Foto: Bupati Karangasem, I Gusti Putu Parwata (Gur Par) menjadi teladan mendukung Program GEMAR (Gerakan Ayah Mengambil Rapor) dengan hadirlangsung di SMA Negeri 2 Amlapura untuk mengambil rapor putranya, I Gusti Ngurah Varioga Pratama.
Karangasem, KabarBaliSatu
Di sebuah pagi yang sederhana, di ruang sekolah yang sarat harapan, seorang ayah melangkah masuk bukan sekadar untuk melihat angka-angka di selembar rapor. Ia datang membawa kehadiran—sesuatu yang tak bisa diukur dengan nilai, tetapi terasa hangat di hati seorang anak.
Bupati Karangasem, I Gusti Putu Parwata, memberi teladan melalui Program GEMAR (Gerakan Ayah Mengambil Rapor). Di tengah padatnya tanggung jawab sebagai pemimpin daerah, Bupati yang akrab disapa Gus Par itu memilih hadir langsung di SMA Negeri 2 Amlapura, mendampingi putranya, I Gusti Ngurah Varioga Pratama, dalam salah satu fase penting perjalanan pendidikannya.
Bupati Gus Par mendukung Program GEMAR (Gerakan Ayah Mengambil Rapor) di SMA Negeri 2 Amlapura dan sekaligus mengajak merayakan peran ayah dalam pendidikan.
Lewat Gerakan GEMAR, Bupati Gus Par memberikan teladan bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama. Kehadiran Gus Par untuk mengambil rapor putranya dan juga gerakan GEMAR secara umum memberikan tiga makna penting.
Pertama, sebagai bentuk investasi sosial. Kehadiran fisik ayah di sekolah memperkokoh ikatan batin. Anak jauh lebih percaya diri karena merasa dilindungi dan diperhatikan.
Kedua, menguatkan pendidikan karakter. Momen-momen mengambil rapor anak menjadi momentum diskusi dengan wakil kelas, bukan untuk menghakimi nilai, tapi merancang masa depan dan karakter anak bersama-sama.
Ketiga, memberikan teladan nyata. Di tengah kesibukan memimpin daerah, Bupati Gus Par tetap meluangkan waktu. “Tidak ada alasan sibuk untuk masa depan anak,” tegas Gus Par sekaligus memberikan pesan menyentuh untuk para ayah di manapun.
Bagi Bupati Gus Par, rapor bukan sekadar laporan akademik. Ia adalah cerita tentang usaha, jatuh bangun, dan mimpi seorang anak yang sedang tumbuh. Kehadiran seorang ayah di momen itu menjadi pelukan tak terlihat—penguat jiwa yang diam-diam membangun kepercayaan diri.
“Saat ayah datang, anak merasa didukung. Kebersamaan sederhana inilah yang memperkokoh ikatan batin kita,” ujar Bupati Gus Par dengan nada hangat, penuh makna.
Saat ayah peduli, semangat belajar mereka tumbuh lebih kuat. Mengambil rapor bukan soal melihat angka, tapi hadir utuh dalam perjalan hidup anak,” sambung Bupati Gus Par.
Pesan itu bukan hanya untuk satu sekolah, bukan pula hanya untuk satu keluarga. Ia menggema sebagai ajakan bagi seluruh ayah di Karangasem: luangkan waktu, sisihkan kesibukan, dan hadir dalam perjalanan anak-anak kita. Karena kehadiran hari ini adalah investasi paling berharga bagi masa depan mereka.
Ketika ayah terlibat, anak melangkah lebih mantap. Dan dari langkah-langkah kecil itulah, masa depan yang kuat perlahan dibangun—dengan cinta, perhatian, dan kebersamaan. (kbs)

