BerandaDaerahSTIE Satya Dharma Bersinergi dengan HIPPI Bali Hadirkan Genposting

STIE Satya Dharma Bersinergi dengan HIPPI Bali Hadirkan Genposting

Generasi Positive Thinking Siap Songsong Indonesia Emas 2045

Foto: STIE Satya Dharma Singaraja bersinergi dengan HIPPI Provinsi Bali, menghadirkan Genposting melalui Seminar Lingkungan Sehat, Digital Aman: Membangun Tumbuh Kembang Anak Buleleng Berkualitas pada 9 Desember 2025 di Kampus STIE Satya Dharma Singaraja.

Buleleng, KabarBaliSatu

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Satya Dharma Singaraja bersinergi dengan Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) Provinsi Bali, menghadirkan Genposting atau Generasi Positive Thinking melalui Seminar Lingkungan Sehat, Digital Aman: Membangun Tumbuh Kembang Anak Buleleng Berkualitas pada 9 Desember 2025 di Kampus STIE Satya Dharma Singaraja. Kegiatan ini mendapat dukungan penuh dari Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), Forum Komunikasi Dosen (FKD) Provinsi Bali, serta sejumlah lembaga dan organisasi lainnya.

Kegiatan ini bertujuan mendorong pemanfaatan teknologi secara aman dan positif bagi generasi muda.

Hadir dalam kegiatan tersebut Ketua STIE Satya Dharma Singaraja, Dr. Ni Nyoman Juli Nuryani, Ketua Umum HIPPI Bali, Dr. Gung Tini Gorda, perwakilan FKD Bali, serta para tamu undangan lainnya.

Seminar ini menghadirkan tiga narasumber utama yang masing-masing mewakili bidang pendidikan, kesehatan digital, dan komunikasi strategis. Anak Agung Mia Intenttilia, S.IP., M.A., dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Humaniora Undiknas Denpasar, memaparkan pentingnya pembentukan lingkungan sehat yang mendukung tumbuh kembang anak. Kadek Pande Yulia, Ketua Bidang Pendidikan, Digital, dan Kesehatan HIPPI Bali, menyoroti literasi digital sebagai fondasi perlindungan anak di era teknologi. Narasumber ketiga, Yudi Syahrial, Ketua Tim Kelembagaan Strategis Kementerian Komunikasi dan Digital, menjelaskan arah kebijakan penguatan literasi digital nasional serta urgensi membangun budaya digital yang aman.

Pada kesempatan tersebut, STIE Satya Dharma menerima penghargaan dari Forum Komunikasi Dosen (FKD) Bali sebagai bentuk apresiasi atas partisipasi aktif dan kontribusi kampus dalam kolaborasi Tri Dharma Perguruan Tinggi bersama FKD Bali.

FKD Bali menilai STIE Satya Dharma memiliki komitmen kuat dalam menjalin sinergi melalui pelaksanaan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Semangat kolaborasi ini menjadi langkah strategis untuk meningkatkan kualitas pendidikan tinggi sekaligus memperluas dampak kebermanfaatan di lingkungan akademik Bali.

Kegiatan ini juga menghadirkan presentasi mengenai alat-alat kesehatan yang disampaikan oleh DPC HIPPI Gianyar sebagai upaya memperluas wawasan peserta terkait pentingnya fasilitas penunjang kesehatan dalam mendukung tumbuh kembang anak.

Gerakan Genposting diharapkan dapat memperkuat pesan bahwa pemanfaatan teknologi harus diarahkan pada pola pikir yang positif dan produktif, sekaligus menegaskan komitmen untuk menciptakan lingkungan yang mendukung tumbuh kembang anak Buleleng secara fisik, sosial, dan digital.

Melalui seminar ini, ditekankan pula pentingnya membekali generasi muda dengan kecakapan digital agar mampu memanfaatkan teknologi secara bijak serta dapat membedakan informasi yang kredibel di tengah derasnya arus konten digital, khususnya dalam menyongsong Indonesia Emas 2045.

Ketua STIE Satya Dharma Singaraja, Dr. Ni Nyoman Juli Nuryani, menegaskan komitmen kampus dalam mendukung perlindungan anak melalui penyelenggaraan Seminar Lingkungan Sehat, Digital Aman: Membangun Tumbuh Kembang Anak Buleleng Berkualitas. Menurutnya, terselenggaranya seminar ini menjadi bentuk kehormatan tersendiri bagi STIE Satya Dharma. “Ini adalah kehormatan bagi kami karena dipercaya menjadi tuan rumah Genposting,” ujarnya.

