinggi menimbulkan pertanyaan besar mengenai efisiensi rantai pasok farmasi nasional, biaya distribusi, mekanisme pengadaan bahan baku, hingga sistem tata niaga obat yang berlaku saat ini. Ia menegaskan bahwa masyarakat berhak mendapatkan akses obat yang berkualitas dengan harga yang wajar dan terjangkau.
Karena itu, Senantara mendorong Bio Farma sebagai holding BUMN farmasi untuk melakukan evaluasi menyeluruh terhadap seluruh mata rantai industri farmasi nasional. Langkah tersebut dinilai penting agar Indonesia tidak terus menghadapi disparitas harga obat yang jauh lebih tinggi dibandingkan negara lain di kawasan.
Ia juga menegaskan bahwa keberhasilan Bio Farma tidak hanya diukur dari capaian bisnis dan ekspansi pasar internasional, tetapi juga dari kemampuannya menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat melalui ketersediaan obat yang terjangkau.
“Kalau persoalan harga obat ini masih menjadi keluhan masyarakat dan bahkan mendapat sorotan langsung dari Menteri Kesehatan, maka harus ada langkah konkret untuk memperbaikinya. Ini menyangkut akses kesehatan masyarakat secara luas,” tegas politisi yang dikenal berhati mulia dan dermawan dengan tagline Senantara Peduli, Senantara Berbagi.
Sorotan tersebut menjadi salah satu catatan penting dalam RDP Komisi VI DPR RI, yang menekankan agar BUMN farmasi mampu menjalankan fungsi bisnis sekaligus menjawab tantangan pelayanan kesehatan nasional. Dengan demikian, industri farmasi Indonesia tidak hanya tumbuh secara korporasi, tetapi juga mampu memberikan dampak langsung bagi kesejahteraan masyarakat. (kbs)

