Foto: Suasana keseruan Golkar Bali Cup Tasters Championship 2026 untuk tingkat Kota Denpasar yang digelar di Wantilan Sekretariat DPD Partai Golkar Bali di Jalan Suradipa, Denpasar, Sabtu, 31 Januari 2026.
Denpasar, KabarBaliSatu
Aroma kopi menyeruak lembut, memenuhi setiap sudut Wantilan Sekretariat DPD Partai Golkar Bali di Jalan Suradipa, Denpasar, Sabtu, 31 Januari 2026. Wanginya tidak sekadar harum, tetapi hidup—menyatu dengan denyut semangat puluhan anak muda yang berdiri berderet, menggenggam cangkir hitam dan sendok, bersiap menyeruput takdir mereka seteguk demi seteguk.
Satu per satu cangkir dicicipi. Hening sesaat menyelimuti ruangan. Wajah-wajah muda itu tampak tegang namun menyala oleh antusiasme, seolah di balik kepulan uap kopi tersimpan mimpi menjadi juara. Itulah potret pembuka Golkar Bali Cup Tasters Championship 2026, ajang bergengsi yang digelar DPD Partai Golkar Provinsi Bali di bawah kepemimpinan Gde Sumarjaya Linggih (Demer) sebagai Ketua DPD Partai Golkar Bali.
Kejuaraan ini bukan sekadar lomba. Ia adalah perjalanan panjang yang dirancang bertahap, berawal dari Kota Denpasar sebagai titik mula estafet pencarian talenta, lalu bergerak menyusuri delapan kabupaten se-Bali. Di sembilan kabupaten/kota se-Bali, Golkar Bali membawa pesan yang sama: kompetisi, pembinaan, dan kelahiran generasi cup taster Bali yang siap melangkah lebih jauh—bahkan melampaui batas pulau.
Cup Tasters Penjaga Cita Rasa Kopi

Lewat ajang ini, Golkar Bali membuka ruang bagi lahirnya lebih banyak cup tasters—atau akrab disebut cupers—para profesional dengan ketajaman sensorik dalam menilai aroma, rasa, dan kualitas kopi melalui teknik cupping. Di industri kopi modern, mereka adalah penjaga cita rasa kopi: mengenali karakter kopi, memetakan profil aroma dan rasa, hingga mendeteksi cacat seduhan dengan presisi tinggi.
Harapannya jelas, Bali tak hanya dikenal sebagai pulau pariwisata, tetapi juga sebagai lumbung atlet cup tasters yang mampu mengharumkan nama daerah di panggung nasional hingga dunia.
Bergulir di Seluruh Bali

Kompetisi perdana untuk tingkat Kota Denpasar ini berlangsung selama dua hari, Sabtu 31 Januari 2026 untuk babak penyisihan dan–Minggu 1 Februari 2026 untuk babak final. Di setiap kabupaten/kota, sebanyak 32 peserta bertanding untuk memperebutkan gelar juara.
Dari sana akan lahir empat juara—Juara I hingga Juara IV—dengan tiga terbaik melaju ke tingkat provinsi untuk beradu kemampuan dengan para juara dari seluruh Bali. Pemenang provinsi selanjutnya akan difasilitasi mengikuti kompetisi regional di Jakarta, membuka jalan menuju kejuaraan nasional dan internasional.
Cetak Regenarasi Atlet Cup Tasters Berkelas Dunia

Ketua Panitia Golkar Bali Cup Tasters Championship 2026, Kiki, menegaskan ajang ini lahir dari semangat regenerasi. “Sekarang sudah ada atlet cup tasters dari Bali yang akan mengikuti kejuaraan dunia di Thailand tahun 2026. Kami ingin menciptakan regenerasi, agar lebih banyak lagi atlet cup tasters lahir dari Bali,” ujarnya.
Menurut Kiki, ke depan standar lomba akan mengikuti regulasi nasional sebelum diselaraskan dengan standar internasional. Denpasar menjadi gerbang awal, lalu kompetisi akan terhubung ke kabupaten-kabupaten berikutnya.
Soal kemampuan utama seorang cup taster, Kiki menekankan bahwa ketajaman sensori hanyalah satu bagian dari keseluruhan. “Yang utama itu sensori, lalu kecepatan, ketepatan, dan yang paling penting mental. Kalau jago sensori saja tapi mental drop di atas panggung, percuma,” katanya.
Cetak Barista Muda Profesional, Dunia Sedang Minum Kopi

