Foto: Gubernur Bali Wayan Koster.
Denpasar, KabarBaliSatu
Gubernur Bali Wayan Koster mengajak seluruh komponen masyarakat Bali untuk bersama-sama merayakan Rahina Tumpek Uye pada Sabtu, 5 September 2026. Perayaan yang bertepatan dengan Saniscara Kliwon Uye ini menjadi momentum untuk memuliakan hewan, satwa, dan fauna sekaligus memperkuat harmoni antara manusia dengan alam.
Rahina Tumpek Uye dirayakan secara Niskala-Sakala sebagai bagian dari penerapan tata-titi kehidupan masyarakat Bali berdasarkan nilai-nilai kearifan lokal Sad Kerthi dalam Bali Era Baru.
Tumpek Uye memiliki makna memuliakan hewan, binatang, satwa, dan fauna dalam menjaga harmoni alam beserta seluruh isinya. Makna tersebut memberikan tuntunan kehidupan bahwa manusia tidak semestinya terus-menerus hanya mengambil isi alam ciptaan-Nya.
Selama enam bulan atau 210 hari, manusia menjalani kehidupan dengan memanfaatkan berbagai sumber daya alam. Karena itu, pemanfaatan tersebut perlu diimbangi dengan perilaku nyata untuk memberi atau melepaskan kembali kepada alam, setidaknya setiap Tumpek Uye atau setiap enam bulan sekali, sehingga keseimbangan dapat kembali terjaga.
Persembahyangan dan Pelepasan Satwa
Perayaan secara Niskala dapat dilakukan melalui kegiatan persembahyangan atau mabhakti bersama di wilayah masing-masing pada pagi hari mulai pukul 07.00 WITA hingga selesai, dengan sarana upakara sesuai Dresta Bali.
Sementara secara Sakala, masyarakat dapat melaksanakan berbagai kegiatan nyata sebagai bentuk kepedulian terhadap satwa dan alam. Di antaranya melalui pelepasan burung, tukik, ikan, maupun jenis binatang atau hewan lainnya sesuai dengan kondisi di masing-masing wilayah.
Kegiatan tersebut juga dapat dilanjutkan dengan kegiatan yang lebih besar pada Minggu, 6 September 2026.
Pelaksanaan Rahina Tumpek Uye melibatkan seluruh komponen masyarakat Bali. Ajakan tersebut ditujukan kepada pimpinan lembaga vertikal, bupati/wali kota se-Bali, Bandesa Agung Majelis Desa Adat Provinsi Bali, Bandesa Madya Majelis Desa Adat kabupaten/kota, Bandesa Alitan Majelis Desa Adat kecamatan se-Bali, pimpinan lembaga pendidikan, perbekel dan lurah, Bandesa Adat atau sebutan lainnya, pimpinan organisasi kemasyarakatan, pihak swasta, serta berbagai komponen masyarakat.
Memuliakan Warisan Leluhur Bali
Pelaksanaan Rahina Tumpek Uye merupakan tanggung jawab bersama dalam memuliakan pengetahuan warisan adi luhung yang diwariskan para panglingsir dan guru-guru suci waskita yang telah menjadi leluhur atau lelangit Bali.
Warisan tersebut mengajarkan tata kehidupan Krama Bali yang menyatu dengan alam. Salah satu pesan penting yang diwariskan adalah perlunya menjaga kelestarian lingkungan hidup demi keberlangsungan kehidupan.
Manusia pada hakikatnya merupakan bagian dari alam itu sendiri. Karena itu, manusia harus hidup sejalan dan seirama dengan alam, menerapkan prinsip “hidup yang menghidupi, urip yang manguripi.”
Prinsip tersebut mengandung pesan bahwa kehidupan manusia tidak boleh hanya mengambil manfaat dari alam, tetapi juga harus mampu memberikan kehidupan, menjaga, dan merawat alam.
Alam juga diibaratkan seperti orang tua. Karena itu, manusia harus menghormati dan mengasihi alam sebagai bagian penting dari kehidupan.
Semangat tersebut tercermin dalam nilai “masiha ri samasta jagat”, yakni kasih terhadap seluruh alam semesta.
Nilai-nilai tersebut menjadikan Tumpek Uye bukan sekadar momentum untuk melakukan ritual, tetapi juga kesempatan untuk membangun kesadaran dan tindakan nyata dalam menjaga keseimbangan hubungan manusia dengan satwa dan lingkungan.
Gubernur Koster mengajak seluruh komponen masyarakat di Bali untuk bersama-sama merayakan dan melaksanakan Rahina Tumpek Uye dengan sebaik-baiknya serta penuh rasa tanggung jawab.
Ajakan tersebut sekaligus menjadi bagian dari upaya menjaga alam dan kehidupan Bali dengan semangat “Nindihin Gumi Bali”, sehingga nilai-nilai luhur warisan leluhur tetap hidup dan diwujudkan dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.

