Foto: Suasana kebersamaan buka puasa bersama yang digelar HIPPI Bali bersama tim sinergi di Puri Setyaki, Jalan Setyaki No. 9 Denpasar, Senin (23/2/2026).
Denpasar, KabarBaliSatu
Semangat kebersamaan dan kepedulian sosial terasa hangat di Puri Setyaki, Jalan Setyaki No. 9 Denpasar, Senin (23/2/2026). Di kediaman Ketua DPD HIPPI Provinsi Bali, Dr. Gung Tini Gorda, puluhan anak yatim berkumpul dalam kegiatan bertajuk “Dalam Bulan Ramadan Bersinergi Pang Pade Payu Melaksanakan Buka Puasa Bersama Anak Yatim.”
Kegiatan ini digagas oleh HIPPI Provinsi Bali bersama 10 organisasi lainnya yang tergabung dalam sinergi bertajuk Pang Pade Payu. Organisasi lainnya yang terlibat yakni Rotary Club of Bali Bersinar, Pusat Studi Undiknas, RCC of Keluarga Besar Mahasiswa Hindu Dharma (KBMHD) Undiknas, GTS Institute Bali, Komunitas Anak Bangsa, Perempuan Berkebaya Indonesia (PBI) Bali, Ikatan Ahli Boga Indonesia (IKABOGA) Bali, Koperasi Perempuan Ramah Keluarga (KPRK) Pang Pade Payu, Perempuan Pemimpin Indonesia (Perpina) Bali, dan Cahaya Ladara Nusantara (CLN) Bali. Total ada 11 organisasi yang menyukseskan acara ini.
Mengusung tema “Kuatkan Menyame Beraya dalam Berkah Bulan Ramadhan”, acara ini tak sekadar menjadi ajang berbuka puasa bersama, tetapi juga ruang perjumpaan lintas iman untuk mempererat toleransi dan memperkuat nilai gotong royong di Bali.
Teguhkan Toleransi Antarumat Beragama
Sebagai tuan rumah, Gung Tini Gorda yang juga Ketua DPD Perempuan Pemimpin Indonesia (Perpina) Bali menegaskan bahwa kegiatan ini merupakan wujud nyata kolaborasi lintas organisasi dan lintas agama.
Menurutnya, Ramadan menjadi momentum strategis untuk mempererat keterhubungan antarumat beragama di Bali. Ia berharap kegiatan serupa dapat dilaksanakan secara berkelanjutan setiap tahun, bahkan tidak hanya saat Ramadan, tetapi juga pada perayaan hari besar keagamaan lainnya.
“Kami ingin menunjukkan bahwa perbedaan adalah lukisan indah. Tidak ada sekat di antara kita. Bali adalah provinsi yang sangat toleran untuk semua agama,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya peran perempuan sebagai pemimpin keluarga dalam melahirkan generasi yang menjunjung tinggi nilai toleransi dan kemanusiaan.
Moderasi Beragama di Tengah Ramadan
Hadir dalam kegiatan tersebut, tokoh agama Islam Ustad Rahmat Hidayat mengajak seluruh peserta untuk memperkuat moderasi beragama di Indonesia. Dalam suasana Ramadan yang sarat makna spiritual, ia menilai kegiatan seperti ini menjadi contoh konkret harmoni dalam keberagaman.
Ia mengapresiasi inisiatif keluarga besar Hindu yang mengundang umat Islam berbuka puasa bersama. Menurutnya, langkah tersebut menjadi simbol kuat persaudaraan dalam bingkai Bhinneka Tunggal Ika dan memperkokoh semangat Negara Kesatuan Republik Indonesia.
“Ke depan, kami juga siap mengundang saudara-saudara dari berbagai agama untuk duduk bersama, memperkuat sinergi dalam keberagaman,” ungkapnya.
Dalam kesempatan itu, Ustad Rahmat juga memimpin sholat magrib berjamaah sebelum rangkaian acara dilanjutkan dengan ramah tamah.
