BerandaDaerahBukan Sekadar Tanya Jawab, Dialog Koster–Mahasiswa Bahas Arah Pembangunan Bali

Bukan Sekadar Tanya Jawab, Dialog Koster–Mahasiswa Bahas Arah Pembangunan Bali

Foto: Gubernur Koster saat menghadiri forum “Sang Pewahyu Rakyat” di Auditorium Widya Sabha, Rabu (18/2/2026).

Badung, KabarBaliSatu

Dialog terbuka antara Gubernur Bali Wayan Koster dan mahasiswa Universitas Udayana tidak sekadar menjadi forum tanya jawab. Lebih dari itu, pertemuan tersebut menjelma ruang literasi pembangunan bagi generasi muda Bali.

Forum bertajuk Sang Pewahyu Rakyat yang digelar di Auditorium Widya Sabha, Rabu (18/2/2026), menghadirkan dialog langsung antara pengambil kebijakan dan mahasiswa. Dalam suasana terbuka, mahasiswa diajak memahami arah kebijakan daerah langsung dari pemimpinnya.

Sejumlah isu strategis mencuat dalam diskusi. Mulai dari kemacetan lalu lintas, alih fungsi lahan, tata kelola pariwisata, hingga persoalan sampah yang kian kompleks. Mahasiswa tak hanya melontarkan kritik, tetapi juga menguji argumentasi pemerintah dengan sudut pandang akademik dan data lapangan. Diskusi berlangsung dinamis—kritis, terbuka, dan argumentatif.

Menanggapi berbagai pertanyaan, Koster memaparkan progres regulasi pengendalian alih fungsi lahan serta rencana pembangunan infrastruktur untuk mengurai kemacetan di sejumlah titik padat. Ia juga menjelaskan konsep pembangunan jangka panjang Bali yang bertumpu pada keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, kelestarian lingkungan, dan kearifan lokal.

Bagi mahasiswa, dialog ini menjadi ruang belajar yang konkret tentang bagaimana kebijakan publik dirumuskan. Pembangunan, kata Koster, bukan sekadar janji politik, melainkan proses panjang yang melibatkan perencanaan matang, regulasi, dan pengawasan berlapis dengan partisipasi banyak pihak.

Interaksi tersebut menegaskan peran kampus sebagai ruang dialektika yang sehat dalam demokrasi. Literasi pembangunan tidak hanya lahir dari teori di ruang kuliah, tetapi juga dari diskusi kritis yang mempertemukan gagasan segar generasi muda dengan pengalaman pemimpin daerah.

Melalui dialog terbuka ini, generasi muda Bali didorong menjadi warga yang kritis sekaligus konstruktif. Pembangunan berkelanjutan membutuhkan partisipasi aktif, dan ruang-ruang diskusi seperti ini menjadi fondasi penting dalam membangun kesadaran kolektif tentang masa depan Bali. (kbs)

Berita Lainnya

Berita Terkini