BerandaDaerahGelar Sosialisasi Empat Pilar di Bangli, Gde Sumarjaya Linggih: Membangun Generasi Emas...

Gelar Sosialisasi Empat Pilar di Bangli, Gde Sumarjaya Linggih: Membangun Generasi Emas Tak Cukup dengan Infrastruktur, Kesehatan Ibu dan Anak Jadi Fondasi

Foto: Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan di Desa Pengotan, Kabupaten Bangli, Sabtu (26/9/2026).

Bangli, KabarBaliSatu

Upaya mencegah stunting tidak cukup dilakukan setelah anak lahir. Persiapan harus dimulai jauh lebih awal, bahkan sejak sebelum kehamilan. Pesan itu disampaikan Anggota Komisi VI DPR RI Fraksi Golkar Dapil Bali, Gde Sumarjaya Linggih atau akrab disapa Demer, saat menggelar Sosialisasi Empat Pilar Kebangsaan di Desa Pengotan, Kabupaten Bangli, Sabtu (26/9/2026).

Sosialisasi yang dihadiri ibu-ibu PKK Desa Pengotan tersebut mengusung tema “Empat Pilar Kebangsaan Mewujudkan Kehamilan Sehat dalam Menyiapkan Generasi Emas Bebas Stunting.”

Demer mengatakan, kualitas generasi masa depan sangat ditentukan sejak fase awal kehidupan. Karena itu, kesehatan calon ibu, kecukupan gizi, pemeriksaan kehamilan secara rutin, hingga dukungan keluarga menjadi bagian penting dalam mencegah gangguan pertumbuhan anak.

“Kehamilan yang sehat merupakan investasi jangka panjang untuk melahirkan generasi yang sehat, cerdas, produktif, dan memiliki daya saing. Karena itu, pencegahan stunting harus menjadi perhatian bersama, dimulai dari keluarga dan lingkungan terdekat,” ujar Demer.

Menurutnya, pembangunan sumber daya manusia tidak hanya berbicara mengenai pertumbuhan ekonomi, pendidikan, maupun pembangunan infrastruktur. Kualitas kesehatan generasi penerus juga menjadi fondasi yang tidak boleh diabaikan.

Anak yang tumbuh sehat, kata Demer, memiliki kesempatan lebih besar untuk berkembang secara optimal, memperoleh pendidikan yang baik, serta kelak menjadi bagian dari sumber daya manusia yang produktif dan berdaya saing.

Empat Pilar Kebangsaan dan Generasi Emas

Dalam konteks tersebut, Demer mengaitkan upaya menciptakan generasi emas dengan penguatan Empat Pilar Kebangsaan, yakni Pancasila, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), dan Bhinneka Tunggal Ika.

Empat Pilar Kebangsaan merupakan nilai dan landasan fundamental dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Pancasila menjadi dasar negara sekaligus pedoman nilai dalam kehidupan bangsa. UUD NRI Tahun 1945 menjadi landasan konstitusional dalam penyelenggaraan negara dan kehidupan berbangsa.

Sementara NKRI menegaskan bentuk serta keutuhan negara Indonesia yang harus dijaga bersama. Sedangkan Bhinneka Tunggal Ika mencerminkan semangat persatuan di tengah keberagaman suku, agama, budaya, bahasa, dan latar belakang masyarakat Indonesia.

Menurut Demer, pemahaman terhadap Empat Pilar tidak cukup berhenti pada pengetahuan mengenai kehidupan bernegara. Nilai-nilai tersebut juga perlu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari, termasuk melalui kepedulian terhadap kesehatan keluarga dan kualitas generasi penerus.

“Menjaga Empat Pilar Kebangsaan bukan hanya berbicara tentang bagaimana kita mempertahankan persatuan dan keutuhan bangsa, tetapi juga bagaimana kita mempersiapkan generasi penerus yang sehat, berkualitas, berkarakter, dan memiliki rasa tanggung jawab terhadap bangsa dan negara,” katanya.

Demer menegaskan, keluarga memiliki posisi strategis dalam membangun generasi tersebut. Keluarga merupakan lingkungan pertama tempat anak memperoleh pendidikan, pembentukan karakter, sekaligus pemenuhan kebutuhan dasar, termasuk kesehatan dan gizi.

Pemenuhan kebutuhan gizi ibu hamil, pemeriksaan kesehatan, pemberian ASI, makanan bergizi setelah kelahiran, hingga pemantauan tumbuh kembang anak harus dilakukan secara berkelanjutan.

Ia juga mendorong adanya sinergi antara pemerintah, tenaga kesehatan, keluarga, masyarakat, dan berbagai pemangku kepentingan. Menurutnya, pencegahan stunting tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi harus diwujudkan melalui edukasi dan pendampingan yang terus-menerus.

Edukasi bahkan perlu diberikan kepada calon pasangan dan calon orang tua. Dengan begitu, pemahaman mengenai kesehatan reproduksi, gizi, kehamilan, serta pola pengasuhan sudah terbentuk sejak awal.

