Foto: Rektor Universitas Mahasaraswati (Unmas) Denpasar Dr. Drs. I Made Sukamerta, M.Pd.
Denpasar, KabarBaliSatu
Universitas Mahasaraswati (Unmas) Denpasar menunjukkan komitmen kuat dalam mendukung program prioritas Gubernur Bali, Wayan Koster, bertajuk “Satu Keluarga Satu Sarjana”. Sebagai bagian dari upaya strategis meningkatkan kualitas sumber daya manusia Bali, program ini memberi kesempatan kuliah gratis bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu, termasuk jaminan biaya hidup selama masa studi, yang ditanggung oleh APBD Provinsi Bali.
Rektor Unmas Denpasar, Dr. Drs. I Made Sukamerta, M.Pd., menegaskan bahwa pihaknya telah menyiapkan kuota 100 kursi untuk mahasiswa baru dari keluarga tidak mampu, yang akan dibebaskan dari semua biaya kuliah, termasuk uang pangkal, SPP, dan biaya lainnya.
“Kami sangat mendukung program Pak Gubernur ini. Program ini memberi harapan baru bagi keluarga miskin di Bali agar memiliki setidaknya satu anggota keluarga yang menyandang gelar sarjana,” ujar Rektor Sukamerta dalam keterangannya.
Unmas membuka kesempatan ini untuk seluruh program studi kecuali Prodi Kedokteran, Kedokteran Gigi, dan Farmasi. Pendaftaran akan dibuka hingga akhir Agustus 2025, setelah penandatanganan MoU dan Perjanjian Kerja Sama (PKS) dengan Pemerintah Provinsi Bali secara resmi dilaunching oleh Dinas Pendidikan.
Strategi Naikkan APK dan Cetak SDM Unggul
Program ini juga ditujukan untuk meningkatkan Angka Partisipasi Kasar (APK) pendidikan tinggi di Bali, yang saat ini baru mencapai 38%. Melalui kolaborasi dengan sekitar 27 perguruan tinggi negeri dan swasta di Bali, Pemprov bertekad memperluas akses pendidikan tinggi bagi masyarakat menengah ke bawah.
“Kalau kita ingin bersaing secara nasional maupun global, SDM Bali harus naik kelas. Program ini adalah investasi jangka panjang yang akan mengubah pola pikir generasi muda, memberi mereka peluang untuk berinovasi, bukan sekadar mencari kerja,” tambah Rektor Sukamerta.
Menjawab Kekhawatiran Soal Pengangguran Sarjana
Terkait kekhawatiran terhadap tingginya angka pengangguran lulusan sarjana, Rektor Unmas menjelaskan bahwa hal tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk membatasi akses pendidikan.
“Tugas kami adalah mencerdaskan kehidupan bangsa. Menjadi sarjana bukan hanya soal mendapatkan pekerjaan, tapi membentuk cara berpikir yang kritis, kreatif, dan solutif. Bekal itu akan membawa mereka lebih jauh dibandingkan yang hanya lulusan SMA,” tegasnya.
Ia juga mencontohkan negara maju seperti Singapura, yang mampu mencetak SDM unggul melalui perluasan akses pendidikan tinggi. Menurutnya, justru dengan menjadi sarjana, seseorang memiliki nilai tambah dalam daya saing kerja maupun kemampuan menciptakan lapangan kerja sendiri.
Masa Depan Bali Dimulai dari Pendidikan
Dengan dukungan nyata dari institusi pendidikan seperti Unmas Denpasar, program Satu Keluarga Satu Sarjana diharapkan dapat menjadi gerakan sosial yang masif, mendorong perubahan sosial dan ekonomi yang signifikan di Bali.
“Kalau tidak dimulai sekarang, kapan lagi? Generasi muda Bali harus punya mimpi dan kesempatan yang sama. Kuliah bukan lagi impian yang mahal, tapi hak yang harus diperjuangkan,” tutup Rektor Sukamerta. (kbs)

