Foto: Made Mangku Pastika, resmi menyandang gelar Doktor Ilmu Agama dari Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar.
Denpasar, KabarBaliSatu
Mantan Gubernur Bali dua periode, Made Mangku Pastika, resmi menyandang gelar Doktor Ilmu Agama dari Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar. Dalam ujian terbuka disertasinya yang digelar pada Kamis (17/7/2025), tokoh nasional yang juga mantan Kapolda Bali dan eks Kepala BNN RI itu menggugah kesadaran kolektif umat Hindu atas persoalan serius: dikotomi antara Hindu Bali dan Hindu India.
Pastika menilai, narasi dikotomis yang terus berkembang antara ajaran Hindu lokal dan yang disebut sebagai “sampradaya asing” tak hanya merusak harmoni internal umat Hindu, namun juga berpotensi merusak citra agama Hindu sebagai agama yang damai, toleran, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan di mata nasional dan dunia internasional.
“Sudah bukan lagi konflik ideologis, tapi telah menjurus ke konflik fisik,” tegas Pastika usai mempertahankan disertasinya yang berjudul *“Menapak Tilas Jejak Ajaran Veda: Studi Implementasi pada Umat Hindu di Bali.”
Dalam disertasinya, Pastika merumuskan tiga pertanyaan mendasar: apakah ajaran Weda memang menyebar ke Nusantara dan Bali? Mengapa dikotomi antara Hindu India dan Hindu Bali muncul? Dan bagaimana strategi tokoh Hindu agar konflik ini tidak berkembang? Ia juga menyoroti dampak dikotomi ini terhadap keberlangsungan spiritual umat Hindu di Bali.
Pastika menyerukan digelarnya Mahasabha Nasional, sebuah pertemuan besar lintas lembaga dan tokoh Hindu di Indonesia — mulai dari PHDI Pusat, Majelis Desa Adat, Dirjen Bimas Hindu, hingga akademisi dan pemuda Hindu nasional — guna merumuskan solusi konkret dan menyatukan persepsi agar api dalam sekam ini tidak dibiarkan membesar.
“Jika internal Hindu pecah, akan sangat mudah pihak luar mempengaruhi terutama generasi muda. Ini sangat berbahaya karena bisa mendorong konversi agama akibat merasa tak nyaman beragama Hindu di tanah sendiri,” ujar Pastika, memperingatkan.
Disertasinya mendapat pujian dari promotor, Prof. Dr. I Gusti Ngurah Sudiana, yang menyebut riset Pastika sangat lengkap dan dilakukan secara profesional. Sudiana menambahkan, jejak ajaran Weda dari Kalimantan hingga Bali sudah dibuktikan lewat prasasti-prasasti berbahasa Sansekerta dan aksara Dewa Nagari yang dijabarkan dalam disertasi tersebut.
Sementara itu, budayawan Putu Suasta memuji pandangan Dr. Mangku Pastika yang menyampaikan bahwa Hindu adalah agama yang adaptif, fleksibel, dan ilmiah — bukan agama statis yang menolak perubahan. Ia menyebut disertasi ini sebagai cerminan dari Sanatana Dharma, filosofi keabadian yang menjadikan Hindu sebagai agama yang tak lekang oleh zaman.
Dengan predikat doktor ke-162 di UHN IGB Sugriwa Denpasar dan IPK sempurna 4.0, Pastika tak hanya menambah deretan intelektual Hindu di Indonesia, tetapi juga menyumbangkan gagasan penting demi menjaga integritas dan keberlanjutan umat Hindu di Bali dan Nusantara. Ini merupakan gelar doktor kedua yang diraih Mangku Pastika setelah gelar doktor pertama diraih di Fakultas Hukum Universitas Udayana, Denpasar. (kbs)

