BerandaPolitikPanaskan Mesin Jelang 2029, Golkar Bali Gandeng Anak Muda Hadapi Arah Baru...

Panaskan Mesin Jelang 2029, Golkar Bali Gandeng Anak Muda Hadapi Arah Baru Politik Nasional

Foto: Foto: DPD Partai Golkar Bali menggelar Pendidikan Politik Kader Partai Golkar bertajuk “Golkar Solid, Bali Jaya, Indonesia Maju”, Sabtu (14/6/2025) di Wantilan Sekretariat DPD Partai Golkar Bali, Denpasar.

Denpasar, KabarBaliSatu

Partai Golkar Bali mulai memanaskan mesin politiknya. Satu per satu langkah konsolidasi dipercepat, salah satunya melalui pendidikan politik kader bertajuk “Golkar Solid, Bali Jaya, Indonesia Maju” yang digelar Sabtu (14/6/2025) di Wantilan Sekretariat DPD Partai Golkar Bali, Denpasar.

Acara ini bukan sekadar rutinitas. Di tengah ancaman apatisme politik generasi muda, kehadiran ratusan kader muda justru menjadi sinyal kuat: Golkar tak ingin tinggal diam menghadapi gelombang perubahan.

Ketua DPD Partai Golkar Bali, Dr. Nyoman Sugawa Korry, hadir langsung memimpin jalannya forum. Ia didampingi Ketua Dewan Pertimbangan Wayan Subawa, para senior partai, serta perwakilan Kesbangpol Provinsi Bali. Dua narasumber dihadirkan: Dr. Nyoman Subanda, akademisi Undiknas yang membedah peran historis Golkar, dan I Made Artanegara dari Kesbangpol yang mengulas relevansi Pancasila dan UUD 1945 dalam kehidupan berbangsa.

Namun yang paling mencuri perhatian adalah pernyataan tegas Sugawa soal masa depan politik Indonesia.

“Perubahan besar dalam politik nasional biasanya terjadi setiap tiga dekade. Bung Karno tumbang setelah 27 tahun, Orde Baru bertahan 30 tahun sebelum runtuh pada 1998. Tahun 2029, Reformasi genap berusia 30 tahun. Maka siapapun yang tak siap berubah akan ditinggal zaman,” tegas Sugawa.

Ia menyitir analogi evolusi: dinosaurus punah bukan karena lemah, tapi karena gagal beradaptasi. Bagi Sugawa, ini pesan penting bagi kader Golkar—khususnya generasi muda—agar terus meningkatkan kapasitas diri, terutama dalam hal intelektualitas dan daya saing.

“Anak muda Golkar harus adaptif. Yang SMA, lanjut kuliah. Yang sudah sarjana, lanjut S-2 bahkan S-3. Kita punya contoh nyata: Andre Baskoro dari DPRD Denpasar sudah S-3, Wandhira—Ketua Golkar Denpasar—sudah rampung S-2. Ini standar baru kader Golkar.”

Tak hanya soal kapasitas, loyalitas juga ditekankan. Sugawa menegaskan bahwa dalam dinamika organisasi, perbedaan pendapat boleh saja. Tapi setelah keputusan partai diambil, semua kader wajib patuh.

“Kalau partai sudah ambil sikap, semua harus satu barisan. Tidak ada ruang untuk manuver pribadi. Soliditas adalah kekuatan utama Golkar.”

Pendidikan politik ini, kata Sugawa, bukan yang terakhir. Justru akan digelar masif di seluruh kabupaten/kota se-Bali sebagai bagian dari pemanasan menuju Pilkada 2024 dan agenda politik 2029.

“Kami siapkan kader sejak dini. Kita tidak hanya ingin menang pemilu, tapi juga menyiapkan generasi pemimpin baru yang paham sejarah, adaptif terhadap masa kini, dan siap menjemput masa depan.”

Golkar Bali kini tengah menyiapkan diri bukan hanya untuk kontestasi jangka pendek. Mereka tampaknya telah membaca arah angin sejarah—dan memutuskan untuk berlayar lebih awal. (kbs)

Berita Lainnya

Berita Terkini