Foto: Gubernur Bali Wayan Koster saat bernyanyi di Puncak Perayaan Tumpek Krulut.
Denpasar, KabarBaliSatu
Malam itu Sabtu 1 Agustus 2026, Panggung Terbuka Ardha Candra, Taman Budaya Bali, Denpasar, bukan sekadar ruang pertunjukan. Ia menjelma menjadi lautan manusia yang dipertautkan oleh nada, tawa, dan rasa kasih.
Ribuan pasang mata seketika tertuju ke atas panggung ketika Gubernur Bali Wayan Koster melangkah naik. Di samping penyanyi Bagus Wirata, Koster mengambil mikrofon dan ikut menyanyikan lagu Layang-Layang.
Seketika, Ardha Candra bergemuruh.
Suara nyanyian penonton membubung bersama alunan musik. Tangan-tangan terangkat, tubuh bergoyang mengikuti irama. Malam yang semula biasa, berubah menjadi perayaan yang hangat. Jarak antara pemimpin dan masyarakat seakan luruh dalam satu lagu yang dinyanyikan bersama.
Momen tersebut menjadi salah satu bagian paling berkesan dalam perayaan Tumpek Krulut, yang juga dimaknai sebagai Hari Tresna Asih. Perayaan yang digelar Pemerintah Provinsi Bali itu menghadirkan konser musik gratis sebagai ruang untuk merayakan kasih, kebersamaan, dan kegembiraan bersama masyarakat.
Panggung Ardha Candra malam itu dipenuhi warna musik Bali. Bagus Wirata, Lolot Band, Leeyonk Sinatra, Joni Agung & Double T, Bintang feat. Lebri Partami, Putri Bulan, Bayu KW, hingga Yong Sagita tampil silih berganti.
Satu demi satu lagu mengalun. Satu demi satu suara penyanyi menyapa ribuan manusia yang telah datang sejak sore.
Art Centre Denpasar pun seakan kehilangan batas antara panggung dan penonton. Musik menjadi jembatan. Lagu menjadi bahasa yang dipahami bersama. Dari berbagai penjuru Bali, masyarakat datang membawa kegembiraan mereka sendiri, lalu pulang dengan membawa kenangan yang sama.
Di tengah kemeriahan itu, terselip pula sebuah pesan tentang kasih yang tidak hanya berhenti pada kata-kata.
Sebelum konser dimulai, Gubernur Koster menyerahkan tali kasih kepada puluhan pelajar SMA, SMK, dan SLB, serta penyandang disabilitas. Bantuan tersebut menjadi bentuk kepedulian dalam momentum perayaan Hari Tresna Asih—sebuah pengingat bahwa kasih sayang akan selalu menemukan maknanya ketika diwujudkan dalam tindakan.
Koster hadir bersama Danrem 163/Wirasatya Brigjen TNI Ida I Dewa Agung Hadisaputra, perwakilan DPRD Bali, serta jajaran kepala organisasi perangkat daerah di lingkungan Pemerintah Provinsi Bali.
Dari atas panggung, Koster mengajak masyarakat Bali untuk terus merawat kerukunan dan menumbuhkan kasih sayang melalui semangat menyama braya.
“Malam ini kita menikmati hiburan oleh para seniman dan pemain musik kita di Bali,” ujar Koster.
Namun malam itu, sesungguhnya bukan hanya tentang hiburan.
Di bawah cahaya panggung dan langit Denpasar yang perlahan gelap, ribuan orang bernyanyi dalam irama yang sama. Ada tawa yang berbaur dengan musik. Ada tangan yang saling melambai. Ada hati yang sejenak merasa dekat, meski datang dari tempat yang berbeda.
Tumpek Krulut pun menemukan maknanya di sana.
Bahwa kasih tidak selalu hadir dalam kata-kata besar. Kadang ia menjelma dalam sebuah lagu yang dinyanyikan bersama. Dalam ruang yang terbuka bagi siapa saja. Dalam kepedulian yang diberikan kepada mereka yang membutuhkan. Dan dalam kebersamaan yang membuat kita kembali ingat, bahwa Bali tumbuh bukan hanya karena keindahannya, tetapi karena manusia-manusianya masih menjaga rasa untuk saling menyayangi.
Memaknai Rahina Tumpek Krulut sebagai Rahina Tresna Asih atau Hari Kasih Sayang menurut Dresta Bali, Gubernur Bali Wayan Koster meluangkan waktu seharian penuh untuk menyapa dan berbagi aksi nyata kepada masyarakat pada Sabtu (1/8/2026). Dalam perayaan tersebut, Pemerintah Provinsi Bali menggelar program kuliner gratis tanpa syarat di 15 Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) pilihan yang tersebar di sembilan kabupaten dan kota se-Bali.
Antusiasme warga terpantau membludak di berbagai titik UMKM sejak pagi hari. Di Bangli, warga lintas kecamatan memadati Warung Babi Guling Pande untuk menikmati olahan guling yang dinilai lezat.
Suasana penuh keakraban berlanjut ke Gianyar di warung kuliner legendaris Dagang Nasi Pindang Dadong Rintin, di mana Gubernur Koster ikut mengantre langsung bersama warga.
Perjalanan dilanjutkan ke Kabupaten Tabanan dengan mengunjungi Kedai Tangkil yang menyajikan kopi hangat favorit pemuda lokal, serta Warung Babi Genyol Men Leny. Momen keseruan berlanjut di Jenar Kopi, Jalan Kaliasem, Denpasar. Di kedai kopi yang menjadi pusat kumpul anak muda ini, antrean telah mengular sejak pagi. Dari 10.000 cangkir kopi gratis yang disediakan, sebanyak 7.000 cangkir ludes dinikmati warga hingga pukul 13.30 WITA. Selain menikmati kuliner dan kopi gratis, warga dan kalangan generasi muda berbondong-bondong memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berswafoto (selfie) bersama Gubernur Koster. (kbs)

