Foto: Gubernur Bali, Wayan Koster.
Denpasar, KabarBaliSatu
Pesta Kesenian Bali (PKB) ke-47 resmi masuk tahap persiapan. Pemerintah Provinsi Bali memastikan hajat budaya terbesar di Pulau Dewata ini akan kembali digelar pada 2025. Kepastian itu ditandai dengan rapat pleno perdana yang digelar di Wisma Sabha Utama, Kantor Gubernur Bali, Kamis (5/6/2025), dan dihadiri langsung oleh Gubernur Bali, Wayan Koster.
Dalam arahannya, Gubernur Koster tak sekadar bicara teknis. Ia menyampaikan pesan ideologis yang menjadi napas utama PKB: Budaya Bali bukan tontonan, tapi tuntunan. Bukan sekadar dekorasi pariwisata, tetapi fondasi spiritual dan sosial yang membentuk identitas masyarakat Bali.
“Kekuatan Bali bukan di alamnya, bukan juga di infrastruktur. Tapi di budaya. Hanya budaya Bali yang tidak bisa disaingi oleh daerah manapun,” tegas Koster.
Politikus PDIP itu menekankan bahwa budaya Bali mencakup adat, tradisi, seni, hingga kearifan lokal yang diwariskan turun-temurun. Namun, ia mengakui, tak semua kekayaan itu sudah muncul ke permukaan. Masih banyak warisan budaya yang belum digali dan ditampilkan ke publik.
Koster menyebut Peraturan Daerah Bali Nomor 4 Tahun 2019 tentang Desa Adat sebagai pintu masuk untuk revitalisasi budaya. Ia mendorong setiap desa adat agar aktif menelusuri dan mengangkat kembali warisan budayanya masing-masing.
“Dengan Perda Desa Adat, saya ingin budaya di Bali ini tidak pernah mati. Justru terus hidup, mengakar, dan berkembang di desa-desa,” ujarnya.
PKB bukan sekadar festival tahunan, melainkan ruang yang menghidupkan semua unsur budaya. Koster membaginya dalam empat elemen penting: pencipta seni, pelaku seni, pendukung kegiatan, dan penonton. Ia menilai keempat elemen ini harus terus dijaga agar ekosistem budaya tetap utuh dan berkelanjutan.
“Saya perhatikan sejak dulu sampai sekarang, keempat peran ini masih tetap ada. Ini pertanda baik bahwa budaya kita masih hidup,” tandasnya.
Di tengah arus modernisasi dan tekanan globalisasi, Bali memilih jalannya sendiri—menjaga roh budaya, bukan hanya kulitnya. PKB 2025 tak sekadar akan menampilkan tarian, tabuh, atau pameran seni rupa, tapi juga jadi panggung konsolidasi budaya sebagai kekuatan politik dan identitas kultural Bali.
Dengan sikap konsisten seperti ini, Bali tampaknya bukan hanya ingin dikenal sebagai destinasi wisata, tetapi juga sebagai pusat peradaban budaya yang mengakar dan membimbing. PKB bukan sekadar pesta seni—ia adalah pernyataan jati diri. (kbs)

