BerandaTop NewsWujudkan Pemerataan Ekonomi, Demer Dukung Penuh Program MBG, Sebut Gagasan Presiden Prabowo...

Wujudkan Pemerataan Ekonomi, Demer Dukung Penuh Program MBG, Sebut Gagasan Presiden Prabowo Sangat Cerdas dan Visioner

Dorong SPPG Dikelola Pengusaha Lokal, Jangan Dikuasai Pengusaha Jakarta!

Foto: Anggota Komisi VI DPR RI Fraksi Partai Golkar Dapil Bali, Gde Sumarjaya Linggih (Demer) yang juga Ketua DPD Partai Golkar Bali (kiri) saat kegiatan sosialisasi dan edukasi bertajuk “Mewujudkan Kehamilan Sehat Dalam Menyiapkan Generasi Emas Bebas Stunting” di Wantilan Sekretariat DPD Partai Golkar Provinsi Bali, Jumat (28/2/2026).

Denpasar, KabarBaliSatu

Anggota Komisi VI DPR RI Fraksi Partai Golkar Dapil Bali, Gde Sumarjaya Linggih atau yang akrab disapa Demer, menegaskan dukungan penuhnya terhadap program unggulan Presiden Prabowo Subianto, yakni Makan Bergizi Gratis (MBG).

Dukungan itu disampaikan Demer yang juga Ketua DPD Partai Golkar Bali saat ditemui di sela-sela kegiatan sosialisasi dan edukasi bertajuk Mewujudkan Kehamilan Sehat Dalam Menyiapkan Generasi Emas Bebas Stunting” di Wantilan Sekretariat DPD Partai Golkar Provinsi Bali, Jumat (28/2/2026).

Menurut Demer, program MBG merupakan gagasan yang visioner dari Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dan menjawab persoalan mendasar bangsa, yakni rendahnya literasi gizi di tengah masyarakat.

“MBG ini adalah suatu hal yang sangat cerdas yang dipikirkan oleh Pak Prabowo. Kita tahu di Indonesia belum semua memahami bagaimana ilmu gizi, bagaimana makanan bergizi itu, bagaimana memberikan nutrisi yang tepat kepada anak-anak agar perkembangan otak dan fisiknya optimal. Itu pemikiran yang luar biasa,” ujar Demer.

Strategi Menuju Indonesia Emas 2045

Program Makan Bergizi Gratis merupakan salah satu langkah strategis dalam mewujudkan visi Indonesia Emas 2045. MBG menjadi bagian dari misi Asta Cita yang menitikberatkan pada penguatan pembangunan sumber daya manusia (SDM).

Secara konkret, program ini menyasar kelompok rentan seperti balita, anak-anak, ibu hamil, dan ibu menyusui. Tujuannya jelas: menekan angka malnutrisi dan stunting yang masih menjadi tantangan serius di Indonesia.

Melalui pemenuhan kebutuhan gizi harian yang sesuai dengan standar Angka Kecukupan Gizi (AKG), MBG diharapkan mampu mendorong tumbuh kembang anak secara optimal sekaligus meningkatkan kualitas pendidikan nasional.

Bagi Demer, investasi pada gizi adalah investasi jangka panjang bagi daya saing bangsa. “Kalau gizinya terpenuhi, anak-anak kita tumbuh sehat, otaknya berkembang maksimal, maka kualitas SDM kita akan jauh lebih baik,” tegas wakil rakyat yang sudah lima periode berjuang sebagai Anggota DPR RI itu.

Dampak Ekonomi Harus Dirasakan Daerah

Tak hanya menyoroti aspek kesehatan dan pendidikan, Demer juga menggarisbawahi dampak ekonomi dari implementasi program MBG.

Sebagai wakil rakyat yang berlatar belakang pengusaha, ia menilai MBG berpotensi besar mendorong pemerataan ekonomi, membuka lapangan kerja baru, serta mengangkat potensi lokal di setiap daerah.

Ia menyoroti peran Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), unit dapur komunitas yang dibentuk oleh Badan Gizi Nasional (BGN) untuk mengelola dan mendistribusikan MBG. Menurutnya, pengelolaan SPPG seharusnya lebih banyak melibatkan pengusaha lokal.

“Yang banyak kritisi, banyak SPPG di daerah yang justru dimiliki oleh pengusaha dari Jakarta. Akibatnya, perkembangan ekonominya kurang terasa di beberapa tempat. Kalau bisa, dapur-dapurnya dimiliki dan dikelola oleh orang lokal,” ungkap Demer.

Ia menegaskan, pelibatan pengusaha daerah akan memastikan manfaat MBG tidak hanya dirasakan oleh anak-anak penerima manfaat, tetapi juga berdampak langsung pada penguatan ekonomi setempat.

“Sehingga nantinya benar-benar dampaknya tidak hanya pada anak, tapi juga kepada perekonomian di daerah tersebut. Gunanya apa? Gunanya pemerataan ekonomi,” tegas Ketua DPD Partai Golkar Bali itu.

Sinergi Gizi dan Ekonomi

Demer berharap implementasi MBG ke depan tidak sekadar menjadi program bantuan sosial, melainkan gerakan nasional yang terintegrasi antara peningkatan kualitas SDM dan pemberdayaan ekonomi rakyat.

Baginya, keberhasilan program ini akan sangat ditentukan oleh tata kelola yang transparan, tepat sasaran, serta keberpihakan pada potensi lokal.

“Kalau kita ingin Indonesia benar-benar maju pada 2045, maka kita harus mulai dari kandungan, dari gizi anak-anak kita, dan dari ekonomi rakyat kita sendiri,” pungkasnya. (kbs)

 

Berita Lainnya

Berita Terkini