Foto: Ketua DPD Partai Golkar Provinsi Bali, Gde Sumarjaya Linggih atau yang akrab disapa Demer (kiri), Wayan Suyasa (kanan) mantan Ketua DPD Golkar Kabupaten Badung yang kini menjadi Ketua DPW PSI Provinsi Bali.
Denpasar, KabarBaliSatu
Ketua DPD Partai Golkar Provinsi Bali, Gde Sumarjaya Linggih atau yang akrab disapa Demer, angkat bicara terkait keputusan politik Wayan Suyasa—mantan Ketua DPD Golkar Kabupaten Badung—yang memilih hengkang ke Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dan kini menjabat sebagai Ketua DPW PSI Provinsi Bali.
Demer mengaku heran dengan perubahan sikap politik Suyasa. Pasalnya, selama menjadi kader Partai Golkar, Suyasa dinilai telah mendapatkan perlakuan dan kesempatan politik yang sangat baik, bahkan bisa disebut istimewa.
“Kalau soal kesempatan, Golkar sudah memberikan sangat banyak. Jadi wakil ketua sudah, jadi ketua juga sudah. Artinya seluruh kesempatan terbaik sudah diberikan untuk Pak Suyasa,” tegas Demer saat dihubungi Minggu 25 Januari 2026.
Ia memaparkan, selama bernaung di bawah bendera partai berlambang pohon beringin, karier politik Suyasa terbilang moncer. Golkar tidak hanya mempercayainya sebagai Ketua DPD II Golkar Badung, tetapi juga memberikan posisi strategis sebagai Wakil Ketua I DPRD Badung periode 2019–2024. Bahkan, pada Pilkada Serentak 2024 lalu, Suyasa kembali diberikan kesempatan emas dengan diusung sebagai Calon Bupati Badung, meskipun belum berhasil merebut kursi Badung Satu.
Menurut Demer, keputusan Suyasa untuk tidak kembali mencalonkan diri sebagai Ketua Golkar Badung dalam Musda Golkar Badung Oktober 2025 lalu juga sepenuhnya merupakan keputusan pribadi. Tidak ada tekanan, apalagi paksaan dari Partai Golkar.
“Memang beliau nggak mau maju di Musda. Bukan kita yang menyuruh mundur. Karena tidak maju, otomatis kader lain punya kesempatan,” ujarnya.
Bahkan, lanjut Demer, pihaknya masih menunjukkan itikad baik dengan mengajak Suyasa bergabung sebagai pengurus DPD Golkar Provinsi Bali. Namun ajakan tersebut kembali ditolak hingga akhirnya muncul kabar Suyasa “loncat pagar” ke PSI.
“Begitu tidak maju lagi sebagai Ketua Golkar Badung, kita malah ajak jadi pengurus di Golkar Provinsi. Tapi beliau tidak mau. Jadi saya juga tidak tahu apa motivasi beliau pindah ke PSI,” ungkap Demer yang juga Anggota Fraksi Partai Golkar DPR RI Dapil Bali itu.
Demer pun menanggapi pernyataan Suyasa yang mengklaim bergabung ke PSI karena kecintaan terhadap Presiden Ketujuh Republik Indonesia Joko Widodo (Jokowi) dan merasa lebih dihargai di partai barunya. Pernyataan itu, menurut Demer, justru memunculkan tanda tanya besar: apakah artinya selama ini Suyasa merasa tidak dihargai di Golkar?
“Faktanya, semua kesempatan terbaik sudah kita berikan. Dari anggota DPRD Badung, Wakil Ketua DPRD Badung, Ketua Golkar Badung dua kali, sampai calon Bupati Badung. Jadi jangan sampai ada kesan Golkar yang membuang atau menzolimi beliau,” tegas Demer yang juga Anggota Komisi VI DPR RI itu.
Demer juga mengingatkan agar tidak muncul narasi seolah-olah Suyasa menjadi korban atau playing victim demi membenarkan langkah politiknya pindah partai. “Jangan sampai masyarakat menganggap Golkar yang membuang. Faktanya tidak begitu. Kita tidak ada masalah secara organisasi dan kita sudah memberikan yang terbaik. Tapi kalau beliau memilih jalan lain, Golkar juga tidak bisa memaksa,” pungkas wakil rakyat yang sudah lima periode berjuang untuk kepentingan Bali di DPR RI Senayan Jakarta itu.
Ia menegaskan, secara organisasi Partai Golkar Bali tetap solid dan tidak terganggu oleh keputusan politik individu. Golkar, kata Demer, tetap menghormati pilihan politik siapa pun, namun menolak keras anggapan bahwa partai telah berlaku tidak adil terhadap kader yang justru dibesarkan oleh Golkar sendiri. (kbs)

