BerandaPendidikanDukung Program “Satu Keluarga Satu Sarjana”, Universitas Dwijendra Siapkan 40 Beasiswa, Bentuk...

Dukung Program “Satu Keluarga Satu Sarjana”, Universitas Dwijendra Siapkan 40 Beasiswa, Bentuk Yadnya Majukan Pendikan Bali

Harapan Baru Anak Keluarga Kurang Mampu Bisa Kuliah Gratis

Foto: Rektor Universitas Dwijendra Prof. Dr. Ir. Gede Sedana, M.Sc., M.M.A.

Denpasar, KabarBaliSatu

Rektor Universitas Dwijendra Prof. Dr. Ir. Gede Sedana, M.Sc., M.M.A., mengungkapkan dukungan penuh terhadap Program “Satu Keluarga Satu Sarjana” yang digagas Gubernur Bali Wayan Koster. Untuk realisasi perdana program ini, Universitas Dwijendra telah menyiapkan kuota sebanyak 40 beasiswa bagi anak atau generasi muda Bali dari keluarga kurang mampu.

Mereka berkesempatan kuliah di 9 program studi (prodi) yang ada di Universitas Dwijendra yang meliputi Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah, Arsitektur, Agribisnis, Agroteknologi, Ilmu Komunikasi, Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, serta Pendidikan Bahasa Inggris, dan Ilmu Hukum.

Rektor Universitas Dwijendra, Prof. Dr. Ir. Gede Sedana, M.Sc., M.M.A., menegaskan bahwa Program Satu Keluarga Satu Sarjana merupakan inisiatif yang sangat relevan dan patut mendapat dukungan luas. Menurutnya, program ini selaras dengan peran strategis perguruan tinggi sebagai ujung tombak pembangunan sumber daya manusia di Bali.

Ia melihat kenyataan bahwa masih banyak lulusan SLTA di Bali yang tidak mampu melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi akibat keterbatasan biaya. Karena itu, program tersebut dinilai menjadi alternatif solusi yang nyata dan penting bagi generasi muda yang kurang mampu secara ekonomi untuk memperoleh akses pendidikan tinggi.

“Kalau saya selaku rektor, memang program satu keluarga satu sarjana ini adalah sesuatu program yang benar-benar harus kita dukung secara bersama-sama, karena masih banyak sekali anak-anak muda kita, mereka yang lulus SLTA tidak bisa melanjutkan ke perguruan tinggi karena keterbatasan biaya,” ujar Prof. Sedana.

Ia menilai bahwa tanpa adanya kesempatan melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi, generasi muda akan terputus dari akses terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi. Meskipun terdapat alternatif lain untuk memperoleh pengetahuan, ia menekankan bahwa perguruan tinggi tetap menjadi tempat yang paling sistematis dan terstruktur dalam mengembangkan wawasan serta kompetensi di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.

“Bagi saya, pada saat mereka tidak bisa melanjutkan maka itu putus sekolah. Akhirnya mereka memiliki pengetahuan atau teknologi yang terbatas, meskipun ada tempat-tempat lain untuk mendapatkan pengetahuan. Tapi bagi kami di kalangan perguruan tinggi, peningkatan pengetahuan dan teknologi itu memang bisa diperoleh secara sistematis di bangku pendidikan tinggi,” tegasnya.

Sebagai bentuk tindak lanjut dari kolaborasi dengan Pemerintah Provinsi Bali, Universitas Dwijendra telah menetapkan kuota awal sebanyak 40 mahasiswa penerima beasiswa. Para penerima akan ditempatkan sesuai minat mereka pada 9 program studi yang tersedia, yakni Pendidikan Bahasa Indonesia dan Daerah, Arsitektur, Agribisnis, Agroteknologi, Ilmu Komunikasi, Pendidikan Guru Sekolah Dasar, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Pendidikan Bahasa Inggris, serta Ilmu Hukum.

Terkait proses seleksi, Prof. Sedana menjelaskan bahwa syarat utama penerima beasiswa adalah berasal dari keluarga kurang mampu. Validasi data dilakukan melalui Dinas Sosial dengan sistem by name by address, yang kemudian diperkuat oleh surat keterangan dari Kelian Adat atau Bendesa setempat. Mahasiswa penerima beasiswa ini akan mendapatkan perlakuan yang setara dengan mahasiswa reguler, termasuk dalam hal pelayanan akademik sejak awal perkuliahan hingga prosesi wisuda.

“Jadi di sana ada data, by name, by address kemudian diperkuat oleh Kelian Adat atau Bendesa. Kami ingin menampung mereka, dan perlakuannya tidak akan berbeda dengan mahasiswa reguler. Mereka akan mendapat pelayanan yang sama, dari awal perkuliahan hingga diwisuda,” ujarnya.

Ketika ditanya mengenai kuota tahun berjalan, Prof. Sedana memastikan bahwa 40 beasiswa tersebut berlaku untuk tahun 2025. Ia juga membuka peluang bahwa kuota bisa bertambah di tahun-tahun berikutnya, tergantung hasil evaluasi dan kesepakatan antarperguruan tinggi dengan pemerintah daerah.

Soal beban keuangan kampus, Prof. Sedana menampik anggapan bahwa program ini akan merugikan institusi. Meskipun tidak ada pemasukan dari mahasiswa penerima beasiswa, hal tersebut dianggap sebagai bentuk Yadnya atau pengabdian perguruan tinggi kepada masyarakat Bali, khususnya bagi anak-anak yang kurang mampu untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Penurunan pendapatan tidak menjadi persoalan utama, karena nilai sosial dan kemanusiaan dari program ini dinilai jauh lebih penting.

“Kalau bicara untung-rugi secara finansial, tentu kami mengalami penurunan pemasukan. Tapi value-nya jauh lebih besar. Ini investasi untuk masa depan. Ketika mereka lulus, mereka akan bisa memberikan kontribusi kepada masyarakat, dan di situ Dwijendra ikut ambil bagian,” katanya.

Mengenai teknis beasiswa, Prof. Sedana menjelaskan bahwa ketentuan detailnya, termasuk hak dan kewajiban mahasiswa, akan dimuat dalam perjanjian kerja sama (PKS) yang saat ini tengah dirancang dan akan diteken bersama Gubernur Bali.

Meski PKS belum rampung, Universitas Dwijendra sudah membuka pendaftaran penerimaan mahasiswa program ini. Generasi muda dari keluarga kurang mampu yang memenuhi syarat dipersilakan segera mendaftar. “Sudah, sudah bisa diinformasikan ke publik,” tegasnya.

Prof. Sedana kemudian mengajak seluruh pihak untuk turut menyebarluaskan informasi ini, agar lebih banyak generasi muda Bali mendapatkan kesempatan emas untuk mengenyam pendidikan tinggi.

“Harapan saya adalah agar kita bersama-sama, dari perguruan tinggi dan media, menyampaikan informasi ini kepada publik. Supaya mereka yang tadinya putus sekolah, putus harapan, bisa melihat ini sebagai peluang. Karena kesempatan itu ada, tinggal bagaimana kita mendorong mereka untuk mengambilnya,” pungkasnya. (kbs)

Berita Lainnya

Berita Terkini