Foto: Aksi penanaman 1.000 bibit mangrove di kawasan Pulau Pudut, Tanjung Benoa, Nusa Dua, Kabupaten Badung, Minggu (17/5/2026) serangkaian perayaan HUT ke-11 Pemerintahan Mahasiswa Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Undiknas Denpasar dan HUT ke-6 Perempuan Berkebaya Indonesia (PBI) Provinsi Bali.
Badung, KabarBaliSatu
Semangat kolaborasi generasi muda Bali dalam menjaga lingkungan pesisir kembali terlihat lewat aksi penanaman 1.000 bibit mangrove di kawasan Pulau Pudut, Tanjung Benoa, Nusa Dua, Kabupaten Badung, Minggu (17/5/2026). Kegiatan ini menjadi bagian dari perayaan HUT ke-11 Pemerintahan Mahasiswa Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Pendidikan Nasional (Undiknas) Denpasar dan HUT ke-6 Perempuan Berkebaya Indonesia (PBI) Provinsi Bali yang mengusung tema Harmony in Action: Berkebaya Menanam 1000 Mangrove.
Aksi lingkungan tersebut melibatkan sinergi lintas organisasi dan instansi, mulai dari Perempuan Berkebaya Indonesia (PBI) Bali, Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) Unda Anyar, hingga Direktorat Polisi Perairan dan Udara (Ditpolairud) Polda Bali. Dukungan juga datang dari berbagai komunitas dan organisasi seperti IKABOGA Bali, Generasi Biru, Balaram Mangrove Heroes, GMKI (Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia) Cabang Denpasar, serta 45 organisasi mahasiswa di lingkungan Undiknas. Kegiatan ini turut mendapat dukungan dari Anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) Perwakilan Bali Ni Luh Djelantik.
Presiden BEM Undiknas, I Kadek Andre Hermawan Mangku Nada mengatakan, kegiatan tersebut bukan sekadar perayaan ulang tahun organisasi mahasiswa, melainkan bentuk edukasi dan kepedulian terhadap kelestarian pesisir Bali.
Menurutnya, Bali sebagai daerah kepulauan yang dikelilingi laut membutuhkan perlindungan alami dari ancaman abrasi. Salah satu langkah penting yang bisa dilakukan adalah menjaga dan memperbanyak hutan mangrove.
“Selain mencegah abrasi, mangrove juga memiliki nilai ekonomi yang bisa dimanfaatkan masyarakat,” ujarnya.
Tak hanya aksi penanaman mangrove, rangkaian HUT Pemerintahan Mahasiswa Undiknas juga diisi kegiatan sosial lainnya seperti donor darah dan kunjungan ke panti asuhan.
Koordinator kegiatan, Jojo, menegaskan bahwa gerakan menanam mangrove ini merupakan simbol kepedulian generasi muda Bali terhadap keberlanjutan lingkungan pesisir. Ia menyebut, kolaborasi berbagai pihak menjadi kekuatan utama dalam menjalankan aksi tersebut.
“Ini adalah bentuk sinergi mahasiswa dengan banyak pihak untuk menunjukkan bahwa generasi muda Bali peduli terhadap ekosistem pesisir. Mangrove sangat penting sebagai pelindung alam dan penjaga kawasan pantai Bali,” katanya.
Jojo juga mengapresiasi dukungan BPDAS Unda Anyar yang memberikan bantuan 500 bibit mangrove dari total 1.000 bibit yang ditanam. Ia berharap seluruh mangrove tersebut dapat tumbuh optimal dan memberi manfaat jangka panjang bagi lingkungan pesisir Bali.
Sementara itu, perwakilan Perempuan Berkebaya Indonesia (PBI) Bali, Dr. Gung Tini Gorda, menyampaikan bahwa kegiatan ini juga menjadi bagian dari perayaan HUT ke-6 PBI Bali. Ia menilai aksi menanam mangrove menjadi langkah nyata membangun kembali ekosistem pesisir dan laut agar tetap lestari.
“Kami ingin membangun ekosistem laut yang sehat agar alam Bali tidak terus tercederai dan biota laut tetap bisa hidup untuk mendukung kehidupan masyarakat,” ungkapnya.
Menariknya, para perempuan yang terlibat dalam kegiatan tersebut tetap mengenakan kebaya saat menanam mangrove. Menurut Gung Tini, hal itu menjadi simbol bahwa kebaya bukan penghalang untuk bergerak aktif, melainkan identitas perempuan Indonesia.
“Menanam pun harus berkebaya. Kebaya tidak membuat ribet, justru menunjukkan jati diri perempuan Indonesia,” tegasnya.