Sementara itu, Ketua DPD Partai Golkar Provinsi Bali Gde Sumarjaya Linggih (Demer) didampingi Sekretaris DPD Partai Golkar Provinsi Bali Dewa Gede Dwi Mahayana Putra Nida yang akrab disapa Wiwin dan sejumlah pengurus mengaku bangga dan bahagia melihat antusiasme para peserta. Baginya, kejuaraan ini adalah langkah konkret Golkar Bali dalam mencetak talenta muda perkopian, termasuk cupers dan barista profesional masa depan.
Rasa penasaran membawanya ikut mencoba langsung tantangan cup tasters sebelum lomba dimulai. Ia mengakui, membedakan kopi yang tampak serupa ternyata tidak mudah—namun justru di sanalah letak serunya.
“Kita mengadakan cup tasters ini untuk mencari bakat-bakat barista di Bali, agar nantinya mereka bisa menjadi duta barista Bali di tingkat nasional maupun internasional,” ujar Demer yang juga Anggota DPR RI dari Fraksi Partai Golkar Dapil Bali itu.
Ia berharap anak-anak muda Bali memiliki keahlian yang membuat mereka mampu bekerja di mana pun di dunia. “Kopi sekarang sedang naik daun. Dunia sedang minum kopi,” katanya, tersenyum.
Bali Sebagai Destinasi Kopi

Bagi Demer yang juga Anggota Komisi VI DPR RI itu, peluang ini tak boleh disia-siakan. Lebih dari sekadar lomba, ia memimpikan Bali sebagai destinasi kopi—tempat di mana kopi Bali menjadi bagian dari identitas kuliner yang dicari dunia. Ia menekankan pentingnya penyelenggaraan yang netral dan berkualitas, agar benar-benar lahir juara yang siap bersaing di level tertinggi.
Potensi Indonesia, khususnya Bali, disebut Demer sangat besar. Letak geografis di garis khatulistiwa dengan sinar matahari sepanjang tahun adalah anugerah bagi pertumbuhan kopi. Dari sana akan tumbuh pengusaha, petani, dan lapangan kerja baru—jawaban atas tantangan bonus demografi dan kebutuhan tenaga kerja.
Harapannya melampaui seremoni: anak muda Bali berani berbisnis kopi, bekerja di sektor kopi, pariwisata, hingga pertanian, dan membangun masa depan dari biji kopi yang mereka pahami dengan sepenuh rasa.
Dari Bali ke Level Dunia

Penanggung jawab Golkar Bali Cup Tasters Championship 2026, Fitra, menambahkan ajang ini dirancang untuk melahirkan generasi muda baru yang mampu membawa nama Bali bersinar di tingkat nasional bahkan internasional.
“Bali punya banyak talenta muda yang potensial dan terbukti mampu berprestasi. Salah satunya Alif Andira, barista asal Bali yang menjadi Juara Nasional Indonesia Cup Tasters Championship 2025/2026 dan akan mewakili Indonesia di World Cup Tasters Championship 2026 di Bangkok,” ungkap Fitra.
Dalam kompetisi cup tasters, peserta diuji ketajaman indera pengecapan dan penciuman. Setiap peserta akan menghadapi delapan set kopi dengan total 24 cangkir. Dalam tiap set terdapat tiga cangkir, di mana satu cangkir memiliki rasa berbeda dari dua cangkir lainnya yang sejenis. Peserta harus menemukan perbedaan tersebut dalam waktu delapan menit.
“Kalau tebakannya benar, berarti sensory lidahnya sangat baik. Ini murni uji ketepatan rasa dan fokus,” jelas Fitra.
Ia menambahkan, kemampuan cup tasters merupakan keterampilan dasar bagi seorang barista untuk mengenali karakter kopi, mulai dari aroma, rasa, hingga keunikan setiap origin. Keterampilan ini menjadi fondasi penting untuk menyajikan kopi berkualitas, baik di dalam maupun luar negeri.
Dalam kejuaraan ini, panitia menyiapkan 15 jenis kopi. Sebanyak 13 di antaranya berasal dari empat daerah utama penghasil kopi di Bali, yakni Bangli (Kintamani), Badung (Plaga), Tabanan (Pupuan), dan Buleleng (Munduk). Dua jenis kopi lainnya berasal dari Toraja sebagai pembanding.
“Kami ingin meningkatkan skill teman-teman di industri kopi, terutama mereka yang bercita-cita bekerja di luar negeri atau di kapal pesiar. Cup tasters ini jadi modal penting,” tandas Fitra.
Kopi dan Mimpi untuk Bali
Di Wantilan itu, di antara denting sendok dan desah napas para peserta, kopi menjadi lebih dari minuman. Ia menjelma bahasa mimpi, jembatan antara potensi dan prestasi.
Dan komitmen Demer bersama Golkar Bali adalah api kecil yang dijaga agar terus menyala—seperti bara di tungku kopi—menghangatkan jalan lahirnya talenta muda perkopian, mencetak barista profesional, melahirkan pengusaha muda sukses, serta atlet cup tasters berprestasi yang kelak menebarkan harum nama Bali ke penjuru dunia. (kbs)

