Foto: Ketua PBI Provinsi Bali, Dr. Gung Tini Gorda dan Tim Kolaborasi saat beraudiensi diterima Kepala LLDIKTI Wilayah VIII Bali dan NTB Dr. Ir. I Gusti Lanang Bagus Eratodi, S.T., M.T., IPU, ASEAN.Eng., APEC.Eng., pada Kamis 16 Juli 2026.
Denpasar, KabarBaliSatu
Perempuan Berkebaya Indonesia (PBI) Provinsi Bali siap menggelar berbagai kegiatan inspiratif menyambut Peringatan Hari Kebaya Nasional yang jatuh pada 24 Juli 2026 sekaligus disinkronkan dengan Hari Anak Nasional yang mengangkat tema “Generasi Berbudaya dan Berdaya, Melestarikan Kebaya Nusantara Melalui Edukasi Anak Bangsa”.
Untuk mematangkan persiapan, PBI Bali bersama Tim Kolaborasi melakukan audiensi menemui Kepala Lembaga Layanan Pendidikan Tinggi (LLDIKTI) Wilayah VIII Bali dan Nusa Tenggara Barat (NTB) Dr. Ir. I Gusti Lanang Bagus Eratodi, S.T., M.T., IPU, ASEAN.Eng., APEC.Eng., pada Kamis 16 Juli 2026.
Berkolaborasi dan bersinergi dengan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA), Jegeg Bagus Universitas Pendidikan Nasional (Undiknas) Denpasar, LLDIKTI Wilayah VIII, peringatan Hari Kebaya Nasional akan dipusatkan di Auditorium Dwitunggal Undiknas pada Jumat 24 Juli 2026. Rangkaian kegiatan tahun 2026 ini tidak hanya sekadar perayaan seremonial, melainkan menjadi tonggak awal langkah strategis untuk mengusulkan Kebaya Karangasem sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) di tingkat nasional hingga ke UNESCO.
Peringatan Hari Kebaya Nasional di Undiknas tahun ini juga dijadwalkan akan dihadiri oleh kepengurusan PBI dari 4 provinsi yang akan membawa dan menampilkan program kegiatan masing-masing sebagai bagian sinergi kolaborasi.
Diantaranya hadir pengurus PBI Jogja yang akan menampilkan kreasi musik, PBI Bogor akan menyuguhkanTari Rengkenek, PBI Grobogan siap menampilkan Line Dance dengan lagu Bening versi Mahalini dan PBI Tanggerang memeriahkan dengan Nyanyi Gambang Kromong. Akan ditampilkan juga Tari Jaipong Ronggeng yang siap memukau peserta kegiatan.
Ketua PBI Provinsi Bali, Dr. Gung Tini Gorda, menegaskan bahwa pascapencatatan kebaya di UNESCO, ada ambisi besar untuk melestarikan varian khas lokal. Pihaknya sengaja menggalang audiensi dengan Kepala LLDIKTI untuk memfasilitasi kemitraan dengan perguruan tinggi guna menyusun kajian ilmiah. Kajian tersebut penting untuk membedah kelayakan dan urgensi Kebaya Karangasem agar dapat diakui secara legal-kultural oleh Kementerian Kebudayaan.
“Ada keinginan yang besar dari kami untuk menginisiasi Kebaya Karangasem agar bisa dicatatkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda di Indonesia,” ujar Gung Tini Gorda.
Melalui kampanye “Kebaya Goes to Unesco” yang berkelanjutan, PBI Bali berkomitmen mengedukasi masyarakat agar kebaya tidak lagi dipandang kaku hanya untuk busana adat atau undangan resmi saja, melainkan menjadi identitas harian yang praktis tanpa sekat. Langkah kampanye ini bahkan menyasar ranah politik praktis, di mana para politisi perempuan diimbau mengganti pembagian kaos kampanye dengan kebaya saat turun ke konstituen demi memperkuat identitas bangsa.
“Kami ingin mengkampanyekan bahwa kebaya bukan hanya untuk pakaian adat, tapi bagaimana bisa dipakai sehari-hari tanpa sekat dan tanpa ribet sehingga akan menjadi kebaya itu adalah sebagai budaya yang dulu pernah dilakukan oleh nenek moyang kita,” tegasnya.
Lebih lanjut, Gung Tini Gorda yang juga menjabat sebagai Ketua Himpunan Pengusaha Pribumi Provinsi Bali melihat momentum ini sebagai stimulasi nyata bagi pertumbuhan sektor UMKM ritel mode lokal.
“Ini peluang bagi UMKM. Kain-kain Bali, Tenun Bali dan sebagainya bisa dijadikan kebaya yang memang tidak lepas dari pakem kebaya itu sendiri,” pungkasnya.
Untuk itu, pihak panitia pelaksana dari kalangan civitas akademika Undiknas mengemas acara dengan pendekatan yang segar khas anak muda, namun tetap menyentuh akar tradisi dan kepedulian lingkungan. Ketua Panitia Hari Kebaya Nasional di Undiknas, Agnes Bere Junaedi, menjelaskan bahwa acara yang digelar pada 24 Juli 2026 mendatang akan melibatkan berbagai elemen komunitas.