PBI Bali juga menggandeng IKABOGA Bali untuk mengembangkan potensi ekonomi dari mangrove. Tanaman mangrove dinilai dapat diolah menjadi berbagai produk bernilai ekonomis, seperti tepung hingga bahan olahan makanan.
Di sisi lain, perwakilan BPDAS Unda Anyar, Bagus Dwi Rahmanto, mengapresiasi keterlibatan generasi muda dalam aksi konservasi tersebut. Ia menilai kesadaran anak muda terhadap lingkungan menjadi modal penting menjaga keberlanjutan alam Bali.
“Alam Bali adalah salah satu daya tarik utama wisatawan datang ke Bali. Karena itu, generasi muda harus terus menjaga kelestariannya,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa upaya pelestarian tidak boleh berhenti pada penanaman semata. Pemeliharaan mangrove hingga tumbuh besar dinilai menjadi tahap penting agar manfaatnya benar-benar dirasakan dalam menjaga kawasan pesisir dan daratan Bali dari kerusakan.
Menurut Bagus, kondisi mangrove di Bali saat ini mulai menunjukkan perkembangan positif. Kesadaran masyarakat terhadap pentingnya mangrove semakin meningkat, ditandai dengan munculnya berbagai komunitas dan kelompok pecinta mangrove yang aktif mengembangkan kegiatan ekowisata dan konservasi berbasis masyarakat.
“Sekarang sudah banyak komunitas dan individu yang memanfaatkan mangrove untuk kegiatan ekowisata, tetapi tetap menjaga dan memeliharanya. Ini menjadi perkembangan yang sangat baik bagi Bali,” pungkasnya.
Dukungan juga datang dari Anggota DPD RI perwakilan Bali, Ni Luh Djelantik, yang menilai gerakan anak muda dan komunitas lingkungan seperti ini memiliki dampak besar bagi keberlanjutan Bali di masa depan. Perwakilan Ni Luh Djelantik, Edo, menyebut kegiatan mahasiswa dan komunitas lingkungan ini sebagai gerakan positif yang patut didukung penuh. Ia menegaskan, keberlanjutan perawatan mangrove juga akan terus dipantau bersama pengelola wilayah dan BPDAS.
Apresiasi serupa disampaikan perwakilan Ditpolairud Polda Bali, Agung. Ia menilai penanaman mangrove memiliki peran penting dalam menjaga ekosistem pesisir sekaligus membantu menyerap karbon dari polusi udara akibat penggunaan bahan bakar fosil.
Menurutnya, kondisi hutan mangrove di Bali sejatinya masih cukup luas, namun mulai mengalami sejumlah kerusakan di beberapa titik. Karena itu, keterlibatan masyarakat menjadi sangat penting untuk menjaga keberlangsungan ekosistem laut dan lingkungan Bali secara menyeluruh.
“Kegiatan seperti ini harus terus ditingkatkan. Setelah penanaman, perawatannya juga harus dijaga agar mangrove bisa tumbuh dan memberikan manfaat bagi semua,” katanya.
Selain berdampak bagi lingkungan, mangrove juga dinilai memiliki potensi ekonomi di masa depan. Perwakilan IKABOGA Bali, Tiwi Tjandra, mengatakan buah mangrove dapat diolah menjadi tepung untuk berbagai produk makanan olahan, salah satunya pia yang sebelumnya sudah pernah diuji coba.
“Ke depan pohon mangrove ini juga bisa memiliki nilai ekonomi. Kami dari IKABOGA tentu sangat mendukung program ini dan akan terus mengembangkan ide olahan pangan berbahan dasar mangrove,” ungkap Tiwi Tjandra.
Armando dari komunitas Balaram Mangrove Heroes berharap aksi penanaman mangrove tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial semata. Menurutnya, kawasan mangrove di Tanjung Benoa masih membutuhkan perhatian serius agar tetap hijau dan mampu menjaga kawasan pesisir Bali dari ancaman kerusakan lingkungan.
“Harapannya kegiatan seperti ini terus berlanjut, bukan hanya sekali. Mangrove di Tanjung Benoa perlu terus dihijaukan demi menjaga pesisir Bali,” ujarnya.
Aksi penanaman 1.000 mangrove ini menjadi bukti bahwa kepedulian terhadap lingkungan dapat dibangun melalui kolaborasi lintas generasi, komunitas, dan budaya. Dari pesisir Tanjung Benoa, semangat menjaga alam Bali kembali ditegaskan: bahwa masa depan pulau ini juga ditentukan oleh sejauh mana manusianya merawat alam hari ini. (kbs)

