Foto: President The Rudana Art Institution yang juga Ketua Umum Asosiasi Museum Indonesia, Putu Supadma Rudana (PSR).
Ubud, KabarBaliSatu
Di tengah upaya memperkuat identitas budaya nasional, President The Rudana Art Institution yang juga Ketua Umum Asosiasi Museum Indonesia, Putu Supadma Rudana (PSR) menegaskan bahwa museum bukan sekadar ruang penyimpanan artefak, melainkan pusat peradaban dan sumber inspirasi pembangunan bangsa.
Pernyataan itu disampaikannya saat berbicara kepada media di Museum Rudana, yang berada di bawah naungan The Rudana Art Institution.
Menurut Supadma Rudana, Museum Rudana merupakan representasi nyata bagaimana seni dan budaya dapat diinstitusionalisasikan secara utuh. Museum yang diresmikan oleh Presiden Soeharto pada 26 Desember 1995 itu dibangun dengan filosofi Bali, yakni Tri Hita Karana—harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta—serta Tri Angga yang tercermin dalam struktur bangunan.
“Di sini kita tidak hanya bicara tentang koleksi, tetapi juga tentang filosofi hidup. Museum ini adalah ruang yang menghidupkan nilai-nilai tersebut,” ujar Supadma Rudana yang dijuluki “Mr. Sinergi” dan “Mr. Excellence” oleh sejumlah tokoh ini.
Museum Rudana sendiri menyimpan lebih dari 500 karya seni, dengan penekanan pada karya tradisional Bali dari para maestro lokal. Secara keseluruhan, institusi ini menampilkan karya dari ratusan hingga ribuan seniman, menjadikannya salah satu pusat seni rupa yang penting di Bali.
Tak hanya museum, The Rudana Art Institution juga menaungi berbagai unit lain, mulai dari galeri seni, yayasan, hingga pusat riset dan dokumentasi bernama Destar. Seluruhnya dirancang sebagai ekosistem yang mendorong kolaborasi lintas sektor melalui konsep penta helix—melibatkan pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, dan media.
Supadma Rudana menekankan bahwa kebudayaan harus menjadi fondasi dalam berbagai sektor pembangunan. Dalam bidang ekonomi, misalnya, ia mendorong lahirnya ekonomi berbasis budaya yang tidak eksploitatif, melainkan menciptakan nilai bersama atau win-win solution.
Di ranah politik, ia mengusung konsep politik berkebudayaan yang menjunjung meritokrasi dan membangun sistem berbangsa yang beretika. Sementara dalam sektor pertahanan, ia melihat budaya sebagai kekuatan non-fisik yang mampu memperkuat semangat menjaga keutuhan NKRI, melampaui sekadar kekuatan alat utama sistem persenjataan.
Hal serupa juga berlaku di bidang pendidikan. Supadma menilai pendidikan berbasis budaya tidak hanya mengasah intelektualitas, tetapi juga membangun rasa, estetika, dan pemahaman yang lebih luas tentang kehidupan.
“Pada akhirnya, kebudayaan adalah jiwa dari seluruh pembangunan. Dan museum adalah rumah tertinggi—rumah abadi—tempat semua nilai itu dirawat dan diwariskan,” tegas mantan Anggota DPR RI Dapil Bali 2 periode itu.
Dengan pendekatan ini, ia berharap museum di Indonesia tidak hanya menjadi ruang statis, tetapi juga ruang hidup yang terus menginspirasi, mengedukasi, dan menggerakkan peradaban bangsa ke depan. (kbs)

