Foto: Gubernur Bali, Wayan Koster saat menegaskan pembangunan PSEL di Kertha Sabha, Jaya Sabha, Denpasar, Jumat (23/5/2026).
Denpasar, KabarBaliSatu
Pemerintah Provinsi Bali terus mempercepat langkah penanganan krisis sampah melalui pembangunan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) atau waste to energy. Proyek strategis ini diproyeksikan menjadi solusi jangka panjang untuk mengatasi persoalan sampah yang kian mendesak, terutama setelah kapasitas TPA Suwung berada di titik kritis dan penumpukan sampah terjadi di sejumlah wilayah seperti Denpasar dan Badung.
Gubernur Bali, Wayan Koster, menegaskan pembangunan PSEL menjadi bagian penting dalam transformasi sistem pengelolaan sampah modern di Bali. Menurutnya, proyek tersebut tidak hanya berorientasi pada penyelesaian masalah lingkungan, tetapi juga menjaga citra Bali sebagai destinasi wisata dunia.
“Proyek PSEL untuk penanganan sampah di wilayah Denpasar dan Badung kini memasuki tahap persiapan pembangunan. Groundbreaking direncanakan berlangsung pada 8 Juli 2026,” ujar Koster di Kertha Sabha, Jaya Sabha, Denpasar, Jumat (23/5/2026).
Ia menjelaskan, proses pengurugan dan pematangan lahan seluas sekitar enam hektare kini mulai dilakukan sebagai tahap awal pembangunan fasilitas pengolahan sampah modern tersebut. Proyek ini diproses bersama Danantara sebagai bagian dari percepatan penanganan sampah pascapenutupan TPA Suwung.
Selain pembangunan PSEL, Pemprov Bali juga memperkuat pengelolaan sampah berbasis sumber melalui TPS3R, TPST, hingga gerakan pemilahan sampah rumah tangga. Pemilahan sampah organik dan anorganik dinilai menjadi kunci agar sistem pengolahan sampah menjadi energi dapat berjalan optimal.
“Kebersihan Bali adalah fondasi utama menjaga Bali tetap kondusif sebagai destinasi wisata dunia. Sambil menunggu penyelesaian PSEL, gerakan bersih-bersih terus kita genjot,” tegasnya.
Pemerintah menargetkan persoalan sampah di wilayah Denpasar dan Badung dapat tertangani lebih optimal pada 2028. Nantinya, fasilitas PSEL tersebut diproyeksikan mampu mengolah hingga 1.200 ton sampah per hari.
Kapasitas besar itu diharapkan mampu menekan volume sampah harian sekaligus menciptakan sistem pengelolaan lingkungan yang lebih berkelanjutan di Bali.
Tak hanya fokus pada sampah baru, pemerintah juga menyiapkan langkah penanganan terhadap tumpukan sampah lama di kawasan TPA Suwung. Gunungan sampah yang telah mengendap selama bertahun-tahun ditargetkan ikut ditangani bersamaan dengan pengembangan sistem pengolahan modern melalui proyek PSEL.
Pemprov Bali bahkan menargetkan kawasan eks TPA Suwung ke depan dapat direvitalisasi menjadi Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang ramah lingkungan dan bermanfaat sebagai ruang publik masyarakat.
Sementara itu, Kepala Staf TNI Angkatan Darat, Maruli Simanjuntak, menegaskan penanganan persoalan sampah membutuhkan sinergi lintas sektor. Saat meninjau kick off pematangan lahan milik PT Pelindo di Pesanggaran, ia menyatakan TNI AD siap mendukung pengelolaan sampah berbasis teknologi pirolisis yang dinilai efektif dan ramah lingkungan.
“TNI AD siap mendukung program pemerintah melalui karya bakti, edukasi lingkungan, hingga pengelolaan sampah terpadu di daerah,” ujarnya.
Maruli yang juga pernah menjabat Pangdam IX/Udayana menyebut sistem pengolahan sampah yang dikembangkan TNI AD memiliki sejumlah keunggulan, di antaranya tidak memerlukan investasi pemerintah, mampu menangani sampah lama, minim subsidi, serta tanpa emisi terbuka.
Menurutnya, dukungan pemerintah dibutuhkan terutama dalam aspek perizinan dan jaminan penjualan solar hasil pengolahan sebagai sumber energi terbarukan.
Di sisi lain, Deputi Bidang Koordinasi Keterjangkauan dan Keamanan Pangan, Nani Hendiarti, menjelaskan bahwa kebijakan pengolahan sampah berbasis energi kini diperkuat melalui Perpres Nomor 109 Tahun 2025.
Regulasi tersebut menjadi payung hukum pengembangan energi dari sampah, baik dalam bentuk listrik, bahan bakar minyak (BBM) terbarukan, bioenergi, maupun produk turunan lainnya.
Menurut Nani, penggunaan teknologi PSEL dan pengolahan sampah menjadi BBM terbarukan dinilai mampu menekan kondisi kedaruratan sampah di Denpasar dan Badung, termasuk mengatasi persoalan tumpukan di TPA Suwung.
Ia juga mengungkapkan Bali telah ditetapkan sebagai salah satu lokasi pilot project pirolisis nasional bersama Jakarta, Surabaya, Bekasi, Bandung, Bogor, dan Semarang yang dijalankan oleh TNI AD dengan dukungan lintas kementerian dan lembaga.
“Groundbreaking PSEL Denpasar Raya pada 8 Juli 2026 akan menjadi momentum terintegrasinya penanganan sampah dari hulu hingga hilir,” pungkasnya. (kbs)

