BerandaDaerahJepang Makin Butuh Tenaga Terampil Indonesia, 12.626 Pekerja Indonesia Kuasai Sektor Pertanian...

Jepang Makin Butuh Tenaga Terampil Indonesia, 12.626 Pekerja Indonesia Kuasai Sektor Pertanian Jepang

Tokutei Ginou 2 Buka Jalan Karier Panjang bagi Pekerja Indonesia di Jepang

Foto: Kepala LKP Bali Japan Dream, Chikako Ishikawa, saat memberikan pemaparan dalam kuliah umum daring yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Program Studi Peternakan, Fakultas Pertanian, Sains, dan Teknologi Universitas Warmadewa pada Sabtu (17/8/2026).

Denpasar, KabarBaliSatu

Tenaga kerja asal Indonesia semakin mendapat tempat dalam perkembangan sektor pertanian berteknologi tinggi di Jepang. Tak lagi sebatas mengisi pekerjaan fisik, pekerja terampil Indonesia mulai mengambil peran dalam proses modernisasi pertanian yang mengandalkan teknologi dan sistem presisi.

Hal tersebut disampaikan Kepala LKP Bali Japan Dream, Chikako Ishikawa, dalam kuliah umum daring yang digelar Himpunan Mahasiswa Program Studi Peternakan, Fakultas Pertanian, Sains, dan Teknologi Universitas Warmadewa pada 17 Agustus 2026.

Dalam pemaparannya, Chikako mengungkapkan data Kementerian Kesehatan, Tenaga Kerja, dan Kesejahteraan Jepang (MHLW) per akhir Oktober 2025. Data tersebut mencatat jumlah tenaga kerja asing di Jepang telah mencapai 2.571.037 orang, meningkat 11,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Para pekerja asing tersebut tersebar di 371.215 tempat usaha. Kondisi ini menunjukkan semakin besarnya ketergantungan Jepang terhadap tenaga kerja internasional, termasuk untuk memenuhi kebutuhan SDM di daerah dan sektor pertanian.

Menurut Chikako, kebutuhan tenaga kerja di bidang pertanian Jepang mengalami pertumbuhan signifikan. Hingga Juni 2025, jumlah pekerja dengan status Tokutei Ginou di sektor pertanian mencapai 35.454 orang.

Jumlah tersebut meningkat sekitar 5,7 kali lipat dibandingkan Desember 2021 yang tercatat sebanyak 6.232 pekerja.

“Peluang kerja di sektor pertanian Jepang mengalami lonjakan yang sangat pesat,” kata Chikako.

Indonesia Jadi Penyumbang Terbesar

Dari jumlah tersebut, Indonesia tercatat sebagai negara penyumbang tenaga kerja terampil terbesar di sektor pertanian Jepang.

Data per akhir Juni 2025 menunjukkan terdapat 12.626 pekerja asal Indonesia yang berstatus Tokutei Ginou di sektor pertanian. Angka tersebut mencapai sekitar 36 persen dari total pekerja Tokutei Ginou di sektor pertanian Jepang.

Artinya, sekitar satu dari tiga pekerja asing berstatus Tokutei Ginou di sektor pertanian Jepang berasal dari Indonesia.

Tak hanya dari sisi jumlah, pekerja Indonesia juga dinilai memiliki keunggulan dari aspek karakter. Sikap ramah, santun, dan mudah beradaptasi menjadi nilai tambah yang diapresiasi perusahaan Jepang.

“Pekerja asal Indonesia sangat disukai di Jepang karena dikenal murah senyum, ramah, dan tidak pernah jutek. Meskipun sedang berada dalam kondisi sulit atau menghadapi masalah pekerjaan yang berat, mereka tetap menunjukkan kepribadian yang santun dan hangat,” ujar Chikako.

Menurutnya, karakter tersebut turut mempermudah proses adaptasi pekerja Indonesia dengan lingkungan kerja dan masyarakat Jepang.

“Kematangan emosional seperti ini membuat suasana kerja menjadi nyaman dan proses adaptasi dengan masyarakat Jepang berjalan sangat cepat,” imbuhnya.

Peluang Karier Jangka Panjang

Chikako juga menyoroti semakin terbukanya peluang karier jangka panjang bagi pekerja asing di Jepang melalui skema Tokutei Ginou 2 atau Specified Skilled Worker 2 (SSW 2).

