Foto: Ilustrasi hilirisasi rumout laut Bali.
Denpasar, KabarBaliSatu
Rumput laut yang selama ini menjadi salah satu komoditas andalan sektor perikanan Bali kini didorong naik kelas melalui program hilirisasi. Pemerintah Provinsi Bali terus mengembangkan berbagai produk olahan berbahan dasar rumput laut agar komoditas ini tidak lagi hanya dipasarkan sebagai bahan mentah, melainkan mampu menciptakan nilai ekonomi yang lebih besar bagi masyarakat pesisir.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Bali, Putu Sumardiana, mengatakan pengembangan rumput laut bukan hanya soal peningkatan produksi. Lebih dari itu, langkah tersebut merupakan bagian dari upaya menjaga kesehatan ekosistem laut sekaligus memperkuat kesejahteraan masyarakat yang menggantungkan hidup pada sumber daya pesisir.
Menurutnya, laut harus tetap terjaga sebagai ruang hidup berbagai biota laut. Karena itu, menjaga kebersihan laut dan membangun kesadaran masyarakat untuk tidak merusak lingkungan menjadi tujuan utama yang terus didorong pemerintah.
“Yang ingin kami capai adalah laut tetap bersih, masyarakat memahami pentingnya menjaga laut, dan fungsi laut sebagai habitat ikan tetap terpelihara, termasuk terbebas dari sampah dan pencemaran,” ujarnya, Minggu (7/6/2026).
Budidaya rumput laut sendiri telah lama menjadi sumber penghidupan utama masyarakat pesisir, khususnya di kawasan Nusa Lembongan. Namun, seiring pesatnya perkembangan sektor pariwisata, banyak petani rumput laut beralih profesi menjadi pemandu wisata karena dinilai mampu memberikan penghasilan lebih cepat.
Fenomena tersebut berubah drastis saat pandemi Covid-19 melumpuhkan industri pariwisata. Banyak warga yang sebelumnya bekerja di sektor wisata kembali menekuni budidaya rumput laut sebagai penopang ekonomi keluarga.
Pada masa itu, pemerintah turut memberikan dukungan kepada kelompok pembudidaya melalui berbagai bantuan untuk menghidupkan kembali aktivitas budidaya rumput laut, terutama di kawasan Nusa Lembongan.
Sumardiana menyebut Nusa Lembongan masih menjadi kawasan penghasil rumput laut terbaik di Bali. Kondisi perairan yang relatif bersih dan karakteristik habitat yang sesuai membuat wilayah tersebut sangat ideal untuk pengembangan komoditas ini.
Saat ini, fokus pemerintah tidak lagi sebatas meningkatkan produksi, tetapi juga memperluas pengolahan hasil agar rumput laut memiliki nilai jual lebih tinggi. Berbagai inovasi produk mulai bermunculan, mulai dari mi rumput laut, kopi rumput laut, sabun rumput laut, hingga beragam makanan olahan lainnya.
Di Kabupaten Klungkung, rumput laut telah diolah menjadi kerupuk, pia, pie, dan cookies. Sementara itu, di Kabupaten Badung berkembang produk mi rumput laut sebagai salah satu bentuk diversifikasi hasil perikanan dan kelautan.
Meski begitu, pengembangan industri hilir rumput laut di Bali masih menghadapi tantangan karena belum berjalan secara masif. Karena itu, pemerintah terus mendorong lahirnya inovasi-inovasi baru agar ketergantungan terhadap ekspor bahan baku dapat dikurangi.
“Rumput laut harus bisa diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah, seperti mi, kopi, sabun, dan produk lainnya sehingga manfaat ekonominya semakin besar,” kata Sumardiana.
Di sisi lain, keberadaan rumput laut juga memiliki keterkaitan erat dengan sektor pariwisata dan konservasi laut. Pemprov Bali kini tengah menggandeng kalangan akademisi untuk mengkaji daya dukung kawasan konservasi laut, termasuk menentukan jumlah ideal wisatawan dan penyelam yang dapat beraktivitas setiap hari tanpa mengganggu keseimbangan ekosistem.
Menurutnya, tingginya kunjungan wisatawan ke destinasi bahari seperti Nusa Penida memang membanggakan. Namun, lonjakan aktivitas wisata juga berpotensi menimbulkan tekanan terhadap habitat laut apabila tidak dikelola dengan baik.
Karena itu, penentuan carrying capacity atau daya dukung kawasan konservasi menjadi langkah penting untuk memastikan pengembangan pariwisata tetap berjalan beriringan dengan upaya pelestarian lingkungan.
Sebagai bagian dari strategi tersebut, pemerintah juga mulai mengembangkan destinasi wisata bahari baru di sejumlah wilayah seperti Karangasem dan Buleleng. Langkah ini diharapkan dapat mendistribusikan kunjungan wisatawan secara lebih merata dan mengurangi beban pada kawasan wisata yang selama ini menjadi pusat aktivitas wisata laut.
Selain potensi kelautan, Bali juga memiliki kekayaan budaya pesisir yang terus dijaga, salah satunya tradisi pembuatan garam Kusamba yang telah mengantongi status Indikasi Geografis. Warisan budaya ini dinilai menjadi bagian penting yang harus berjalan seiring dengan upaya pelestarian sumber daya laut.
Sumardiana menegaskan bahwa menjaga laut bukan semata tugas pemerintah. Dibutuhkan kolaborasi seluruh elemen, mulai dari masyarakat, komunitas, organisasi nonpemerintah, pelaku usaha, akademisi, hingga media agar upaya menjaga laut dapat berlangsung secara berkelanjutan.
“Pelestarian laut membutuhkan dukungan semua pihak. Tidak bisa dilakukan oleh pemerintah sendiri. Semua elemen harus bergerak bersama agar laut tetap terjaga untuk generasi mendatang,” tegasnya. (kbs)

