BerandaDaerahOKK PWI Bali Bekali Ratusan Wartawan dengan Pengalaman dan Pesan Penting dari...

OKK PWI Bali Bekali Ratusan Wartawan dengan Pengalaman dan Pesan Penting dari Senior Widminarko

Niat dan Semangat Jadi Bekal Utama, Jaga Independensi hingga Aktif di Organisasi Kemasyarakatan

Foto: Wartawan senior Widminarko (kanan) menjadi narasumber dalam Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) PWI Provinsi Bali yang digelar selama dua hari, Kamis-Jumat, 20-21 Agustus 2026, di Gedung PWI Bali, Denpasar.

Denpasar, KabarBaliSatu

Sebanyak 102 wartawan dari berbagai media massa di Bali mengikuti Orientasi Kewartawanan dan Keorganisasian (OKK) PWI Provinsi Bali yang digelar selama dua hari, Kamis-Jumat, 20-21 Agustus 2026, di Gedung PWI Bali, Denpasar.

Mengusung tema “Membangun Wartawan Profesional, Berintegritas, dan Berkomitmen terhadap Etika Jurnalistik melalui Penguatan Organisasi PWI”, kegiatan ini menjadi ruang pembelajaran bagi para peserta untuk memperkuat pemahaman tentang profesi kewartawanan sekaligus organisasi PWI.

Salah satu sesi yang menarik perhatian peserta adalah materi yang disampaikan wartawan senior Widminarko. Dengan pengalaman 56 tahun di dunia jurnalistik, ia tidak hanya berbicara mengenai sejarah pers dan PWI, tetapi juga membagikan pengalaman serta prinsip yang selama puluhan tahun menjadi pijakannya sebagai wartawan.

Pada hari pertama, peserta mendapat pemaparan mengenai sejarah pers, fungsi pers sebagai salah satu pilar demokrasi, serta perjalanan organisasi PWI. Widminarko kemudian membawa peserta menyelami dunia jurnalistik melalui pengalaman pribadinya sejak pertama kali terjun sebagai wartawan.

Ia mengisahkan perjalanan awalnya ketika bekerja di Suara Indonesia, yang kemudian menjadi Suluh Indonesia edisi Bali dan selanjutnya berubah menjadi Suluh Marhaen edisi Bali. Pada 1 Mei 1968, ia dipercaya menjadi penanggung jawab Suluh Marhaen edisi Bali yang saat itu berafiliasi dengan PNI.

Menurut Widminarko, situasi pers pada masa tersebut berbeda dengan sekarang. Media massa kala itu harus memiliki afiliasi dengan kekuatan tertentu, mulai dari partai politik hingga ABRI.

Dari perjalanan panjang itulah ia menemukan sejumlah prinsip yang menurutnya penting dimiliki setiap wartawan.

Pertama, niat dan semangat.
Widminarko menegaskan, menjadi wartawan tidak selalu membutuhkan modal besar. Yang paling utama justru niat, semangat, dan kemauan untuk terus belajar.

“Bekal satu-satunya niat dan semangat menjadi wartawan. Ternyata bekal ini sangat manjur. Akhirnya saya bisa menjadi wartawan dan baru pensiun dari Bali Post tahun 2021. Selama 56 tahun menjadi wartawan, bekal saya adalah niat dan semangat untuk terus belajar,” ujar wartawan senior yang mini berusia 84 tahun itu.

Kedua, menjaga independensi.
Bagi Widminarko, independensi merupakan prinsip yang tidak boleh ditawar. Wartawan harus menjaga jarak dari politik praktis agar tetap mampu menjalankan fungsi jurnalistik secara objektif.

Wartawan senior kelahiran 8 April 1942 di Dusun Sidotentrem, Desa Yosomulyo, Banyuwangi itu mengingat kembali pengalamannya ketika menjadi wartawan sekaligus penanggung jawab Suluh Marhaen edisi Bali. Kala itu, ia pernah mendapat teguran dari induk partainya karena memberitakan iring-iringan Golkar yang mendapat sambutan antusias dari masyarakat Bali.

“Waktu itu kami tidak boleh melenceng dari garis partai. Saya ditegur karena Suluh Marhaen memberitakan iring-iringan Golkar yang disambut antusias. Bagi saya, itu adalah fakta. Tetapi dilarang memberitakannya,” tutur Widminarko.

Pengalaman tersebut menjadi titik penting dalam perjalanan jurnalistiknya. Ia kemudian memilih untuk menjadi wartawan yang independen dan tidak terlibat dalam politik praktis.

