Foto: Momentum Hari Tumpek Krulut, Gubernur Koster Berbagi kuliner Gratis melalui 15 UMKM di seluruh Bali, pada Sabtu (1/8).
Denpasar, KabarBaliSatu
Gubernur Bali Wayan Koster merayakan Hari Raya Tumpek Krulut dengan membagikan kuliner secara gratis kepada masyarakat melalui 15 Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) lokal yang tersebar di sejumlah wilayah Bali, Sabtu (1/8/2026).
Kegiatan ini diselenggarakan sebagai langkah nyata untuk menerjemahkan nilai-nilai kasih sayang yang terkandung dalam makna Tumpek Krulut ke dalam aksi sosial, sekaligus mendorong pergerakan ekonomi masyarakat setempat.
Melalui perayaan ini, masyarakat Bali dapat menikmati aneka hidangan khas daerah, mulai dari babi guling, lawar, hingga nasi jinggo. Tidak hanya menu tradisional, ragam kuliner modern serta produk kedai kopi buatan pelaku usaha lokal juga turut disajikan secara gratis.
Founder and Chairman Mahardhika Institute, I Putu Eka Mahardhika, menyampaikan bahwa kegiatan ini tidak sekadar menghadirkan sajian makanan gratis bagi warga, tetapi juga sarana strategis dalam memberdayakan pelaku usaha lokal. Menurutnya, keterlibatan UMKM membuka ruang promosi yang lebih luas, mempertemukan produk lokal dengan konsumen, serta menggerakkan rantai ekonomi secara holistik.
“Ketika UMKM kuliner bergerak, petani, peternak, nelayan, pedagang pasar, pekerja, hingga pelaku usaha pendukung lainnya juga ikut merasakan dampaknya,” ujar Eka dalam keterangan resminya, Jumat (31/7/2026).
Eka menegaskan bahwa kuliner Bali bukan hanya sekadar warisan budaya, melainkan bagian vital dari ekosistem ekonomi rakyat yang harus terus diberikan panggung untuk tumbuh dan berkembang.
Pentingnya peran UMKM juga tercermin dari data tahun 2025 yang mencatat keberadaan 448.734 UMKM di Bali. Di saat yang sama, sektor penyediaan akomodasi serta makanan dan minuman di Pulau Dewata berhasil mencatatkan pertumbuhan signifikan sebesar 10,25 persen.
Eka menilai, deretan angka tersebut membuktikan posisi strategis UMKM dan sektor kuliner dalam menopang perekonomian Bali. Oleh karena itu, dukungan terhadap pelaku usaha tidak cukup hanya sebatas imbauan untuk membeli produk lokal, tetapi memerlukan aksi nyata berupa pembukaan akses pasar, perluasan promosi, dan penciptaan momentum yang mendekatkan UMKM dengan masyarakat.
“Tradisi menjadi akar, kreativitas menjadi penggerak, dan UMKM menjadi bagian penting dari denyut ekonomi masyarakat Bali,” ungkap Eka.
Lebih lanjut, Eka menilai aksi berbagi pada perayaan Tumpek Krulut menunjukkan bahwa agenda kebudayaan dapat memberikan dampak sosial dan ekonomi yang nyata tanpa mengikis nilai-nilai filosofis yang diandungnya.
Melalui skema ini, masyarakat memperoleh manfaat langsung, para pelaku UMKM mendapatkan panggung promosi, dan rantai pasok ekonomi di tingkat lokal ikut bergerak aktif. Ia pun berharap perayaan Tumpek Krulut ke depan tidak hanya dimaknai sebagai peringatan kasih sayang secara simbolis semata, melainkan menjadi momentum berkelanjutan untuk memperkuat kepedulian terhadap ekonomi lokal.
“Mencintai Bali bukan hanya menjaga budayanya, tetapi juga menghidupkan ekonomi masyarakatnya,” pungkas Eka. (kbs)

