BerandaPolitikNasDem Bali Dalami Filosofi Tat Twam Asi, Senantara: Pemimpin Harus Mampu Merasakan...

NasDem Bali Dalami Filosofi Tat Twam Asi, Senantara: Pemimpin Harus Mampu Merasakan Penderitaan Rakyat

Foto: Ketua DPW Partai NasDem Provinsi Bali, Ir. I Nengah Senantara (nomor 2 dari kiri), Sekretaris DPW Partai NasDem Bali Nyoman Winatha (paling kiri) dan PGuru Besar Bidang Sosiologi Hukum Hindu rof. Dr. I Nym Alit Putrawan, S.Ag., M.Fil.H., (tengah) dalam Dharma Wacana bertema “Tat Twam Asi: Membangun Kepemimpinan yang Menghargai Sesama” yang digelar DPW Partai NasDem Bali usai persembahyangan bersama di Pura Agung Jagatnatha, Denpasar, Kamis (5/11/2026).

Denpasar, KabarBaliSatu

Di tengah dinamika kehidupan berbangsa yang kerap diwarnai perbedaan, ketidakadilan, dan berbagai persoalan sosial, nilai-nilai luhur kearifan lokal menjadi pengingat bahwa kemanusiaan harus tetap menjadi landasan dalam setiap langkah. Salah satunya adalah filosofi Tat Twam Asi, sebuah ajaran Hindu yang mengandung pesan mendalam tentang kesadaran bahwa diri kita tidak terpisah dari orang lain.

Nilai inilah yang diangkat Ketua DPW Partai NasDem Provinsi Bali, Ir. I Nengah Senantara, dalam kegiatan persembahyangan bersama dan Dharma Wacana yang digelar di Pura Agung Jagatnatha, Denpasar, Kamis (5/11/2026) sore.

Kegiatan diawali dengan persembahyangan bersama untuk memohon keselamatan, kedamaian, dan keharmonisan bagi Pulau Dewata. Suasana religius tersebut kemudian dilanjutkan dengan Dharma Wacana bertema “Tat Twam Asi: Membangun Kepemimpinan yang Menghargai Sesama”, sebagai bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-15 Partai NasDem.

Dalam kegiatan tersebut, DPW Partai NasDem Bali menghadirkan Prof. Dr. I Nym Alit Putrawan, S.Ag., M.Fil.H., Guru Besar Bidang Sosiologi Hukum Hindu, sebagai narasumber. Akademisi, peneliti, sekaligus tokoh masyarakat ini membawakan materi yang berlandaskan filosofi Tat Twam Asi, Asta Brata, serta ajaran etika kepemimpinan dalam Kakawin Ramayana 1.3.

Bagi Senantara, pembahasan tersebut bukan sekadar ruang untuk memperdalam pemahaman keagamaan. Lebih dari itu, ajaran Tat Twam Asi memiliki relevansi kuat dengan kehidupan sosial, perjalanan politik, dan tanggung jawab seorang pemimpin di tengah masyarakat.

“Dharma Wacana ini mengangkat tema Tat Twam Asi dalam kehidupan, Tat Twam Asi dalam kepemimpinan. Ini sangat relevan dengan tantangan dan kondisi bangsa saat ini,” ujar Senantara, didampingi Sekretaris DPW Partai NasDem Bali Nyoman Winatha serta jajaran pengurus.

Ia menjelaskan, Tat Twam Asi yang secara filosofis bermakna aku adalah engkau dan engkau adalah aku mengajarkan manusia untuk melihat sesamanya sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan. Di dalamnya terdapat pesan tentang kasih sayang, empati, penghormatan, dan kesadaran untuk tidak memandang orang lain lebih rendah dari diri sendiri.

Dalam kehidupan sehari-hari, nilai tersebut dapat diwujudkan melalui sikap saling menghormati, baik terhadap sesama manusia, bangsa dan negara, maupun kepada orang tua.

“Tat Twam Asi dalam kehidupan bagaimana menumbuhkan rasa kasih dan sayang sehingga keberadaan kita bermanfaat untuk kita semua,” ungkap Senantara yang juga merupakan Anggota Komisi VI DPR RI dari Daerah Pemilihan Bali.

Namun, menurutnya, makna Tat Twam Asi menjadi semakin penting ketika diterapkan dalam kepemimpinan. Sebab, seorang pemimpin tidak cukup hanya memahami persoalan masyarakat dari balik meja atau melalui laporan administratif. Pemimpin harus hadir, melihat secara langsung, dan memiliki kepekaan untuk merasakan apa yang dialami rakyatnya.

Senantara menguraikan tiga hal utama yang harus menjadi pegangan seorang pemimpin.

Pertama, ketika masyarakat mengalami kesulitan, pemimpin harus turun langsung ke lapangan. Kehadiran pemimpin bukan semata untuk menunjukkan kepedulian, melainkan untuk benar-benar memahami beban dan kesulitan yang dirasakan masyarakat.

Kedua, ketika masyarakat menghadapi ketidakadilan, pemimpin harus hadir untuk memperjuangkan keadilan. Tidak boleh ada sikap membiarkan ketika hak-hak masyarakat terabaikan.

Ketiga, ketika masyarakat belum merasakan kesejahteraan, pemimpin harus turun dan melihat langsung realitas kehidupan mereka. Pemimpin perlu memahami bagaimana perjuangan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan hidup, termasuk beratnya persoalan yang mungkin tidak pernah dirasakan dari balik kenyamanan ruang kekuasaan.

