Foto: Gubernur Koster didampingi Ny. Putri Koster Bersama Rocky Gerung, Airlangga Pribadi, Ketua Yayasan PR Saraswati Pusat Denpasar Tjok Istri Sri Ramaswati, S.H., M.M., Rektor Unmas Denpasar, Prof. Dr. I Ketut Sukewati Lanang P. Perbawa, S.H.,M.Hum., dalam acara bedah buku “Marhaenisme: Dalil Baru untuk Gen Z”, di Auditorium Saraswati, Universitas Mahasaraswati Denpasar, Selasa (21/7).
Denpasar, KabarBaliSatu
Gubernur Bali Wayan Koster menegaskan pentingnya menyelaraskan pemikiran Marhaenisme dengan kearifan lokal Bali dalam menjaga peradaban dan arah pembangunan daerah. Pembangunan Provinsi Bali dinilai tidak boleh hanya terpaku pada infrastruktur fisik semata, tetapi juga wajib membentengi nilai budaya, moralitas, serta keharmonisan sosial di tengah pesatnya era modernisasi.
Pesan tersebut disampaikan Gubernur Koster saat menghadiri acara bedah buku bertajuk “Marhaenisme: Dalil Baru untuk Gen Z” yang berlangsung meriah di Auditorium Saraswati, Universitas Mahasaraswati (Unmas) Denpasar, Selasa (21/7).
Dalam forum diskusi yang mempertemukan ideologi perjuangan dengan tantangan pemuda di era digital tersebut, Gubernur Koster menekankan bahwa pemuliaan pikiran melalui ruang akademis selaras dengan pilar peradaban Bali, yakni Atma Kerthi (penyucian jiwa) dan Jana Kerthi (penyucian manusia).
Cita-cita luhur Marhaenisme untuk membela hak-hak petani, buruh, dan pedagang kecil dipandang berkaitab erat dengan pilar Tri Hita Karana serta semangat Menyama Braya.
“Kearifan lokal tidak berarti menolak modernitas atau menutup diri. Kearifan lokal selalu bersifat inklusif dan adaptif. Nilai-nilai seperti Tri Hita Karana dan Menyama Braya perlu menjadi fondasi dari interpretasi Marhaenisme untuk konteks Bali, karena pada dasarnya semangat Marhaenisme adalah keberpihakan kepada yang lemah dan perlawanan terhadap ketimpangan,” ujar Koster di hadapan ratusan mahasiswa.
Gubernur berharap generasi muda Bali tidak sekadar menjadi penonton, melainkan tampil sebagai subjek aktif yang merancang sekaligus merawat masa depan daerahnya agar tetap eksis, berdaya saing, dan lestari secara berkelanjutan. (kbs)

