BerandaDaerahDisnaker ESDM Bali Bidik TPT Turun ke 1,4 Persen, Dorong Tenaga Kerja...

Disnaker ESDM Bali Bidik TPT Turun ke 1,4 Persen, Dorong Tenaga Kerja Naik Kelas Lewat Kompetensi

Bali Petakan Lulusan SMA/SMK yang Tak Sekolah dan Tak Bekerja

Foto: Ilustrasi tenaga kerja muda Bali dan lulusan SMA/SMK dalam penguatan kompetensi serta perluasan kesempatan kerja. Pemerintah Provinsi Bali menargetkan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) turun menjadi 1,4 persen.

Denpasar, KabarBaliSatu

Pemerintah Provinsi Bali terus menggenjot penurunan Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT). Dari posisi 1,52 persen pada Februari 2026, angka tersebut ditargetkan kembali ditekan hingga 1,4 persen.

Kepala Dinas Ketenagakerjaan dan Energi Sumber Daya Mineral (Disnaker ESDM) Bali, Ida Bagus Setiawan, mengatakan target tersebut harus dicapai secara bertahap dengan mempertimbangkan struktur perekonomian Bali yang masih bertumpu pada sektor pariwisata dan jasa.

“Kalau melihat TPT Bali 1,52 persen itu Februari. Kalau yang Agustus akan keluar akhir tahun. Targetnya 1,49 kita dorong 1,4 persen,” ujar Setiawan, Selasa (29/9/2026).

Menurutnya, sektor pariwisata, penyediaan makanan dan minuman, serta transportasi masih menjadi penyerap utama tenaga kerja di Bali. Sementara sektor pertanian, perkebunan dan perikanan belum memiliki daya serap tenaga kerja sebesar sektor jasa dan pariwisata.

Ketergantungan tersebut menjadi tantangan tersendiri karena aktivitas pariwisata sangat dipengaruhi perubahan situasi, baik di tingkat nasional maupun global. Ketika industri pariwisata mengalami tekanan, kebutuhan tenaga kerja di sektor terkait juga dapat ikut terdampak.

Lulusan SMA/SMK Jadi Perhatian

Untuk memperkuat strategi penurunan pengangguran, Disnaker ESDM Bali akan memperkuat pendataan warga yang telah menyelesaikan pendidikan SMA/SMK.

Pendataan tersebut akan digunakan untuk memetakan apakah lulusan melanjutkan pendidikan, memasuki dunia kerja, atau justru masuk kelompok yang tidak sekolah dan tidak bekerja.

“Prioritas kami yang tidak sekolah dan tidak bekerja perlu diberikan penguatan,” tegas Setiawan.

Menurutnya, data tersebut penting untuk mengetahui secara lebih jelas kondisi kelompok usia produktif yang belum terserap pendidikan maupun pasar kerja.

Dengan pemetaan yang lebih akurat, pemerintah dapat menentukan intervensi yang sesuai, mulai dari pelatihan keterampilan hingga membuka akses terhadap kesempatan kerja.

Tak Hanya Siapkan Tenaga Kerja, Lapangan Kerja Harus Diperluas

Setiawan menegaskan, upaya menekan pengangguran tidak cukup hanya dengan mencetak tenaga kerja yang produktif dan memiliki daya saing. Pemerintah juga perlu mendorong terciptanya lapangan pekerjaan yang lebih beragam.

Saat ini, peluang kerja yang relatif banyak masih berada di industri perhotelan dan sektor pariwisata lainnya. Namun, tidak semua pekerjaan tersebut membutuhkan tingkat kompetensi yang tinggi.

Kondisi itu menjadi salah satu faktor yang mendorong sebagian tenaga kerja Bali mencari peluang pekerjaan di luar daerah.

Karena itu, peningkatan kompetensi menjadi bagian penting dari strategi ketenagakerjaan Bali. Masyarakat yang telah memasuki dunia kerja juga didorong untuk terus mengembangkan kemampuan agar dapat mengakses pekerjaan dengan tingkat pendapatan yang sepadan dengan kompetensinya.

Setiawan mengatakan kemampuan teknis atau hard skill pada dasarnya dapat ditingkatkan melalui pendidikan dan pelatihan. Namun, kompetensi teknis saja tidak cukup untuk menghadapi kebutuhan dunia kerja yang terus berubah.

Sikap, kejujuran, mentalitas serta kesiapan menghadapi lingkungan kerja juga menjadi bagian penting yang harus diperkuat.

“Hard skill bisa dilatih, tetapi mentality dan kesehatan mental,” tandasnya.

Dengan penguatan data tenaga kerja, peningkatan kompetensi dan perluasan kesempatan kerja, Pemprov Bali berharap penurunan TPT tidak hanya tercermin dalam angka statistik, tetapi juga diikuti semakin banyaknya masyarakat usia produktif yang terserap dalam pendidikan maupun dunia kerja. (kbs)

Berita Lainnya

Berita Terkini