“Itulah Tat Twam Asi kepemimpinan. Jadi ambil hikmahnya untuk kehidupan kita bersama. Harapannya Partai NasDem tidak jauh dari kehidupan Tat Twam Asi, tidak jauh dari kepemimpinan Tat Twam Asi,” tegasnya.

Pesan tersebut sekaligus menjadi pengingat bahwa kepemimpinan sejatinya bukan hanya tentang jabatan, kewenangan, ataupun kekuasaan. Kepemimpinan adalah kesediaan untuk mendengar, keberanian untuk membela, serta kemampuan menempatkan kepentingan masyarakat di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.

Dalam kesempatan itu, Senantara juga mengajak seluruh kader Partai NasDem di Bali untuk terus memperkuat persatuan dan solidaritas. Terlebih, partai politik akan menghadapi berbagai agenda strategis ke depan, termasuk persiapan menuju Pemilu 2029.

Ia berharap seluruh kader mampu menjaga semangat kebersamaan dan gotong royong dalam membesarkan Partai NasDem, baik di Bali maupun di seluruh Nusantara.

“Harapan saya, mari bersama-sama menumbuhkembangkan rasa persatuan, bergotong royong untuk membesarkan Partai NasDem di seluruh Bali dan Nusantara,” pesannya.

Sementara itu melalui pemaparannya, narasumber Prof Alit Putrawan mengulas bagaimana nilai-nilai ajaran Hindu dapat menjadi landasan dalam membangun kepemimpinan yang berkarakter, bijaksana, adil, serta menghargai keberadaan orang lain.

Konsep Tat Twam Asi, yang secara filosofis mengandung makna bahwa aku adalah engkau dan engkau adalah aku, menjadi fondasi spiritual dalam membangun kesadaran untuk menghormati sesama. Prinsip ini mengajarkan bahwa setiap manusia memiliki keterhubungan sehingga penghargaan terhadap orang lain harus menjadi bagian dari sikap dan tindakan seorang pemimpin.

Selain itu, Kakawin Ramayana 1.3 memberikan tuntunan mengenai etika kepemimpinan melalui ajaran Weh ring Weda, bhakti ring Weda, tar paluping pitra puja, masitesiring swagotra kabeh. Ajaran tersebut menekankan pentingnya penguasaan pengetahuan, pelaksanaan nilai-nilai dharma, penghormatan terhadap leluhur dan tradisi, serta kepedulian terhadap seluruh masyarakat.

Pembahasan juga mengangkat Asta Brata, yakni delapan karakter kepemimpinan yang mengambil filosofi dari sifat-sifat alam semesta. Delapan prinsip tersebut meliputi Indra Brata, Yama Brata, Surya Brata, Candra Brata, Bayu Brata, Kuwera Brata, Baruna Brata, dan Agni Brata.

Masing-masing mengandung nilai kepemimpinan yang saling melengkapi. Indra Brata mengajarkan pemimpin untuk memberikan kesejahteraan dan manfaat bagi masyarakat. Yama Brata menekankan penegakan keadilan secara adil dan tegas, sedangkan Surya Brata mengajarkan pentingnya memberikan pencerahan, arah, dan harapan.

Selanjutnya, Candra Brata menggambarkan pemimpin yang mampu menciptakan ketenangan dan kedamaian. Bayu Brata menekankan kedekatan dengan masyarakat, mendengar aspirasi, serta memahami persoalan. Kuwera Brata mengajarkan pengelolaan sumber daya secara bertanggung jawab dan transparan.

Sementara itu, Baruna Brata menekankan integritas dan keteguhan terhadap kebenaran, sedangkan Agni Brata mencerminkan semangat kerja, keberanian, dan ketegasan dalam menjalankan dharma.

Ketiga landasan tersebut, yakni Tat Twam Asi sebagai fondasi spiritual, Kakawin Ramayana 1.3 sebagai pedoman etika, dan Asta Brata sebagai pedoman karakter, disintesiskan menjadi konsep kepemimpinan yang berlandaskan pengabdian serta penghargaan terhadap sesama.

Nilai-nilai tersebut juga relevan diterapkan dalam kehidupan organisasi, masyarakat, maupun pemerintahan. Dalam organisasi, kepemimpinan perlu dibangun melalui sikap saling mendengarkan, menghargai perbedaan, dan memperkuat kebersamaan. Dalam kehidupan sosial, pemimpin diharapkan mampu melayani masyarakat yang lemah, memberikan kesempatan yang adil, serta menciptakan manfaat bagi semua pihak.

“Sementara dalam kehidupan politik dan pemerintahan, prinsip-prinsip Tat Twam Asi dapat menjadi pedoman untuk mengedepankan keadilan, menjaga keharmonisan, dan memperjuangkan kesejahteraan bersama,” ujar Prof Alit Putrawan.

Melalui persembahyangan bersama dan Dharma Wacana ini, DPW Partai NasDem Bali menjadikan peringatan HUT ke-15 partai sebagai momentum untuk melakukan refleksi, tidak hanya tentang perjalanan organisasi, tetapi juga tentang nilai-nilai yang harus menjadi pijakan dalam berpolitik dan mengabdi kepada masyarakat.

Sebab, pada akhirnya, makna kepemimpinan tidak diukur dari seberapa tinggi seseorang menduduki jabatan, melainkan dari seberapa besar kepeduliannya terhadap sesama. Sejalan dengan pesan Tat Twam Asi, seorang pemimpin semestinya mampu merasakan apa yang dirasakan rakyatnya, sebab penderitaan mereka bukanlah sesuatu yang asing, melainkan bagian dari tanggung jawab kemanusiaan yang harus diperjuangkan bersama. (kbs)

Berita Lainnya

Berita Terkini