Bulan Perdamaian Rotary
President Rotary Club of Bali Bersinar, Gung Rai Wahyuni, menjelaskan bahwa Februari merupakan bulan perdamaian dalam agenda Rotary internasional. Karena bertepatan dengan Ramadan, pihaknya memilih berkolaborasi dalam kegiatan berbuka puasa dan santunan anak yatim.
Ia menegaskan pentingnya menanamkan nilai harmoni sejak dini kepada anak-anak. Menurutnya, Indonesia yang kaya akan perbedaan justru memiliki kekuatan besar untuk membangun persatuan.
“Kita tanamkan kepada anak-anak bahwa kita ini satu. Harmoni harus dijaga agar kelak mereka mampu hidup rukun dalam masyarakat yang majemuk,” tegasnya.
Kolaborasi Penuh Empati
Ketua DPD IKABOGA Provinsi Bali, Ir. Hj. Nimmi Gulam, menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan menyame beraya di bulan Ramadan ini. Ia menekankan bahwa 10 organisasi bergandengan tangan tanpa membedakan latar belakang agama.
IKABOGA berperan menyediakan makanan dan minuman bernuansa nusantara dengan memperhatikan unsur kehalalan. “Anak-anak bahagia, itu yang terpenting,” ujarnya.
Senada dengan itu, Manager Koperasi Perempuan Ramah Keluarga (KPRK) Gung Rai Tirtawati, menyebut kolaborasi ini sangat inspiratif. Selain memberikan dukungan finansial, KPRK juga berpartisipasi dalam penyediaan konsumsi. Ia berharap ke depan jumlah anak yatim yang dilibatkan bisa lebih banyak lagi.
Perwakilan Cahaya Ladara Nusantara (CLN), Endang, juga berharap sinergi seperti ini terus berlanjut karena dinilai sangat positif dan efisien melalui kolaborasi bersama.
Anak Inklusif, Bukan Eksklusif
Etty selaku Ketua Komunitas Anak Bangsa menekankan pentingnya membentuk generasi inklusif. Menurutnya, anak-anak tidak boleh tumbuh menjadi pribadi eksklusif, melainkan mampu menyatu dalam keberagaman agama dan budaya di Indonesia.
Ia menyebut pembagian bingkisan kepada 11 anak yatim sebagai bentuk kasih sayang dan empati, agar mereka tetap merasa dicintai dan tidak kehilangan figur orang tua.
Pengurus Bidang Pertanian dan Koperasi DPD HIPPI Bali, Devan, berharap kegiatan ini terus ditingkatkan setiap tahun. Selain mempererat kerukunan, ia menilai kegiatan ini mampu mengurangi beban psikologis anak-anak. Ia juga memotivasi mereka untuk memiliki mental kuat dan jiwa wirausaha jika ingin menjadi pengusaha kelak.
Suara Haru Peserta
Salah satu peserta, Rahma Jayadi, mengaku terharu mengikuti acara tersebut. Menurutnya, kolaborasi lintas agama seperti ini jarang ditemui dan sangat inspiratif.
“Terharu, bangga, luar biasa. Semoga menjadi contoh kreatif untuk yang lain,” ujarnya.
Hal serupa disampaikan adik Sultan yang merasa senang bisa ikut berbuka puasa bersama dan berharap kegiatan ini terus berlanjut. Ia juga mengajak teman-temannya untuk lebih rajin beribadah.
Bukan Sekadar Seremonial
Kegiatan ditutup dengan pembagian bingkisan dan dana santunan kepada anak-anak yatim sebagai wujud nyata kepedulian sosial. Harapannya, bantuan tersebut dapat meringankan beban sekaligus menghadirkan kebahagiaan di bulan suci.
Lebih dari sekadar agenda tahunan, kegiatan ini diharapkan menjadi gerakan berkelanjutan yang menumbuhkan semangat menyame beraya di tengah masyarakat Bali. Ramadan kembali menjadi ruang memperkuat solidaritas, memperluas empati, dan meneguhkan harmoni dalam keberagaman. (kbs)

