Foto: I Putu Hendika Permana, S.Kom., M.M., Direktur Utama PT Pusat Kebudayaan Bali (Perseroda).
Denpasar, KabarBaliSatu
Memimpin perusahaan daerah di usia 38 tahun bukan perkara sederhana. Di tengah tuntutan profesionalisme dan target bisnis, I Putu Hendika Permana, S.Kom., M.M., kini mengemban tanggung jawab besar untuk memastikan sebuah kawasan strategis di Bali tidak sekadar berdiri megah, tetapi benar-benar hidup dan memberi manfaat bagi masyarakat.
Pria kelahiran Denpasar, 12 Desember 1987, itu dipercaya sebagai Direktur Utama PT Pusat Kebudayaan Bali (Perseroda), Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Pemerintah Provinsi Bali yang mendapat mandat mengelola Kawasan Pusat Kebudayaan Bali (PKB) di Kabupaten Klungkung.
Putu Hendika dilantik Gubernur Bali Wayan Koster pada Maret 2026. Pengangkatannya menjadikannya salah satu direktur utama BUMD yang relatif muda di Indonesia. Namun, usia bukan satu-satunya hal yang menjadi sorotan. Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana menerjemahkan mandat tersebut menjadi pengelolaan kawasan yang profesional, berkelanjutan, sekaligus tetap berpijak pada jati diri Bali.
Kawasan Pusat Kebudayaan Bali dibangun di atas lahan bekas galian C yang sebelumnya mengalami kerusakan dan terbengkalai. Melalui pengembangan kawasan ini, Pemerintah Provinsi Bali berupaya menghadirkan ruang baru yang memiliki fungsi budaya, sosial, lingkungan, sekaligus ekonomi.
Bagi Putu Hendika, tugas tersebut tidak berhenti pada pembangunan infrastruktur.
“Bagi kami, tantangannya adalah bagaimana membangun kawasan yang tidak hanya selesai secara fisik, tetapi benar-benar hidup, memberikan ruang bagi kebudayaan, masyarakat, pelaku ekonomi kreatif, sekaligus tetap memperhatikan aspek lingkungan. Karena itu, pengembangannya harus dilakukan dengan perencanaan dan pengelolaan yang berkelanjutan,” ujarnya.
Mengubah Bekas Galian Menjadi Ruang Kehidupan
Di bawah kepemimpinan Putu Hendika, PT Pusat Kebudayaan Bali mengarahkan pengembangan kawasan melalui konsep Green Culture District Development. Konsep ini berupaya mempertemukan kebudayaan, pemulihan lingkungan, kreativitas, dan pertumbuhan ekonomi dalam satu ekosistem.
Dengan pendekatan tersebut, kawasan tidak dirancang sekadar menjadi deretan gedung dan fasilitas. Lebih jauh, kawasan diharapkan menjadi ruang yang aktif dan dinamis untuk berbagai kegiatan seni dan budaya, pariwisata, ekonomi kreatif, kreativitas anak muda, hingga aktivitas masyarakat.
“Kami ingin kawasan ini nantinya memiliki kehidupan dan aktivitas yang berkelanjutan. Kebudayaan menjadi salah satu fondasi utama, tetapi pada saat yang sama kawasan harus bisa membuka ruang bagi kreativitas, pariwisata, ekonomi kreatif, serta aktivitas masyarakat,” kata Putu Hendika.
Aspek lingkungan menjadi bagian penting dari konsep tersebut. Lahan bekas galian C yang sebelumnya rusak diarahkan untuk dipulihkan dan ditata kembali sehingga memiliki fungsi baru yang lebih produktif.
Dengan demikian, pembangunan kawasan tidak hanya berbicara tentang apa yang dibangun, tetapi juga bagaimana ruang tersebut dikelola setelah pembangunan berlangsung.
Menatap Potensi Bali Timur
Lokasinya di Kabupaten Klungkung membuat Kawasan Pusat Kebudayaan Bali memiliki posisi strategis dalam mendorong pertumbuhan aktivitas ekonomi baru di Bali Timur.
Kawasan ini diharapkan membuka ruang partisipasi bagi masyarakat dan pelaku usaha lokal. Peluang tersebut dapat tumbuh melalui pariwisata, ekonomi kreatif, usaha masyarakat, kegiatan seni dan budaya, maupun berbagai aktivitas pendukung lainnya.
Bagi Putu Hendika, keberhasilan perusahaan tidak cukup diukur dari kemajuan pembangunan fisik. Ukuran yang lebih penting adalah sejauh mana kawasan tersebut mampu menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.
“Ukuran keberhasilan tentu bukan hanya seberapa jauh pembangunan kawasan berjalan. Yang lebih penting adalah bagaimana kawasan ini nantinya memberikan manfaat nyata, membuka peluang bagi masyarakat, dan menjadi ruang yang mampu menghidupkan kebudayaan sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi Bali,” ungkapnya.
Modal Teknologi, Manajemen, dan Akademik
Putu Hendika datang dengan latar belakang yang cukup beragam. Ia menyelesaikan pendidikan Sarjana Teknik Informatika di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) pada 2009, kemudian melanjutkan pendidikan Magister Manajemen di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Triatma Mulya pada 2011–2012.
Saat ini, ia juga tengah menempuh pendidikan Doktor Ilmu Manajemen di Universitas Udayana. Di dunia akademik, Putu Hendika tercatat sebagai asisten profesor di Institut Bisnis dan Teknologi Indonesia.
Perpaduan pengalaman di bidang teknologi informasi, manajemen, dan akademik menjadi bekal yang dibawanya ke dalam dunia pengelolaan BUMD. Terlebih, perusahaan daerah saat ini dituntut tidak hanya mampu menjalankan fungsi pelayanan dan pembangunan, tetapi juga adaptif terhadap perubahan teknologi, kebutuhan masyarakat, serta dinamika ekonomi.
Di usia yang relatif muda, Putu Hendika kini berada di persimpangan antara idealisme, profesionalisme, dan tanggung jawab publik.
Perjalanan kepemimpinannya di PT Pusat Kebudayaan Bali memang masih berada pada tahap awal. Namun, posisi yang diembannya menempatkan Putu Hendika di tengah salah satu proyek strategis Bali dalam pengembangan kebudayaan dan kawasan.
Ke depan, tantangan terbesarnya bukan sekadar memastikan kawasan terus berkembang. Ia harus membuktikan bahwa PT Pusat Kebudayaan Bali mampu menjadi perusahaan daerah yang profesional, sekaligus menjaga keseimbangan antara kebudayaan, lingkungan, kepentingan masyarakat, dan pertumbuhan ekonomi.
Pada akhirnya, keberhasilan kawasan tersebut akan ditentukan bukan hanya oleh megahnya bangunan yang berdiri, melainkan oleh seberapa hidup kawasan itu ketika masyarakat mulai mengisinya dengan aktivitas, kreativitas, budaya, dan peluang ekonomi.
Di situlah kepemimpinan Putu Hendika akan benar-benar diuji. (kbs)

