BerandaDaerahBulan Bahasa Bali VIII Resmi Dibuka, Gubernur Koster Dorong Pemanfaatan Keyboard Aksara...

Bulan Bahasa Bali VIII Resmi Dibuka, Gubernur Koster Dorong Pemanfaatan Keyboard Aksara Bali Lebih Luas dan Intensif

Keren Banget! Satu-satunya Keyboard Aksara Daerah di Indonesia Bahkan Dunia 

Foto: Gubernur Bali Wayan Koster (atas) dan keyboard Aksara Bali (bawah).

Denpasar, KabarBaliSatu

Pemerintah Provinsi Bali kembali menegaskan komitmennya dalam melestarikan bahasa dan budaya daerah melalui pelaksanaan Bulan Bahasa Bali ke-VIII Tahun 2026. Program tahunan ini menjadi salah satu tonggak penting Bali Era Baru sekaligus bagian dari program unggulan Pemprov Bali dalam menjaga eksistensi Bahasa Bali di tengah arus globalisasi.

Bulan Bahasa Bali ke-VIII resmi dibuka oleh Gubernur Bali, Wayan Koster, pada 1 Februari 2026. Dalam sambutannya, Gubernur Koster menekankan pentingnya adaptasi budaya terhadap perkembangan teknologi, salah satunya melalui pemanfaatan keyboard Aksara Bali.

Menurutnya, keyboard Aksara Bali merupakan satu-satunya papan ketik di Indonesia yang sepenuhnya menggunakan aksara daerah tanpa disertai huruf latin. Inovasi ini dinilai sebagai langkah progresif dalam mengintegrasikan budaya lokal dengan teknologi modern.

“Keyboard Aksara Bali ini satu-satunya di Indonesia. Tidak ada aksara latinnya, semuanya menggunakan aksara Bali,” ujar Gubernur Koster.

Ia mengungkapkan, inovasi tersebut bahkan mendapat apresiasi langsung dari Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon. Apresiasi itu diterima sejak pertama kali keyboard Aksara Bali diperkenalkan sebagai bagian dari upaya pelestarian budaya berbasis teknologi.

Lebih lanjut, Gubernur Koster mendorong agar program pemanfaatan keyboard Aksara Bali terus dilanjutkan dan diintensifkan, khususnya di lingkungan pendidikan dasar dan menengah. Ia menilai siswa SD, SMP di Bali mampu beradaptasi dengan sangat baik.

“Tolong program ini diteruskan dan diintensifkan sampai ke SD dan SMP bahkan SMA/SMK supaya digunakan keyboardnya. Ternyata anak-anak kita jago, keren banget,” ungkapnya.
Gubernur Koster menegaskan bahwa kemajuan teknologi tidak seharusnya menggerus jati diri budaya. Sebaliknya, teknologi harus menjadi sarana untuk memperkuat dan menjaga warisan budaya agar tetap hidup dan relevan dengan zaman.

“Teknologi boleh berkembang, tapi tidak boleh mematikan kita. Justru teknologi menjadi wahana agar budaya tetap terjaga, saling hidup, dan berdampingan,” tegasnya.

Melalui Bulan Bahasa Bali ke-VIII ini, Pemerintah Provinsi Bali berharap kesadaran masyarakat, khususnya generasi muda, terhadap pentingnya Bahasa Bali terus meningkat, seiring dengan pemanfaatan teknologi yang berakar pada nilai-nilai kearifan lokal.

Berita Lainnya

Berita Terkini