BerandaOpiniSampai Kapan Tri Hita Karana Hanya Jadi Slogan Pariwisata?

Sampai Kapan Tri Hita Karana Hanya Jadi Slogan Pariwisata?

Oleh : Ayu Dwi Yulianthi, Mahasiswa Program Doktor Ilmu Akuntansi, Universitas Pendidikan Ganesha (Undiksha)

Denpasar, KabarBaliSatu

Pariwisata menjadikan Bali sebagai destinasi dunia. Hotel megah, vila mewah, kafe berarsitektur estetis hingga bandara internasional yang padat wisatawan menjadi wajah baru pulau ini. Namun di balik sorotan lampu liburan, muncul pertanyaan yang semakin mendesak: Apakah Bali masih berjalan sesuai napas filosofi Tri Hita Karana, atau kita hanya meminjamnya sebagai slogan tanpa makna?

Tri Hita Karana adalah ajaran yang menempatkan harmoni antara manusia dengan Tuhan (Parahyangan), sesama manusia (Pawongan), dan alam (Palemahan). Ia bukan konsep akademik, apalagi sekadar penghias acara pariwisata; ia adalah jiwa kehidupan masyarakat Bali. Sayangnya, semakin berkembang industri pariwisata, semakin terasa jarak antara filosofi ini dan realita di lapangan.

Hotel Bertambah, Harmoni Berkurang

Berdasarkan data 2024, Bali memiliki sekitar 4.154 hotel, tertinggi di Indonesia. Di Kabupaten Badung—epicentrum pariwisata Bali—jumlah hotel bintang melonjak dari 289 (2020) menjadi 417 (2024).

Peningkatan signifikan juga terjadi pada jumlah kamar hotel, dari sekitar 19 ribu menjadi lebih dari 54 ribu kamar dalam beberapa tahun terakhir. Pertumbuhan ini memang mendongkrak ekonomi. Namun di sisi lain, penggunaan air bersih meningkat tajam.

Kajian WALHI Bali menunjukkan bahwa 56% sumber air di Bali dikonsumsi industri perhotelan dan pariwisata. Di Ubud dan Badung Selatan, konsumsi air per tamu hotel bahkan mencapai 3.000–5.000 liter per malam. Akibatnya, desa-desa dan subak mulai menghadapi kelangkaan air, sementara pura yang mengandalkan tirta (air suci) ikut terdampak.

Pariwisata terus tumbuh, tetapi apakah pertumbuhan itu seimbang dengan nilai Tri Hita Karana?

Parahyangan: Ruang Sakral yang Tersisih

Bali dikenal sebagai “Pulau Seribu Pura”, tetapi ironisnya, sebagian hotel hanya menghadirkan pura mini sebagai dekorasi tanpa memahami kesuciannya. Upacara adat yang seharusnya dihormati kadang dianggap mengganggu aktivitas operasional.

Padahal, Tri Hita Karana mengajarkan bahwa rezeki dan kelestarian datang dari hubungan harmonis antara usaha manusia dan restu Tuhan. Menyediakan ruang sembahyang bagi karyawan, menghormati kalender agama Hindu Bali, dan menjaga kesucian pura desa adat adalah bentuk nyata Parahyangan. Bukan sekadar menempatkan patung Ganesha di lobi hotel.

Pawongan: Pariwisata untuk Siapa?

Kemajuan pariwisata sering dijadikan alasan kebanggaan, tetapi pertanyaannya: siapa yang paling diuntungkan? Banyak hotel yang berdiri di atas tanah adat, namun investor terbesar bukan warga lokal. Masyarakat Bali bekerja sebagai pegawai, tetapi belum banyak yang menjadi pengambil keputusan strategis.

UMKM lokal, petani bunga, pengrajin, penenun, sampai nelayan seharusnya menjadi bagian dari rantai ekonomi hotel. Namun, banyak hotel lebih memilih produk impor atau vendor besar. Padahal, harmoni sosial (Pawongan) tercipta jika pariwisata menghidupkan masyarakat, bukan sekadar mempekerjakan.

Palemahan: Alam Bali Menjerit Sunyi

Tri Hita Karana juga berarti menjaga tubuh bumi Bali. Namun hari ini, alam bersuara lirih—dan sering diabaikan. Sungai yang dulu jernih kini berubah keruh. Pantai tercemar sampah wisata. Sawah berubah menjadi beton dan resort. Subak—warisan dunia UNESCO—mulai kehilangan airnya.

Data Dinas PUPR Bali memprediksi bahwa pada tahun 2025, Bali terancam defisit air mencapai 1.500 liter/detik jika tidak ada pengendalian penggunaan air tanah. Di sisi lain, pembangunan kolam renang, taman tropis, dan lapangan golf terus berjalan.

Inilah bentuk Palemahan yang goyah. Tanpa alam yang harmonis, pariwisata Bali hanya akan menjadi panggung tanpa latar.

Tri Hita Karana: Dari Slogan ke Tindakan

Tri Hita Karana terlalu suci untuk dijadikan sekadar label penghargaan hotel atau tema konferensi internasional. Ia harus kembali menjadi panduan moral dan operasional. Apa yang bisa dilakukan?

  • Hotel menyediakan pura atau ruang suci secara fungsional, bukan dekoratif.
  • Memberikan waktu ritual bagi karyawan saat upacara adat, Galungan, Kuningan, atau Purnama.
  • Mengutamakan tenaga kerja lokal, pelatihan generasi muda, dan kemitraan dengan UMKM.
  • Transparansi penggunaan air, limbah, listrik, serta pengurangan air tanah melalui teknologi daur ulang air (grey water system).
  • Berkolaborasi dengan desa adat dan subak, bukan berdiri di atasnya.

Penutup: Bali Bukan Hanya Destinasi, Tapi Warisan

Bali boleh maju. Hotel boleh mewah. Wisata boleh modern. Namun semua itu tidak boleh mengorbankan harmoni. Sebab jika Tri Hita Karana hanya tinggal slogan, maka Bali akan kehilangan jiwanya.

Pulau ini bukan hanya tempat liburan; ia adalah rumah, tempat suci, dan warisan budaya. Jika kita menjaga harmoni, Bali tidak hanya menjadi tempat yang indah dikunjungi, tetapi juga tempat yang layak diwariskan. (kbs)

Berita Lainnya

Berita Terkini