BerandaDaerahJelang PKB 2026, Pembenahan Peed Aya dan Administrasi Seniman Warnai Persiapan PKB...

Jelang PKB 2026, Pembenahan Peed Aya dan Administrasi Seniman Warnai Persiapan PKB 2026

Menata Seni, Menjaga Tradisi: Disbud Bali Perkuat Fondasi PKB 2026

Foto: Pembukaan PKB 2025.

Denpasar, KabarBaliSatu

Pemerintah Provinsi Bali melalui Dinas Kebudayaan (Disbud) Bali terus mematangkan persiapan menjelang pembukaan Pesta Kesenian Bali (PKB) XLVIII yang dijadwalkan berlangsung pada 13 Juni 2026. Berbagai pembenahan dilakukan, mulai dari peningkatan pelayanan administrasi bagi para seniman hingga penataan konsep pawai budaya atau Peed Aya agar tampil lebih atraktif, tertib, dan sesuai dengan karakter pertunjukan berjalan.

Kepala Dinas Kebudayaan Bali, Ida Bagus Alit Suryana, mengungkapkan bahwa persoalan administrasi masih menjadi tantangan yang kerap dihadapi dalam proses fasilitasi kelompok seni. Tidak sedikit kelompok kesenian yang sebenarnya telah siap tampil dan memperoleh dukungan pemerintah, namun terkendala oleh kelengkapan dokumen yang belum terpenuhi.

Menurutnya, pemerintah wajib menjalankan seluruh proses berdasarkan regulasi dan tata kelola administrasi yang berlaku. Karena itu, kelengkapan dokumen menjadi syarat penting agar proses fasilitasi dapat berjalan lancar.

“Sering kali ketika seluruh persiapan sudah hampir rampung, masih ada dokumen yang belum lengkap. Padahal pemerintah harus bekerja sesuai aturan yang berlaku,” ujarnya saat rapat persiapan PKB di Kantor Disbud Bali, Jumat (5/6).

Sebagai langkah antisipasi, Disbud Bali akan menerapkan sistem pendampingan lebih awal kepada kelompok-kelompok seni yang diproyeksikan tampil pada penyelenggaraan berikutnya. Dengan pola ini, para peserta dapat menyiapkan seluruh dokumen jauh sebelum proses administrasi dimulai.

Alit Suryana menjelaskan, pihaknya telah memiliki pemetaan terhadap kelompok seni potensial yang kemungkinan besar akan tampil pada tahun berikutnya. Karena itu, proses pengumpulan dokumen akan dilakukan sejak dini agar tidak lagi menjadi hambatan saat pelaksanaan program.

“Kami ingin memberikan pelayanan yang lebih baik kepada para seniman dan pekerja budaya. Dengan persiapan administrasi sejak awal, proses fasilitasi akan jauh lebih efektif,” katanya.

Selain pembenahan administrasi, perhatian besar juga diarahkan pada pelaksanaan Peed Aya yang menjadi salah satu agenda paling dinanti dalam rangkaian PKB.

Kurator PKB, Prof. I Made Bandem, menjelaskan bahwa konsep pawai budaya tahun ini dirancang lebih dinamis dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya. Kontingen peserta diharapkan tidak lagi terlalu lama berhenti di titik tertentu untuk menampilkan adegan statis yang berpotensi menghambat arus pawai.

Menurut Bandem, tim kurator telah melakukan kunjungan langsung ke seluruh kabupaten dan kota di Bali untuk memberikan arahan kepada para pembina serta penggarap karya. Mereka diminta menyesuaikan konsep pertunjukan agar tetap menarik meskipun disajikan sambil bergerak.

“Kami mendorong setiap kontingen menampilkan bagian-bagian paling kuat dari cerita atau materi yang diusung. Dengan begitu atraksi tetap bisa disajikan secara maksimal tanpa harus berhenti terlalu lama,” jelasnya.

Ia mengakui selama ini masih terdapat sejumlah peserta yang melampaui batas waktu penampilan yang telah ditetapkan. Padahal setiap kontingen melibatkan ratusan orang sehingga keterlambatan satu rombongan dapat berdampak pada keseluruhan jalannya pawai.

Kurator menetapkan durasi ideal penampilan sekitar 15 menit. Namun pada pelaksanaan sebelumnya, beberapa kontingen bahkan tampil hingga lebih dari 20 menit.

“Tahun ini kami berupaya agar pengaturan waktu lebih disiplin sehingga semua peserta memperoleh kesempatan yang adil dan pawai berlangsung lebih lancar,” tegas Bandem.

Pandangan serupa disampaikan kurator lainnya, Prof. I Made Dibia. Ia optimistis kualitas Peed Aya tahun ini akan meningkat karena proses latihan dan simulasi sudah dilakukan dengan pola bergerak di lapangan, bukan hanya berlatih di dalam wantilan seperti sebelumnya.

Menurut Dibia, pendekatan tersebut akan menghasilkan prosesi yang lebih realistis dan sesuai dengan esensi pawai budaya.

“Harapan kami, Peed Aya benar-benar tampil sebagai pertunjukan berjalan yang hidup, bukan sekadar pertunjukan panggung yang dipindahkan ke jalan,” ujarnya.

Untuk menjaga kelancaran arus peserta, tim kurator juga mengimbau agar kontingen tidak menggunakan dalang atau dialog panjang yang berpotensi membuat rombongan berhenti terlalu lama di satu titik.

Narasi tetap diperbolehkan sebagai bagian dari penguatan cerita, namun penyampaiannya diharapkan tidak mengganggu ritme perjalanan pawai.

Di sisi lain, kenyamanan penonton juga menjadi perhatian utama panitia. Masyarakat akan diarahkan menempati area tribun yang telah disiapkan sepanjang jalur pawai sehingga peserta dapat menampilkan atraksi hingga akhir lintasan tanpa terganggu oleh kerumunan yang memasuki badan jalan.

Penataan tersebut diharapkan menciptakan pengalaman menonton yang lebih nyaman sekaligus menjaga kelancaran jalannya prosesi budaya.

“Dengan sistem tribun yang lebih tertata, masyarakat dapat menikmati seluruh atraksi sampai akhir rute. Ini akan mendukung upaya menghadirkan Peed Aya yang tertib, dinamis, dan semakin menarik,” kata Dibia.

Melalui berbagai pembenahan tersebut, Pemerintah Provinsi Bali berharap PKB XLVIII Tahun 2026 mampu menghadirkan wajah baru penyelenggaraan pesta seni terbesar di Pulau Dewata. Tidak hanya dari sisi pelayanan kepada para seniman, tetapi juga melalui kualitas Peed Aya yang lebih hidup, efisien, dan memikat, sehingga tetap menjadi magnet budaya bagi masyarakat maupun wisatawan. (kbs)

Berita Lainnya

Berita Terkini