Dr. Ni Nyoman Juli Nuryani menyampaikan bahwa seminar ini menjadi momentum penting untuk memperkuat komitmen bersama dalam melindungi anak di tengah perkembangan teknologi dan perubahan sosial yang semakin cepat. Ia menilai generasi muda saat ini menghadapi peluang besar, namun juga risiko yang tidak dapat diabaikan, seperti kondisi lingkungan yang kurang sehat, paparan hoaks, kejahatan siber, eksploitasi, dan kecanduan media sosial. “Risiko digital semakin kompleks, sehingga kita harus lebih waspada,” tegasnya.

Ia menjelaskan bahwa pemerintah telah menjalankan berbagai program perlindungan anak, termasuk Family Based Care. “Pendekatan berbasis keluarga menjadi kunci untuk memperkuat ekosistem perlindungan,” jelasnya. Dalam konteks ini, lembaga pendidikan disebut memiliki peran strategis dalam membentuk karakter dan kecakapan digital generasi muda.

Sebagai institusi pendidikan, STIE Satya Dharma Singaraja berkomitmen menjadi mitra strategis dalam menciptakan lingkungan sosial dan ruang digital yang aman serta ramah anak. Dr. Ni Nyoman Juli Nuryani menegaskan bahwa pendidikan tidak hanya bertujuan mencerdaskan, tetapi juga memastikan rasa aman, kenyamanan, serta pembentukan mental yang sehat agar anak-anak mampu memanfaatkan teknologi secara bijak. “Pendidikan harus mampu menciptakan rasa aman bagi anak,” tambahnya.

Dalam kegiatan tersebut, Dr. Ni Nyoman Juli Nuryani juga menyampaikan bahwa STIE Satya Dharma telah menjalin sinergi dengan masyarakat, khususnya di Kelurahan Kendran. Pada 1 Mei 2025, kampus bersama masyarakat setempat meluncurkan Prototipe Ruang Bersama Indonesia Mandiri yang diresmikan oleh Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Veronica Tan. “Inisiatif ini adalah bentuk kontribusi nyata kami bagi masyarakat,” katanya.

Seminar ini juga menjadi bagian dari dukungan kampus terhadap berbagai program edukasi di Kelurahan Kendran, terutama dalam pembinaan anak-anak agar mampu memanfaatkan media digital secara sehat dan bertanggung jawab. Dr. Ni Nyoman Juli Nuryani berharap program-program kementerian ke depan dapat terus dilaksanakan di STIE Satya Dharma Singaraja. “Kami siap menjadi tuan rumah kembali untuk program-program edukasi berikutnya,” ujarnya.

Melalui kegiatan ini, STIE Satya Dharma menegaskan pentingnya kolaborasi keluarga, lembaga pendidikan, dan masyarakat untuk mengawal generasi muda menjadi generasi yang berkualitas, berkarakter, dan berdaya saing.

Suasana seminar berlangsung sangat atraktif, dengan para narasumber menyampaikan berbagai wawasan yang dinilai sangat bermanfaat bagi peserta, khususnya mahasiswa STIE Satya Dharma Singaraja. Narasumber pertama, Anak Agung Mia Intenttilia, S.IP., M.A., memfokuskan materinya pada pentingnya literasi digital bagi generasi muda. “Kesadaran digital harus dimulai dari diri sendiri, terutama dalam mengatur durasi penggunaan media sosial,” katanya.

Dalam pemaparannya, ia menekankan perlunya kesadaran terhadap durasi penggunaan media sosial sehari-hari sebagai langkah awal mencegah kecanduan digital. Ia mengingatkan bahwa pola penggunaan media sosial yang berlebihan dapat ditiru oleh anggota keluarga yang lebih muda sehingga diperlukan kedisiplinan dalam membatasi akses.

Gung Mia juga mengajak peserta memanfaatkan media sosial secara positif melalui pembuatan konten kreatif. Ia menegaskan bahwa konten yang baik tidak harus kompleks, cukup memiliki pesan yang jelas, bermanfaat, dan relevan bagi audiens. “Pesannya harus jelas dan bermanfaat, itu sudah cukup,” tegasnya.

