BerandaDaerahGubernur Koster Dorong Percepatan Proyek PSEL, Bali Siap Jadi Model Pengolahan Sampah...

Gubernur Koster Dorong Percepatan Proyek PSEL, Bali Siap Jadi Model Pengolahan Sampah Berbasis Energi

Foto: Gubernur Bali Wayan Koster, saat menerima perwakilan pemerintah pusat, Danantara, serta investor asal Tiongkok, Zhejiang Weiming Environment Protection Co., Ltd, yang akan menggarap proyek Waste-to-Energy (WtE) di Denpasar dan Bekasi.

Denpasar, KabarBaliSatu

Gubernur Bali Wayan Koster mempercepat langkah pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) sebagai solusi jangka panjang penanganan sampah di Pulau Dewata. Komitmen tersebut ditegaskan saat Koster menerima perwakilan pemerintah pusat, Danantara, serta investor asal Tiongkok, Zhejiang Weiming Environment Protection Co., Ltd, yang akan menggarap proyek Waste-to-Energy (WtE) di Denpasar dan Bekasi.

Pertemuan tersebut juga dihadiri Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa dan Wali Kota Denpasar IGN Jaya Negara. Dalam forum itu, Koster menegaskan bahwa Bali siap menjadi daerah prioritas dalam pengembangan teknologi pengolahan sampah berbasis energi.

Menurutnya, keberadaan fasilitas PSEL sangat dinantikan masyarakat Bali. Volume sampah yang terus meningkat, seiring status Bali sebagai destinasi pariwisata dunia, menuntut solusi pengelolaan yang modern dan berkelanjutan.

“Kami di Bali sudah satu tim, gubernur, wali kota, dan para bupati. Lahan sudah disiapkan, akses jalan sudah ada, dan sosialisasi kepada masyarakat juga sudah dilakukan. Pada prinsipnya masyarakat sudah setuju, sekarang tinggal berjalan,” ujar Koster.

Ia menegaskan Pemerintah Provinsi Bali siap memberikan dukungan penuh agar proyek tersebut dapat segera terealisasi. Pemerintah daerah juga meminta kejelasan terkait timeline kerja dan tahapan pembangunan agar prosesnya berjalan lebih efektif.

“Kami siap mendukung apa pun yang dibutuhkan agar proyek ini berjalan lancar. Isu pengolahan sampah ini sangat ditunggu masyarakat Bali, sehingga percepatannya harus kita dorong bersama,” tegasnya.

Dari pihak pemerintah pusat, Deputi Bidang Keterjangkauan dan Keamanan Pangan Kemenko Pangan, Nani Hendiarti, menyampaikan komitmen untuk mengawal percepatan pembangunan PSEL, termasuk koordinasi dengan Badan Usaha Pengembang dan Pengelola (BUPP) Danantara.

Ia menjelaskan, proyek PSEL yang masuk dalam batch pertama—termasuk Bali—akan segera dibahas dalam rapat koordinasi terbatas di tingkat pusat. Targetnya, peluncuran proyek di empat lokasi akan dilakukan pada 6 April 2026, ditandai dengan penandatanganan Perjanjian Kerja Sama (PKS).

“Kami mohon dukungan pemerintah daerah untuk segera menuntaskan PKS antara pemda dan BUPP Danantara, termasuk komitmen volume sampah yang akan diolah setiap hari,” ujarnya.

Pemerintah pusat juga menargetkan groundbreaking proyek PSEL di Bali dapat dilakukan pada akhir Juni 2026. Selama masa transisi menuju operasional, pemerintah akan tetap mengawal kebijakan penutupan tempat pembuangan akhir (TPA) sekaligus memastikan sistem pengelolaan sampah tetap berjalan.

Sementara itu, perwakilan Zhejiang Weiming Environment Protection Co., Ltd memastikan teknologi yang digunakan di fasilitas PSEL Bali akan memenuhi standar emisi Eropa, sehingga aman bagi kualitas udara dan lingkungan.

Fasilitas ini juga dirancang menggunakan sistem zero limbah air (lindi). Seluruh residu pengolahan sampah akan diproses secara maksimal agar tidak mencemari lingkungan. Bahkan sebagian residu dapat dimanfaatkan kembali menjadi produk bernilai guna seperti conblock, paving block, hingga material konstruksi.

Selain teknologi pengolahan, pemerintah pusat bersama investor juga menyiapkan dukungan tambahan berupa truk listrik pengangkut sampah untuk menunjang sistem pengelolaan sampah modern di Bali.

Dengan percepatan pembangunan ini, Bali diharapkan menjadi daerah pertama di Indonesia yang memiliki fasilitas PSEL skala besar, sekaligus menjadi model pengelolaan sampah terpadu bagi daerah lain di Tanah Air. (kbs)

Berita Lainnya

Berita Terkini