BerandaPolitikSugawa Korry Negarawan Sejati, Tunduk Keputusan DPP Soal Posisi Ketua Golkar Bali

Sugawa Korry Negarawan Sejati, Tunduk Keputusan DPP Soal Posisi Ketua Golkar Bali

Tak Ingin Musda Jadi Ajang Perpecahan Partai

Foto: Ketua DPD Partai Golkar Provinsi Bali, Dr. Nyoman Sugawa Korry.

Denpasar, KabarBaliSatu

Dinamika internal Partai Golkar Bali kembali mengemuka usai agenda Musyawarah Daerah (Musda) XI yang semula dijadwalkan pada 23 Mei 2025 di Nusa Dua, resmi ditunda. Ketua Steering Committee Musda, Dewa Made Suamba Negara, menjelaskan bahwa penundaan ini terjadi karena Ketua Umum DPP Partai Golkar, Bahlil Lahadalia, berhalangan hadir. Diketahui, Bahlil memiliki komitmen kuat untuk turut menyaksikan langsung Musda di berbagai daerah, termasuk Bali.

Penundaan ini tidak hanya membawa implikasi teknis, tetapi juga memantik riak kecil dalam dinamika politik internal. Namun, di tengah situasi tersebut, Ketua DPD Partai Golkar Provinsi Bali, Dr. Nyoman Sugawa Korry, memilih untuk bersikap tenang, rasional, dan menunjukkan jiwa besar sebagai seorang kader sejati.

Dalam pernyataan resminya, di kegiatan Pendidikan Politik Kader Partai Golkar bertajuk “Golkar Solid, Bali Jaya, Indonesia Maju”, Sabtu (14/6/2025) di Wantilan Sekretariat DPD Partai Golkar Bali, Denpasar, Sugawa Korry dengan tegas menyatakan sikap patuh terhadap garis kebijakan partai. Ia menegaskan bahwa komitmennya tidak pernah berubah, yakni tunduk sepenuhnya pada keputusan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar.

“Menjelang kita mengadakan Musda. Komitmen kami, Sugawa Korry adalah tetap acuannya adalah DPP. Ketika DPP memerintahkan apapun, langsung melalui Ketua Umum, saya pasti akan tunduk. Dan itu juga sudah saya sampaikan kepada Bapak Ketua Umum,” ujarnya.

Sugawa Korry juga menyinggung bahwa baginya, pelaksanaan Musda bukan ajang perebutan kekuasaan yang dapat mengorbankan soliditas partai. Ia tak ingin sejarah kelam terulang, di mana konflik internal justru melemahkan basis-basis strategis Golkar di berbagai daerah.

“Kami tidak ingin partai ini karena penghelatan, misalnya Musda, kita menjadi terpecah belah. Itu hal yang saya tidak harapkan,” tegasnya.

Ia pun mengingatkan para kader akan pentingnya belajar dari masa lalu. Sugawa Korry menyebut bahwa saat Golkar meminggirkan tokoh-tokoh seperti Cokorda Gde Budi Suryawan (CBS) di Gianyar, I Wayan Geredeg di Karangasem, hingga I Ketut Sudikerta di Badung Selatan, dampaknya sangat terasa, hilangnya basis suara dan fragmentasi kader di akar rumput.

“Saya tidak ingin mengulang lagi persoalan ketika kita menyingkirkan Pak CBS, kita kehilangan basis kita di Gianyar. Ketika kita menyingkirkan Pak Gredeg, kita mengurangi basis kita di Karangasem. Ketika kita juga menyingkirkan Pak Sudikerta, Badung Selatan juga bergolak. Kita tidak ingin terjadi hal seperti itu. Yang paling baik adalah mari kita berjalan seiring-seirama untuk kebesaran Golkar, bukan untuk kebesaran kita masing-masing,” paparnya.

Dalam forum resmi itu, Sugawa Korry juga membuka alasan mengapa dirinya memilih untuk tidak menanggapi isu-isu liar yang berkembang di media. Ia menilai bahwa merespons melalui ruang publik hanya akan memperkeruh suasana. Sebagai kader senior dan Ketua DPD Golkar Bali, Sugawa Korry lebih memilih fokus menjalankan mekanisme partai secara tertib dan berdisiplin.

“Dan sekali lagi kami sampaikan kepada kader melalui forum yang terhormat ini, kenapa selama ini saya tidak pernah merespon di media, saya tidak ingin memperkeruh suasana. Saya tetap komit bagaimana mekanisme partai dijalankan, dan saya akan tunduk kepada apa yang menjadi keputusan ketua umum DPP Partai Golkar,” pungkasnya.

Untuk diketahui, hingga saat ini terdapat dua nama kuat yang mencuat dalam bursa calon Ketua DPD Partai Golkar Provinsi Bali. Keduanya adalah tokoh senior partai berlambang pohon beringin yang telah malang melintang di kancah politik Bali maupun nasional, Dr. I Nyoman Sugawa Korry dan Gde Sumarjaya Linggih, yang akrab disapa Demer.

Keduanya dikenal memiliki rekam jejak panjang dalam membesarkan Partai Golkar di Pulau Dewata. Sugawa Korry saat ini masih menjabat sebagai Ketua DPD Golkar Bali, sementara Demer, merupakan Anggota DPR RI Dapil Bali dari Partai Golkar selama lima periode.

Ajang ini tidak hanya menjadi penentuan figur ketua, tetapi juga penentu arah masa depan Partai Golkar Bali lima tahun ke depan. Yang dibutuhkan bukan sekadar siapa yang menang, melainkan siapa yang mampu menyatukan, menguatkan, dan mengibarkan kembali panji kejayaan Golkar di tanah Bali. (kbs)

Berita Lainnya

Berita Terkini