Gung Mia mengingatkan bahwa setiap unggahan di media sosial membawa dampak tertentu terhadap reputasi pribadi maupun profesional. Karena itu, peserta diimbau untuk selalu memikirkan dampak sebelum membagikan konten ke publik. Ia menekankan pentingnya etika digital, termasuk menyaring informasi, menjaga bahasa, menghormati perbedaan pendapat, serta menghindari penyebaran hoaks.

Dalam konteks tantangan digital, Gung Mia memaparkan berbagai risiko yang dihadapi generasi muda, mulai dari misinformasi, disinformasi, hingga malinformasi yang mudah tersebar di ruang digital. Tantangan lain yang perlu diwaspadai adalah cyberbullying, yang berdampak serius terhadap kesehatan mental. Ia juga menyinggung maraknya penipuan online dan meningkatnya kecanduan media sosial. Untuk mengatasinya, generasi muda didorong untuk membatasi waktu penggunaan gawai dan memperbanyak aktivitas alternatif seperti olahraga, seni, dan keterlibatan organisasi.

Melalui seminar ini, Gung Mia berharap mahasiswa semakin mampu memanfaatkan media sosial secara bijak serta memiliki ketahanan yang lebih kuat dalam menghadapi berbagai tantangan era digital. “Kami berharap mahasiswa memiliki ketahanan digital yang lebih kuat,” ujarnya.

Narasumber kedua, Kadek Pande Yulia, yang juga merupakan Ketua Bidang Pendidikan, Digital, dan Kesehatan HIPPI Bali, memaparkan peran strategis organisasi tersebut dalam mendorong ekosistem digital yang sehat bagi pelaku usaha dan generasi muda.

Dalam materinya, ia memaparkan bahwa HIPPI Bali tengah mengembangkan gerakan safe digital sebagai upaya melindungi generasi muda di tengah perkembangan dunia digital yang kini menjadi ruang utama untuk mencari penghasilan. “HIPPI perlu hadir dalam isu digital safety karena para anggota kami bersentuhan langsung dengan pelaku usaha digital,” jelasnya.

Ia menegaskan bahwa seluruh pengguna media sosial pada dasarnya menjadi objek dari ekosistem digital sehingga penting memiliki kesadaran dalam memproduksi dan mengonsumsi konten. Menurutnya, HIPPI Bali perlu hadir dalam isu digital safety karena para anggotanya berhubungan langsung dengan pelaku usaha digital dan aktivitas distribusi konten. Ia menyoroti bahwa meskipun platform digital kini semakin canggih, pelaku usaha dapat menjadi bagian dari masalah apabila tidak bijak dalam membuat konten.

Ia menambahkan bahwa sebagian pelaku usaha kerap mengejar viralitas tanpa mempertimbangkan etika bisnis. Karena itu, HIPPI mendorong anggotanya membuat konten yang tidak hanya mengejar kepentingan komersial, tetapi juga memiliki nilai edukatif dan memberi manfaat bagi audiens. “Konten UMKM harus tetap beretika dan bermanfaat,” katanya.

Ia menyebutkan bahwa literasi digital yang ada saat ini masih belum bijak sehingga HIPPI memberikan standarisasi dalam pembuatan konten bagi UMKM. Kadek Pande Yulia menilai bahwa konten eksplorasi yang tidak sehat sering muncul akibat pola konsumsi digital yang buruk, dan hal ini dapat berdampak langsung terhadap perilaku masyarakat. Karena itu, ia menekankan perlunya kesadaran kolektif untuk membangun ekosistem digital yang lebih aman dan bertanggung jawab. “Kesadaran kolektif adalah kunci membangun ruang digital yang sehat,” tegasnya.

Narasumber ketiga, Yudi Syahrial, memaparkan perkembangan pesat penggunaan internet di Indonesia yang kini telah mencapai sekitar 80 persen dari total penduduk. Khusus di Bali, tingkat penetrasi internet bahkan lebih tinggi, yaitu sekitar 90 persen, menunjukkan bahwa hampir seluruh masyarakatnya telah tersambung ke jaringan digital.

Dalam pemaparannya, Yudi Syahrial menekankan pentingnya pendampingan orang tua. Ia mengingatkan bahwa anak seharusnya tidak dibiarkan mengakses internet sendirian, karena orang tua perlu mengetahui dan memfilter apa yang ditonton. “Orang tua harus hadir dalam setiap aktivitas digital anak,” katanya. Aturan dalam PP TUNAS disebut telah menetapkan bahwa anak berusia di bawah 12–13 tahun wajib mendapatkan akses internet yang bersifat edukatif.