Mulai dari kegiatan riding santai menyusuri kawasan heritage Kota Denpasar bersama Vespa Udayana, hingga aksi lingkungan penuangan cairan eco-enzim di Tukad Korea yang bekerja sama dengan Mapala Undiknas.
Selain kegiatan tersebut, panitia juga menyiapkan acara talkshow edukatif “Merajut Literasi : Merawat Identitas Bangsa”, parade kebaya oleh Jegeg Undiknas, lomba parade kebaya tingkat umum, hingga lomba mewarnai untuk anak-anak usia TK dan SD di area kampus.
“Kami berharap melalui kolaborasi ini, anak muda bisa selalu membudayakan Hari Kebaya Nasional dengan memakai kebaya dalam keseharian tanpa menunggu hari tertentu,” ungkap Agnes Bere Junaedi.
Senada dengan hal tersebut, Sekretaris Kegiatan, Valerian Triharuna Putra, mengharapkan agar kemitraan dengan lembaga layanan pendidikan tinggi ini dapat terus berlanjut secara konsisten pada tahun-tahun mendatang guna mentransfer nilai-nilai luhur budaya kepada generasi penerus.
“Kami berharap kemitraan dengan LLDIKTI ini terus berjalan untuk melestarikan kebaya sebagai jati diri dan keanggunan bangsa ke generasi selanjutnya,” kata Valerian.
Di sisi lain, Kepala LLDIKTI Wilayah VIII Bali dan NTB, Dr. Ir. I Gusti Lanang Bagus Eratodi, S.T., M.T., IPU, ASEAN.Eng., menyatakan kebanggaan dan komitmen penuhnya terhadap pergerakan ini. LLDIKTI siap memberikan dukungan akademik penuh dengan menggerakkan perguruan tinggi swasta maupun negeri di Bali untuk menyusun riset mendalam mengenai Kebaya Karangasem.
Proses pengusulan secara formal akademik akan diinisiasi mulai dari tingkat Pemerintah Kabupaten Karangasem selaku pemilik kebudayaan, berlanjut ke tingkat nasional, hingga ditargetkan menuju UNESCO.
Langkah penulisan kajian riset ini dinilai krusial agar busana tradisional tersebut mendapat proporsi akademik yang kuat sekaligus mendorong adaptasi model kebaya yang nyaman dan kekinian bagi anak muda.
“Sehingga tidak hanya sekedar kajian dalam rangka mendukung budaya ini, tetapi nanti kita juga akan memberikan sebuah proporsi sendiri secara akademik untuk bisa kita ajukan ke tingkat nasional. Karena jenjangnya sebelum ke pre-school kita akan usulkan ke Kabupaten Karangasem sebagai pemilik kebaya Karangasem, kemudian dilanjutkan ke tingkat nasional. Harapannya diakui di tingkat nasional dan Kebaya Karangasem ini bisa dilanjutkan ke sekolah,” ujar Eratodi.
Ia optimistis, jika Kebaya Karangasem telah diakui secara luas, dampak multiplikasi ekonominya akan langsung dirasakan oleh para perajin tenun dan perajut di Karangasem melalui peningkatan nilai jual produk pada pameran-pameran yang diselenggarakan.
Berbagai rangkaian acara yang dikemas ini membuktikan adanya keberlanjutan program kerja nyata pasca-keputusan presiden terkait penetapan Hari Kebaya Nasional tersebut. “Presiden yang sudah memberikan kepercayaan Hari Kebaya Nasional ini bukan sekedar hanya hari rutinitas tahunan, tetapi ada pengembangan program yang luar biasa untuk melestarikan kebaya. Pada intinya support akademik menggandeng perguruan tinggi untuk merencanakan Kajian usulan kita ke UNESCO,” ujar Eratodi.
Penguatan UMKM dalam acara ini semakin lengkap dengan keterlibatan organisasi pengabdian masyarakat internasional. Tiwi Tjandra, perwakilan dari Rotary Club of Bali Bersinar, menyatakan bahwa dukungan penuh mereka berikan lewat program sinergis transisi kepengurusan Board Changeover Rotary Year 2025/2026 ke Rotary 2026/2027.
Keterlibatan Rotary Club ini menyasar langsung pada implementasi area fokus organisasi, yaitu peningkatan literasi, edukasi, serta penumbuhan ekonomi lokal (growing local economy).
Bentuk kontribusi riil yang dihadirkan di antaranya adalah memfasilitasi lomba mewarnai bagi anak-anak TK dan SD bersama pengurus Anak Bangsa, serta menyediakan ruang pameran bagi UMKM kerajinan untuk menampilkan aneka desain kebaya beserta pernak-pernik pendukungnya yang relevan.
“Harapan kami adalah mendukung growing local economy yang disinergikan dengan perempuan berkebaya Indonesia melalui tampilan aneka desain dan pernak-pernik,” pungkas Tiwi Tjandra. (kbs)