“Dari kejadian itu saya ingin menjadi wartawan independen, tidak terlibat politik praktis. Kalau terlibat politik praktis, bisa dilematis,” katanya.
“Itu poin kedua, wartawan harus independen,” tegasnya.

Ketiga, wartawan tidak boleh terasing dari masyarakat.
Widminarko mendorong wartawan untuk aktif dalam berbagai organisasi kemasyarakatan, termasuk banjar, organisasi kepemudaan, maupun lingkungan sosial di sekitarnya.

Menurut dia, keterlibatan tersebut penting agar wartawan memahami kehidupan masyarakat secara langsung sekaligus memberikan makna terhadap keberadaan profesinya.

“Wartawan jangan asing di organisasi kemasyarakatan, agar ada makna keberadaan sebagai wartawan,” pesannya.

Keempat, memahami bisnis media.
Selain memiliki kemampuan jurnalistik, wartawan juga dinilai perlu memahami bagaimana perusahaan pers menjalankan bisnisnya. Sebab, kerja jurnalistik tidak dapat dipisahkan dari keberlangsungan perusahaan media tempat wartawan bekerja.

“Wartawan harus tahu seluk-beluk bisnis media massa, harus bisa juga menjadi marketing. Jangan hanya mengandalkan gaji,” ujar Widminarko.

Tak berhenti pada empat prinsip tersebut, Widminarko juga membagikan sejumlah kiat sederhana namun penting bagi wartawan dalam mengembangkan kapasitas diri.
Ia menekankan agar wartawan gemar membaca dan menonton untuk memperluas wawasan. Wartawan juga harus rajin mencatat, karena kebiasaan mencatat membantu memperdalam pemahaman terhadap informasi yang diperoleh.

Kiat berikutnya adalah rajin bertanya. Bagi seorang wartawan, rasa ingin tahu menjadi modal penting untuk menggali fakta secara lebih mendalam dan menghasilkan karya jurnalistik yang berkualitas.

Sementara itu, kegiatan OKK PWI Bali dibuka Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Bali yang diwakili Anak Agung Surya Pradipta, S.STP., M.AP., selaku Ketua Tim Penanganan Konflik Sosial Badan Kesbangpol Provinsi Bali.

Pembukaan tersebut turut dihadiri Ketua PWI Bali Wayan Dira Arsana dan Ketua Panitia OKK PWI Bali Nyoman Winata.

Melalui OKK ini, PWI Bali tidak hanya memperkenalkan organisasi kepada para peserta, tetapi juga menanamkan kembali fondasi penting dalam profesi jurnalistik: bekerja berdasarkan fakta, menjaga independensi, menjunjung etika, serta terus belajar agar mampu menghadirkan informasi yang berkualitas bagi masyarakat.

Bekal Wartawan Menghadapi Tantangan Profesi

Selama dua hari pelaksanaan OKK, peserta mendapatkan sejumlah materi yang dirancang untuk memperkuat pemahaman tentang organisasi, etika, hukum pers, hingga keterampilan jurnalistik.

Pada hari pertama, peserta mendapatkan materi mengenai sejarah dan fungsi pers sebagai pilar demokrasi serta sejarah PWI yang disampaikan Widminarko.

Materi berikutnya membahas Kode Etik Jurnalistik, Kode Perilaku Wartawan, profesionalisme dan independensi wartawan, akurasi serta verifikasi informasi, perlindungan narasumber, hingga persoalan konflik kepentingan. Materi tersebut disampaikan IGMB Dwikora Putra.

Pada hari kedua, peserta dibekali pemahaman mengenai Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, studi kasus dan penyelesaian sengketa pers, serta hak dan kewajiban pers, termasuk hak tolak, hak jawab, dan hak koreksi. Materi disampaikan Emmanuel Dewata Oja.

Sesi terakhir membahas Kompetensi Wartawan dan teknik dasar jurnalistik yang disampaikan Arief Wibisono. Materi meliputi Standar Kompetensi Wartawan, jenjang kompetensi, nilai berita, teknik wawancara, teknik peliputan, penulisan berita, hingga persiapan menghadapi Uji Kompetensi Wartawan (UKW).

Melalui OKK tersebut, PWI Bali berharap lahir semakin banyak wartawan yang tidak hanya terampil mengolah informasi, tetapi juga memiliki integritas, ketangguhan, serta kesadaran bahwa profesi jurnalistik merupakan bagian penting dalam menjaga ruang publik yang sehat dan demokratis.(Widana/kbs)

Berita Lainnya

Berita Terkini