Foto: Suasana pelatihan pembuatan eco-enzyme dan budidaya maggot di Kantor Lurah Penatih pada Jumat (6/11/2026).
Denpasar, KabarBaliSatu
Universitas Warmadewa (Unwar) mengambil langkah konkret untuk mengurai kompleksitas krisis lingkungan melalui keikutsertaan dalam Program Aksara yang didanai oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek). Langkah ini diwujudkan lewat pelatihan pembuatan eco-enzyme dan budidaya maggot di Kantor Lurah Penatih pada Jumat (6/11/2026).
Direktur Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DPPM) Unwar, Dr. Partiwi Dwi Astuti, SE, MSi, Ak, CA, menjelaskan bahwa inisiatif ini dirancang agar sivitas akademika tidak hanya berteori di dalam ruang kelas. Saat menyampaikan arahannya pada pembukaan pelatihan tersebut, ia menegaskan bahwa tujuan utama kegiatan ini adalah agar mahasiswa bersama dosen pendamping dapat menghadirkan solusi atas permasalahan riil di masyarakat berbasis ilmu pengetahuan, teknologi, dan inovasi.
“Kondisi kita saat ini menunjukkan bahwa pembangunan nasional menghadapi begitu banyak permasalahan yang muncul, dan salah satunya adalah persoalan terkait pengelolaan sampah,” ujar Partiwi di hadapan para warga dan peserta pelatihan.
Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa program ini memberikan ruang luas bagi mahasiswa untuk belajar langsung di luar kampus melalui kegiatan organisasi kemahasiswaan. Pembelajaran tidak lagi terbatas pada batas-batas ruang kuliah, melainkan diperluas ke tengah masyarakat guna mengasah kepemimpinan, kepekaan sosial, serta kepedulian bersama.
“Melalui kolaborasi erat antara mahasiswa, dosen pendamping lapangan, pemerintah daerah, mitra, dan masyarakat, pembelajaran tidak hanya berlangsung di dalam kelas saja, melainkan juga di luar kampus,” tambahnya.
Respon terhadap tantangan lingkungan tersebut juga sejalan dengan peluncuran dua program utama oleh kementerian terkait pada tahun ini, yakni Program Aksara Peduli dan Program Aksara Sirkular. Program Aksara Peduli secara khusus memfokuskan perhatian pada sektor energi, kesehatan, pangan, dan bidang strategis lainnya dengan sasaran wilayah tertentu di seluruh nusantara. Pendekatan tematik ini memastikan bahwa intervensi yang diberikan oleh institusi pendidikan tinggi benar-benar tepat sasaran dan sesuai dengan kebutuhan lokal.
Permasalahan sampah yang masif secara nasional dalam beberapa waktu terakhir membuktikan bahwa penanganannya tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah semata. Keterlibatan aktif dari seluruh elemen masyarakat serta kalangan akademisi menjadi kunci utama dalam memutus rantai darurat sampah. Mahasiswa sebagai bagian integral dari lingkungan intelektual diharapkan mampu bertindak sebagai agen perubahan yang membawa angin segar bagi penyelesaian persoalan publik.
Sebagai wujud implementasi di lapangan, tim dari Unwar menggandeng puluhan mahasiswa serta tiga dosen pendamping untuk menggodok proposal program pengelolaan sampah yang aplikatif. Kelurahan Penatih kemudian dipilih sebagai wilayah mitra strategis dalam menjalankan program pengabdian. Pelatihan pembuatan eco-enzyme dan budidaya maggot menjadi bagian dari Program Aksara Mahasiswa Berdampak yang diimplementasikan. Pelatihan ini menghadirkan dua narasumber teknis dari Pusat Pengendalian Lingkungan Hidup Bali dan Nusa Tenggara, yakni I Gusti Ayu Primandari Utami, S.Si. dan I Ketut Aditya Krisna Laharjana, S.Kel. Dalam pemaparannya, Krisna menyampaikan bahwa pembuatan eco-enzyme dan budidaya maggot dapat menjadi solusi paling praktis untuk mengurangi volume sampah rumah tangga di Kelurahan Penatih, mengingat hampir 40 persen dari total sampah di Kota Denpasar selama ini didominasi oleh sisa makanan.
Pengolahan sampah menjadi eco-enzyme dan budidaya maggot tersebut sejalan dengan capaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama terkait penanganan perubahan iklim. Pengurangan tumpukan sampah organik dari sumbernya secara langsung menekan potensi pelepasan emisi gas rumah kaca ke atmosfer, khususnya gas metana (CH4) yang dihasilkan dari proses pembusukan anaerobik di tempat pembuangan akhir.
Menanggapi kolaborasi tersebut, Lurah Penatih, I Made Larayasa, S.Sos., menyampaikan apresiasi mendalam atas inisiatif yang dihadirkan oleh perguruan tinggi di wilayahnya. Ia menyatakan bahwa kehadiran program ini sangat sejalan dengan fasilitas pengelolaan yang telah tersedia di daerahnya.
“Kami memiliki TPS 3R Nirmala Saba, dan program pelatihan ini sesuai dengan kebutuhan kami di mana sampah yang selama ini belum terkelola apabila dijadikan eco-enzyme atau digunakan dalam budidaya maggot akan sangat bermanfaat,” ungkapnya.
Ia juga menambahkan bahwa kedua metode tersebut merupakan bagian penting dari penguatan program kampung iklim di wilayahnya yang telah meraih penghargaan Proklim Utama, sekaligus menjadi langkah mitigasi nyata dalam mengantisipasi perubahan iklim.
Pihak universitas memastikan bahwa pendampingan kepada masyarakat tidak akan berhenti sekadar pada kegiatan pembukaan pelatihan semata. Ke depannya, jejaring koordinasi dan kolaborasi riset maupun pengabdian masyarakat akan terus dijaga secara berkesinambungan bersama aparatur kelurahan setempat. Komitmen berkelanjutan ini diharapkan mampu menjadikan Kelurahan Penatih sebagai percontohan kawasan mandiri pengelola sampah berbasis inovasi teknologi tepat guna. (kbs)

