Foto: Gubernur Bali Wayan Koster didampingi Bupati Klungkung I Made Satria memimpin penanaman 1.000 bibit kelapa daksina di Embung Tukad Unda, Desa Gunaksa, Kecamatan Dawan, Klungkung, Jumat (27/2/2026).
Klungkung, KabarBaliSatu
Gubernur Bali Wayan Koster didampingi Bupati Klungkung I Made Satria memimpin penanaman 1.000 bibit kelapa daksina di Embung Tukad Unda, Desa Gunaksa, Kecamatan Dawan, Klungkung, Jumat (27/2/2026).
Kegiatan yang diinisiasi DPD Perbarindo Bali ini menjadi bagian dari peringatan Hari BPR-BPRS Nasional 2026, sekaligus wujud kolaborasi sektor jasa keuangan dalam mendukung pelestarian lingkungan dan budaya Bali.
Turut hadir Deputi Direktur Pengawasan Lembaga Jasa Keuangan 1 Kantor OJK Provinsi Bali, YB Handaru Purnasakti, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi Bali I Wayan Sunada, Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali-Penida Gunawan Suntoro, Kepala Dinas PUPR Kabupaten Klungkung I Made Jati Laksana, Kepala Dinas LHP Kabupaten Klungkung, serta jajaran pimpinan BPR-BPRS se-Bali.
Kelapa Daksina dan Strategi Kendali Inflasi
Gubernur Koster mengapresiasi langkah Perbarindo Bali yang dinilainya selaras dengan visi pembangunan daerah. Menurutnya, kelapa daksina merupakan kebutuhan pokok dalam pelaksanaan upakara pada hari-hari suci di Bali, seperti Galungan, Kuningan, Purnama, Tilem, Pagerwesi, Saraswati hingga rangkaian Panca Yadnya.
Tingginya permintaan saat hari raya keagamaan kerap memicu lonjakan harga. Karena itu, penanaman kelapa daksina dinilai menjadi bagian dari strategi menjaga ketahanan pangan berbasis kearifan lokal sekaligus pengendalian inflasi daerah.
“Sudah seharusnya Bali mandiri pangan dan berdaulat dalam memenuhi kebutuhan dasar upacara. Ini bagian dari upaya menjaga keseimbangan alam, manusia, dan budaya,” ujar Koster, merujuk pada visi pembangunan Nangun Sat Kerthi Loka Bali.
Perbarindo: Ekonomi Tumbuh, Lingkungan Terjaga
Ketua BPR Bali I Ketut Komplit, S.H., menegaskan bahwa gerakan ini merupakan wujud gotong royong industri BPR-BPRS melalui wadah Perbarindo Bali. Penanaman 1.000 bibit kelapa daksina menjadi simbol kepedulian terhadap kelestarian adat dan lingkungan.
Menurutnya, Bali memiliki keunikan budaya yang menjadi fondasi utama pariwisata. Ketika budaya dan lingkungan terjaga, sektor pariwisata akan terus berkembang dan berdampak pada pertumbuhan ekonomi daerah yang saat ini berada di atas rata-rata nasional.
Ia juga mengungkapkan bahwa pemilihan kelapa daksina didasarkan pada pengalaman kelangkaan dan tingginya harga komoditas tersebut beberapa waktu lalu. Kini tersedia varietas bibit yang mampu berbuah dalam 2–3 tahun tanpa perlu dipanjat, sehingga lebih efisien dan aman.
Perbarindo Bali berharap pohon-pohon yang ditanam di kawasan Embung Tukad Unda itu dapat segera berbuah dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat adat, pura, serta kebutuhan upacara di Bali.
OJK: Simbol Keberlanjutan
Deputi Direktur Pengawasan LJK 1 Kantor OJK Provinsi Bali, YB Handaru Purnasakti, turut mengapresiasi aksi lingkungan tersebut.
Menurutnya, langkah Perbarindo Bali menunjukkan bahwa industri jasa keuangan tidak hanya berorientasi pada aspek finansial, tetapi juga pada keberlanjutan lingkungan dan budaya.
“Ini aksi nyata keberlanjutan. Sinergi OJK dan Perbarindo Bali tidak hanya dalam penguatan sektor keuangan, tetapi juga dalam menjaga lingkungan,” ujarnya.
Ia menambahkan, kelapa daksina memiliki nilai filosofis sebagai simbol kehidupan, sekaligus mencerminkan komitmen BPR-BPRS terhadap pembangunan yang berkelanjutan dan berakar pada kearifan lokal Bali. (kbs)

