BerandaDaerahWajah Baru PKB XLVIII 2026: Panggung Budaya yang Inklusif, Edukatif, dan Merawat...

Wajah Baru PKB XLVIII 2026: Panggung Budaya yang Inklusif, Edukatif, dan Merawat Lingkungan

​"Libatkan Anak-Anak & Penyandang Disabilitas" Serta Gaungkan "Gerakan Pawai Bersih: Sampah Langsung Dipungut di Tempat"

Foto: Penampilan seniman Duta Kabupaten/Kota se-Bali dalam peed Aya (pawai) Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII tahun 2026.

 

Denpasar, KabarBaliSatu

Pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII Tahun 2026 mencatatkan sejarah baru dalam peta festival budaya di Tanah Air. Mengusung tema filosofis “Atma Kerthi: Jiwa Sidha Parisudha” yang bermakna memuliakan jiwa yang paripurna, ajang tahunan ini tidak sekadar menjadi etalase pelestarian seni tradisional, melainkan menjelma sebagai ruang publik yang inklusif, edukatif, dan sangat peduli terhadap kelestarian lingkungan.

​Kemegahan dan kesuksesan luar biasa PKB tahun ini tidak lepas dari visi besar dan kepemimpinan visioner Gubernur Bali, Wayan Koster. Di bawah arahannya, pelaksanaan Pesta Kesenian Bali yang kini menginjak usia ke-48 tampil jauh lebih meriah, bernilai edukatif tinggi, serta benar-benar memberdayakan para seniman lokal. Kebijakan strategis beliau berhasil menempatkan seniman sebagai pilar utama, sekaligus mentransformasi festival ini menjadi perhelatan kebudayaan modern yang tetap mengakar kuat pada tradisi luhur.

​Nuansa segar langsung terasa sejak parade Peed Aya (pawai) dimulai. Berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, seluruh kontingen dari sembilan kabupaten dan kota se-Bali secara kompak memberikan ruang yang sangat luas bagi keterlibatan seniman cilik. Langkah ini dipandang sebagai angin segar bagi keberlanjutan tradisi di Pulau Dewata. Kota Denpasar, misalnya, tampil mencuri perhatian dengan menerjunkan jumlah peserta anak-anak terbanyak. Kehadiran para seniman cilik ini seolah menegaskan bahwa estafet kepemimpinan budaya Bali berada di tangan generasi yang tepat.

​Tidak hanya menjadi milik seniman senior, PKB 2026 membuktikan diri sebagai panggung yang ramah dan setara bagi semua kalangan. Semangat inklusivitas yang menyentuh hati digelorakan oleh Duta Kabupaten Badung.

​Secara khusus, Kabupaten Badung mengikutsertakan seniman anak-anak penyandang disabilitas untuk tampil langsung dalam barisan pawai atau Peed Aya PKB ke-48. Penampilan memukau dari para seniman cilik berkebutuhan khusus ini memantik rasa haru sekaligus decak kagum dari ribuan pasang mata penonton yang memadati jalur pawai. Kehadiran mereka membuktikan bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk mencintai dan merawat seni budaya Bali.

​Kondisi Ini adalah wujud nyata dari tema Atma Kerthi sekaligus buah dari kebijakan Gubernur yang inklusif. Memuliakan jiwa berarti menghargai setiap manusia tanpa sekat. Seni dan budaya Bali adalah milik bersama, termasuk anak-anak difabel.

​Di sisi lain, pawai PKB tahun ini juga efektif menjadi media penyampai pesan program strategis daerah yang edukatif. Kontingen Pemerintah Kabupaten Tabanan dengan cerdas menyisipkan edukasi kependudukan lokal lewat dukungan penuh terhadap program KB Bali dengan empat anak (KB Krama Bali) yang digulirkan oleh Gubernur Bali, Wayan Koster.

​Kehadiran visualisasi keluarga dengan empat anak dalam barisan pawai Tabanan menjadi simbol kebanggaan atas identitas keluarga ideal masyarakat Bali yang terus dipertahankan demi ajegnya budaya Bali di masa depan.

​Inovasi paling radikal dan mendapat apresiasi luar biasa dari publik adalah penerapan konsep zero waste sepanjang jalannya pawai. Jika festival besar biasanya identik dengan tumpukan sampah pasca-acara, PKB ke-48 mematahkan stigma tersebut.

​Kabupaten Tabanan bersama kontingen lainnya memelopori aksi “pentas bersih”. Begitu pertunjukan seni dari suatu kontingen selesai, para seniman beserta tim kebersihan langsung memungut setiap sampah yang tercecer di tempat pementasan secara langsung.Aksi tanggap lingkungan ini membuat jalur pawai tetap bersih, estetis, dan tidak menyisakan beban pencemaran lingkungan.

​Aksi bersih-bersih spontan ini selaras dengan semangat PKB tahun ini yang melibatkan puluhan ribu seniman serta ratusan pelaku IKM dan UMKM, di mana kedisiplinan menjaga kebersihan lingkungan menjadi indikator utama peningkatan kualitas festival. Di bawah kepemimpinan Gubernur Wayan Koster, PKB XLVIII tahun 2026 sukses membuktikan bahwa kemegahan budaya, pemberdayaan seniman, dan pelestarian alam bisa berjalan beriringan secara harmoni. (kbs)

Berita Lainnya

Berita Terkini