Skema tersebut memberikan peluang kepada pekerja untuk membangun karier lebih panjang di Jepang, tidak terbatas pada masa kerja lima tahun.

Hingga Juni 2025, sebanyak 519 pekerja tercatat telah memiliki status Tokutei Ginou 2 di sektor pertanian. Dari jumlah itu, 371 orang bekerja di bidang budidaya tanaman dan 148 orang di bidang peternakan.

“Melalui skema Tokutei Ginou 2, visa dapat diperpanjang tanpa batas total masa tinggal selama memenuhi syarat keterampilan dan pengalaman yang ditentukan. Ini adalah kesempatan besar bagi pekerja untuk meniti karier jangka panjang di Jepang,” jelasnya.

Dua Jalur Visa untuk Tenaga Profesional

Lebih lanjut, Chikako menjelaskan terdapat dua jalur utama bagi tenaga kerja Indonesia yang ingin berkarier di Jepang.

Pertama, Tokutei Ginou, atau Specified Skilled Worker, yang ditujukan bagi tenaga kerja terampil pada sektor-sektor tertentu. Kedua, Gijinkoku, yakni visa Engineer/Specialist in Humanities/International Services yang diperuntukkan bagi lulusan perguruan tinggi untuk bekerja sesuai bidang keilmuan dan kompetensinya.

Khusus calon pekerja melalui skema Tokutei Ginou di sektor pertanian dan manufaktur, terdapat sejumlah persyaratan yang harus dipenuhi. Selain kemampuan bahasa Jepang minimal setara JFT A2, calon pekerja juga wajib memiliki sertifikasi keterampilan teknis sesuai sektor pekerjaan yang dituju.

Karena itu, kesiapan calon pekerja tidak cukup hanya mengandalkan kemampuan fisik. Mereka juga harus memiliki kemampuan bahasa, keterampilan teknis, pemahaman budaya kerja, serta kesiapan mental.

Disiapkan untuk Hadapi Pertanian Berteknologi Tinggi

Chikako menjelaskan proses penyiapan tenaga kerja dilakukan melalui sejumlah tahapan yang terintegrasi.

Tahap awal meliputi seleksi fisik dan mental melalui psikotes serta pemeriksaan kesehatan awal atau Pre-Medical Check Up. Peserta kemudian mengikuti pelatihan intensif bahasa dan budaya Jepang selama sekitar empat hingga enam bulan.

Setelah pelatihan, peserta mengikuti ujian kemampuan bahasa Jepang JFT A2 dan tes keterampilan teknis untuk memperoleh sertifikasi sesuai bidang yang dituju.

Tahapan berikutnya adalah job matching, yakni proses mempertemukan calon pekerja dengan perusahaan di Jepang melalui wawancara langsung. Setelah dinyatakan sesuai, proses dilanjutkan dengan pengurusan dokumen dan visa keberangkatan.

Menurut Chikako, tahapan tersebut penting karena dunia kerja di Jepang, khususnya sektor pertanian, telah mengalami transformasi besar melalui pemanfaatan teknologi.

“Sektor pertanian di Jepang telah menerapkan otomatisasi industri secara luas, sehingga tenaga kerja tidak hanya mengandalkan otot, tetapi juga penguasaan teknologi,” ujarnya.

Ia menambahkan, perusahaan di Jepang juga menyediakan fasilitas tempat tinggal yang telah memenuhi standar bagi pekerja migran.

Dengan perkembangan tersebut, lulusan perguruan tinggi Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk memasuki pasar kerja internasional, khususnya apabila mampu memadukan kompetensi akademik dengan keterampilan teknologi dan kemampuan beradaptasi.

Chikako menegaskan, penguasaan teknologi modern, kualitas pendidikan, keterampilan teknis, serta karakter positif menjadi modal penting bagi SDM Indonesia untuk bersaing di pasar kerja global.

“Ketika penguasaan teknologi modern, pendidikan yang matang, dan karakter positif dapat dipadukan, lulusan perguruan tinggi Indonesia memiliki peluang besar untuk menangkap kesempatan karier internasional secara optimal,” pungkasnya. (kbs)

Berita Lainnya

Berita Terkini