Foto : Gubernur Bali, Wayan Koster saat meninjau langsung Shortcut Mengwi–Singaraja.
Denpasar, KabarBaliSatu
Shortcut Mengwi–Singaraja bukan sekadar proyek infrastruktur. Ia menjelma menjadi ujian serius tentang arah pembangunan Bali: apakah tetap berputar di selatan atau mulai bergerak adil ke seluruh wilayah. Bagi Bali Utara, jalan ini adalah jawaban atas ketimpangan lama yang selama puluhan tahun membatasi potensi hanya karena persoalan akses.
Selama ini, jarak antara Buleleng dan Denpasar tidak pernah benar-benar diukur dengan kilometer. Ia diukur dengan waktu yang terbuang, energi yang terkuras, dan risiko perjalanan yang harus ditanggung warga.
Jalan berliku, tanjakan curam, serta tikungan ekstrem menjadikan perjalanan ke pusat pemerintahan dan ekonomi sebagai beban harian.
Berangkat pagi buta, pulang larut malam, satu hari habis di jalan. Dalam situasi seperti itu, wacana pemerataan kerap terdengar kosong.
Kondisi tersebut berdampak langsung pada denyut ekonomi. Investasi sulit tumbuh di wilayah dengan akses mahal dan tidak efisien.
Pariwisata pun tertahan karena wisatawan harus “dipersuasi” lebih dulu untuk mau menempuh perjalanan yang melelahkan dan berisiko. Potensi besar Bali Utara akhirnya terpasung oleh infrastruktur yang tertinggal.
Di titik inilah Shortcut Mengwi–Singaraja mengambil makna strategis. Jalan ini dirancang untuk memotong tanjakan ekstrem, meluruskan tikungan berbahaya, dan memulihkan logika jarak antardaerah.
Waktu tempuh dipangkas signifikan, risiko kecelakaan ditekan, biaya logistik menurun. Dampaknya tidak berhenti di statistik proyek, tetapi terasa langsung di kehidupan sehari-hari masyarakat.
Secara politik, infrastruktur selalu mencerminkan keberpihakan. Pembangunan shortcut ini mengirimkan pesan tegas bahwa pembangunan tidak boleh semata mengikuti arus modal dan keramaian.
Negara dan pemerintah daerah memiliki kewajiban moral untuk mengangkat wilayah yang lama terpinggirkan, bukan menjadikan kondisi geografis sebagai alasan pembenaran ketimpangan.
Shortcut Mengwi–Singaraja juga membawa perubahan psikologis bagi Bali Utara. Akses yang membaik menumbuhkan rasa percaya diri wilayah.
Pariwisata mulai memiliki peluang tumbuh lebih sehat, UMKM mendapat ruang berkembang, dan investasi memperoleh dasar rasional untuk masuk. Anak-anak muda Buleleng tidak lagi harus selalu memandang ke selatan untuk merancang masa depan; mereka punya alasan untuk membangun dari kampung halaman sendiri.
Lebih jauh, jalan ini menjadi ukuran konkret keadilan pembangunan. Keadilan tidak berhenti pada pidato atau dokumen perencanaan, tetapi dapat diukur dari seberapa cepat masyarakat tiba di tujuan, seberapa kecil risiko yang mereka hadapi, dan seberapa besar peluang ekonomi yang terbuka setelahnya.
Jika Shortcut Mengwi–Singaraja gagal dipahami sebagai simbol dan instrumen keadilan, Bali berisiko mengulang kesalahan lama: membiarkan sebagian wilayah terus tertinggal hanya karena aksesnya dibiarkan berjalan lebih jauh.
Jalan ini bukan sekadar penghubung antarwilayah, melainkan penghubung antara janji pemerataan dan realitas pembangunan yang adil. (kbs)

