BerandaDaerahGroundbreaking Patung Sabdo Palon Terbesar di Dunia Dimulai di Bali, Gus Marhaen:...

Groundbreaking Patung Sabdo Palon Terbesar di Dunia Dimulai di Bali, Gus Marhaen: Simbol Rakyat untuk Perdamaian Semesta

Foto: Prosesi peletakan batu pertama (groundbreaking) pembangunan Patung Sabdo Palon di kawasan Ungasan, Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Rabu (3/6/2026).

Badung, KabarBaliSatu

Sebuah proyek monumental yang digadang-gadang menjadi salah satu ikon budaya terbesar di Indonesia resmi dimulai di Bali. Yayasan Sabdo Palon Nusantara melaksanakan prosesi peletakan batu pertama (groundbreaking) pembangunan Patung Sabdo Palon yang diklaim sebagai patung Sabdo Palon terbesar di dunia di kawasan Ungasan, Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Rabu (3/6/2026).

Lokasi pembangunan berada tidak jauh dari kawasan Garuda Wisnu Kencana (GWK), salah satu destinasi budaya paling ikonik di Pulau Dewata. Kehadiran patung tersebut diharapkan menjadi simbol baru yang memperkuat posisi Bali sebagai pusat kebudayaan dunia.

Proyek yang diperkirakan menelan anggaran miliaran rupiah itu digagas oleh Ida Bagus Dharmika atau yang lebih dikenal sebagai Gus Marhaen. Selain menjabat sebagai Ketua Umum Yayasan Sabdo Palon Nusantara, ia juga dikenal sebagai pendiri Museum Agung Bung Karno serta tokoh yang aktif menghidupkan kembali pemikiran dan ajaran Sang Proklamator.

Menurut Gus Marhaen, prosesi groundbreaking sengaja dilaksanakan pada Budha Umanis Julungwangi karena dinilai sebagai hari baik atau dewasa ayu. Momentum tersebut juga bertepatan dengan Bulan Bung Karno, sehingga memiliki makna filosofis yang mendalam.

Baginya, pembangunan Patung Sabdo Palon bukan sekadar proyek fisik, melainkan sebuah gerakan kebudayaan dan spiritual yang berakar dari warisan sastra Nusantara.

“Ini bukan hanya membangun patung. Ini adalah upaya menghadirkan kembali nilai-nilai luhur yang hidup dalam kebudayaan Nusantara,” ujarnya.

Gus Marhaen menjelaskan bahwa Sabdo Palon merupakan simbol yang mengandung nilai universal dan dapat diterima lintas keyakinan. Kata “Sabda” dimaknai sebagai firman, wahyu, atau suara kebenaran, sementara “Palon” dipahami sebagai kebenaran yang menggema dan hidup di alam semesta.

Menurutnya, spirit tersebut kemudian menemukan bentuk modernnya dalam nilai-nilai Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika yang digali dan dirumuskan oleh Bung Karno sebagai dasar kehidupan berbangsa.

Ia juga menekankan bahwa Sabdo Palon bukanlah simbol kekuasaan, melainkan simbol rakyat. Dalam berbagai tradisi Nusantara, figur ini kerap dimanifestasikan melalui tokoh-tokoh bijak seperti Semar dalam pewayangan Jawa maupun Tualen dalam tradisi Bali.

“Sabdo Palon adalah simbol rakyat. Bukan simbol penguasa. Dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat. Dari akar itulah lahir nilai-nilai kepemimpinan yang paripurna,” tegasnya.

Lebih jauh, Gus Marhaen menghubungkan pembangunan patung tersebut dengan berbagai naskah dan sastra kuno Nusantara yang menyebut kemunculan kembali spirit Sabdo Palon sekitar 500 tahun setelah runtuhnya Kerajaan Majapahit pada 1478 Masehi.

Di tengah kondisi dunia yang penuh ketidakpastian, konflik, dan perubahan yang berlangsung cepat, ia memandang nilai-nilai Sabdo Palon sebagai penuntun sekaligus pengingat agar manusia tetap berpijak pada kebijaksanaan, kemanusiaan, dan keseimbangan hidup.

“Dalam sastra Nusantara disebutkan Sabdo Palon akan hadir kembali setelah 500 tahun. Hari ini kita melihat dunia menghadapi banyak ketidakpastian. Bagi mereka yang memahami nilai-nilai Sabdo Palon, tidak ada alasan untuk takut atau kehilangan arah,” katanya.

Melalui pembangunan Patung Sabdo Palon di Bali, Gus Marhaen berharap pesan perdamaian, keadilan sosial, kemanusiaan, dan harmoni kehidupan dapat bergema lebih luas, tidak hanya bagi masyarakat Indonesia, tetapi juga masyarakat dunia.

Ia menilai Bali memiliki posisi strategis sebagai pusat kebudayaan dan pariwisata dunia untuk menyampaikan pesan-pesan universal tersebut kepada peradaban global.

Patung Sabdo Palon yang tengah dibangun ini pun didedikasikan bukan hanya untuk kepentingan manusia, tetapi juga sebagai simbol penghormatan terhadap seluruh kehidupan di alam semesta, termasuk hewan, tumbuhan, dan lingkungan yang menjadi bagian tak terpisahkan dari keseimbangan dunia.

Mengenai target penyelesaian pembangunan, Gus Marhaen memilih menyerahkannya pada proses dan perjalanan alam itu sendiri. Baginya, proyek besar yang lahir dari gagasan besar membutuhkan waktu, kesabaran, dan kesungguhan.

“Patung Sabdo Palon ini saya persembahkan untuk kemanusiaan dan seluruh kehidupan. Soal kapan selesai, biarlah alam yang menyeleksi. Yang terpenting, apa yang kita bangun hari ini berakar dari pemikiran besar untuk masa depan yang lebih baik,” pungkasnya. (kbs)

Berita Lainnya

Berita Terkini