“Kalau kita ingin mewujudkan Indonesia yang kuat, maka kita harus memastikan anak-anak kita tumbuh sehat dan mendapatkan kesempatan yang sama untuk berkembang. Generasi emas harus dipersiapkan sejak dari keluarga, bahkan sejak sebelum seorang ibu menjalani kehamilan,” tegasnya.

Bukan Sekadar Makan Banyak

Dalam sesi diskusi, Demer juga menyoroti masih adanya pemahaman yang keliru di masyarakat mengenai pemenuhan gizi ibu dan anak.

Menurutnya, tingginya antusiasme peserta untuk bertanya menunjukkan masih ada informasi dasar mengenai gizi dan kesehatan ibu-anak yang belum sepenuhnya dipahami.

Persoalannya, kata dia, bukan semata-mata mengenai ketersediaan makanan, tetapi juga pemahaman tentang apa yang dimaksud dengan gizi seimbang.

“Banyak yang mengira makan banyak itu pasti baik, padahal belum tentu. Ada yang merasa harus makan berlebihan saat hamil, padahal yang dibutuhkan adalah gizi yang tepat dan seimbang,” ujarnya.

Ia mencontohkan adanya anggapan bahwa kenaikan berat badan yang tinggi selama kehamilan selalu menjadi indikator kondisi yang baik. Padahal, pola makan selama kehamilan tetap perlu diperhatikan agar kebutuhan nutrisi terpenuhi secara tepat dan tidak berlebihan.

Demer juga menekankan pentingnya pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama setelah kelahiran serta melanjutkan pemberian ASI hingga anak berusia dua tahun.

Posyandu Harus Diperkuat

Selain peran keluarga, Demer menilai Posyandu harus semakin diperkuat sebagai garda terdepan edukasi kesehatan masyarakat.

Menurutnya, Posyandu tidak hanya berperan dalam kegiatan pelayanan kesehatan, tetapi juga harus aktif memberikan penyuluhan mengenai gizi, pola asuh, kesehatan ibu dan anak, serta langkah-langkah pencegahan stunting.

“Posyandu harus lebih aktif dan lebih gencar dalam melakukan penyuluhan, terutama di tengah masih banyaknya masyarakat yang belum memahami pola asuh dan pola makan yang tepat untuk mencegah stunting,” katanya.

Demer menilai pemerintah masih perlu memperkuat upaya pencegahan di tingkat lapangan. Program kesehatan, menurutnya, harus diiringi komunikasi yang lebih dekat dengan masyarakat.

Edukasi yang sederhana, berulang, dan mudah dipahami dinilai menjadi salah satu kunci agar pesan kesehatan dapat benar-benar diterapkan oleh keluarga.

Investasi untuk Masa Depan Indonesia

Demer juga mengaitkan persoalan stunting dengan tantangan pembangunan sumber daya manusia Indonesia. Sebagai negara dengan kekayaan sumber daya alam yang besar, Indonesia membutuhkan generasi yang sehat, cerdas, produktif, dan memiliki daya saing.

Karena itu, pembangunan manusia menurutnya tidak kalah penting dibandingkan pembangunan infrastruktur.

Kekayaan alam yang melimpah, kata Demer, hanya akan menjadi potensi yang belum optimal apabila tidak diimbangi kualitas manusia yang mampu mengelola dan mengembangkannya.

“Investasi pada kesehatan ibu dan anak pada akhirnya adalah investasi terhadap masa depan Indonesia,” ujarnya.

Ia berharap generasi yang tumbuh sehat nantinya tidak hanya mampu menghadapi tantangan pembangunan, tetapi juga menjadi penerus yang menjaga persatuan, keberagaman, dan nilai-nilai kebangsaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Di sisi lain, Demer kembali menekankan pentingnya merawat nilai-nilai Empat Pilar Kebangsaan. Keberagaman Indonesia harus terus dijaga agar persatuan tetap menjadi fondasi dalam membangun bangsa.

Menurutnya, Bali sejauh ini telah menunjukkan contoh kehidupan masyarakat yang mampu merawat toleransi di tengah keberagaman. Semangat persatuan tersebut, jika berjalan beriringan dengan pembangunan sumber daya manusia yang kuat, akan menjadi fondasi penting bagi masa depan Indonesia.

Melalui sosialisasi tersebut, Demer berharap kesadaran masyarakat mengenai pentingnya gizi, kesehatan ibu dan anak, serta peran keluarga dalam mencegah stunting semakin kuat.

Ia juga mendorong Posyandu, tenaga kesehatan, pemerintah, dan masyarakat untuk bergerak bersama agar upaya pencegahan stunting benar-benar dimulai dari akar persoalan dan pada akhirnya mampu melahirkan generasi Bali yang sehat, berkualitas, produktif, dan berkarakter. (kbs)

Berita Lainnya

Berita Terkini