Foto: Gubernur Bali Wayan Koster.
Denpasar, KabarBaliSatu
Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan komitmennya memperkuat eksistensi aksara Bali di era digital. Tak hanya mendorong pemanfaatannya di ruang maya, Koster juga mengapresiasi penggunaan keyboard aksara Bali sebagai langkah konkret pelestarian warisan leluhur.
Pernyataan itu disampaikan saat menutup Bulan Bahasa Bali VIII Tahun 2026 bertema Atma Kerthi: Udiana Purnaning Jiwa di Gedung Ksirarnawa, Taman Werdhi Budaya Art Centre, Denpasar, Sabtu (28/2/2026) sore.
“Tanpa terasa, sejak saya dilantik dan menerbitkan Pergub Nomor 80 Tahun 2018, kita sudah delapan kali menyelenggarakan Bulan Bahasa Bali. Sejak 2019 program ini berjalan konsisten,” ujarnya.
Regulasi tersebut, lanjut Koster, merupakan bagian dari visi pembangunan Bali Nangun Sat Kerthi Loka Bali dalam kerangka Haluan Pembangunan Bali 100 Tahun 2025–2125. Menurutnya, bahasa, aksara, dan sastra Bali telah hidup ribuan tahun sebagai fondasi peradaban Pulau Dewata.
“Kita sebagai generasi penerus wajib memastikan bahasa Bali tetap ada selama Bali ada,” tegas gubernur dua periode itu.
Bukan Sekadar Seremoni
Koster menyebut Bali sebagai satu-satunya provinsi di Indonesia yang memiliki kebijakan resmi dan berkelanjutan terkait Bulan Bahasa Bali. Ia menekankan bahwa fondasi terkuat pembangunan Bali adalah kebudayaan—meliputi adat, seni, dan kearifan lokal.
Peran sekitar 1.500 desa adat pun menjadi sorotan. Namun, ia mengakui masih ada desa adat dan desa/kelurahan yang belum menyelenggarakan kegiatan tahun ini. Ia meminta pendataan lebih rinci dan memastikan seluruh wilayah berpartisipasi.
Di sektor pendidikan, partisipasi dinilai menggembirakan. Hampir seluruh SMA/SMK dan seluruh SLB di Bali telah menggelar kegiatan. Meski demikian, belum semua perguruan tinggi ikut ambil bagian. Dinas Kebudayaan diminta melakukan pendataan detail.
Sebagai bentuk apresiasi, para juara tingkat SD, SMP, dan SMA/SMK akan diundang secara khusus ke Jaya Sabha untuk mendapatkan penghargaan langsung dari gubernur.
Keyboard Aksara Bali dan Program “Go Bali”
Salah satu inovasi yang menuai perhatian adalah penggunaan keyboard aksara Bali oleh siswa SMA/SMK. Koster menyebut inovasi tersebut sebagai kebanggaan tersendiri.
“Saya lihat anak-anak mengetik penuh dengan aksara Bali di keyboard, keren sekali. Hanya di Bali ada seperti ini,” ujarnya, seraya meminta agar perangkat tersebut diperluas hingga jenjang SMP dan SD.
Pemprov Bali juga tengah menyiapkan penguatan aksara Bali di ruang digital melalui kerja sama dengan sejumlah platform media sosial. Pada April mendatang, program “Go Bali” berbasis aksara Bali dijadwalkan diluncurkan, diklaim sebagai inisiatif unik di Indonesia.
Koster menegaskan Bulan Bahasa Bali bukan sekadar agenda tahunan, melainkan ruang regenerasi budaya. Generasi muda kini tak hanya menjadi penonton, tetapi aktif menulis lontar, mengukir aksara di media tradisional, hingga mengekspresikannya di platform modern.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Bali, Ida Bagus Alit Suryana, menjelaskan tema Atma Kerthi: Udiana Purnaning Jiwa dimaknai sebagai altar pemuliaan bahasa, aksara, dan sastra Bali—sebuah taman spiritual untuk membangun jiwa yang mahasempurna.
Ia mengakui masih terdapat 12 desa adat yang belum menyelenggarakan kegiatan tahun ini, tersebar di beberapa kabupaten. Evaluasi akan dilakukan agar partisipasi semakin menyeluruh pada pelaksanaan berikutnya.
Dengan penguatan regulasi, inovasi digital, serta regenerasi di kalangan pelajar, Bali berupaya memastikan bahasa dan aksara leluhurnya tak sekadar bertahan, tetapi tumbuh relevan di tengah arus modernisasi. (kbs)