Ia menjelaskan bahwa melalui PP TUNAS, pemerintah memberi perlindungan dengan mengatur penyelenggara sistem elektronik (PSE) seperti TikTok, Meta, Instagram, dan platform lainnya agar menyediakan ruang digital yang aman bagi anak. Tanpa regulasi, berbagai situs berbahaya termasuk pornografi dapat lebih mudah diakses. “Tanpa regulasi, akses ke konten berbahaya akan semakin terbuka,” ujarnya.

Pemerintah melalui Kominfo terus melakukan pemblokiran sistematis untuk membatasi penyebarannya meski masih terdapat sebagian konten yang lolos. Yudi Syahrial kemudian mengapresiasi STIE Satya Dharma Singaraja karena telah menyediakan ruang sosialisasi kepada mahasiswa dan masyarakat untuk meningkatkan kepedulian terhadap masa depan anak-anak dalam menghadapi dunia digital yang terus berkembang. “STIE Satya Dharma telah memberikan ruang edukasi yang sangat baik,” katanya.

Seminar tersebut disambut antusias oleh para peserta. Beberapa di antaranya berkesempatan mengajukan pertanyaan kepada para narasumber, sementara peserta lainnya berbagi pandangan dan pengalaman setelah mengikuti seluruh rangkaian acara.

Salah satunya adalah I Wayan Reka Ningcaya Bawa, peserta sekaligus Presiden Mahasiswa Republik Mahasiswa (REMA) Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha). Ia menyampaikan bahwa seminar yang menghadirkan sejumlah narasumber, termasuk perwakilan dari Kementerian Komunikasi dan Digital, memberikan banyak wawasan baru mengenai regulasi bermedia sosial. “Kami berharap regulasi tidak memberikan pembatasan berlebihan,” ujarnya.

Reka Ningcaya menambahkan bahwa para mahasiswa berharap regulasi bermedia sosial dapat disusun dan diterapkan secara proporsional tanpa memberikan pembatasan berlebihan. Menurutnya, kebebasan berekspresi merupakan hak mahasiswa dan masyarakat, sehingga kebijakan yang lahir diharapkan benar-benar berpihak kepada rakyat serta tidak bertentangan dengan kepentingan publik.

Peserta lainnya, Nengah Supriyadi, mahasiswa STIE Satya Dharma Singaraja, turut memberikan tanggapan positif atas pelaksanaan seminar Genposting. Ia menilai kegiatan tersebut sangat bermanfaat, khususnya bagi generasi Gen Z, karena memberikan pemahaman praktis mengenai cara melaporkan berbagai permasalahan yang ditemukan di ruang digital kepada pemerintah. “Kami jadi tahu bagaimana cara melaporkan konten bermasalah,” katanya.

Melalui penjelasan para narasumber, peserta mengetahui bahwa konten bermasalah, termasuk konten berunsur pornografi atau judul-judul yang tidak pantas di berbagai platform seperti Google, dapat dilaporkan secara langsung melalui mekanisme resmi.

Peserta lainnya, Juliani, yang juga mahasiswa STIE Satya Dharma Singaraja, turut menyampaikan pandangannya mengenai kegiatan Genposting. Ia menilai seminar tersebut sangat menarik sekaligus membuka wawasan baru, terlebih karena menjadi bagian dari program pemerintah yang menekankan pentingnya ketelitian dalam mengakses berbagai situs dan informasi digital. “Materinya sangat membuka wawasan kami sebagai generasi Z,” ujarnya.

Menurutnya, materi yang disampaikan berhasil memberi pemahaman kepada mahasiswa, generasi Z, dan generasi milenial mengenai cara membedakan informasi valid dan hoaks.

Melalui seminar ini, STIE Satya Dharma Singaraja bersama pemerintah dan berbagai lembaga mitra menegaskan komitmen memperkuat literasi digital generasi muda. Kegiatan ini diharapkan menjadi langkah nyata membangun lingkungan fisik dan digital yang sehat, aman, serta mendukung tumbuh kembang anak Buleleng. Dengan sinergi berkelanjutan, generasi muda diharapkan mampu menghadapi tantangan era digital secara bijak dan berkontribusi pada terwujudnya Indonesia Emas 2045. (kbs)

Berita Lainnya

Berita Terkini