Foto: Anggota DPRD Kota Denpasar dari Fraksi Partai Gerindra Ketut Ngurah Aryawan bersama Relawan De Gadjah membagikan hewan kurban kepada umat muslim menyambut Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah.
Denpasar, KabarBaliSatu
Pagi itu, suasana di beberapa sudut Kota Denpasar terasa berbeda. Langkah-langkah kaki terdengar lebih ramai dari biasanya. Kendaraan pengangkut kambing keluar masuk lingkungan warga, disambut senyum dan sapaan hangat masyarakat. Anak-anak berlarian dengan wajah penuh rasa ingin tahu, sementara para orang tua berdiri di pinggir jalan menyaksikan suasana yang dipenuhi semangat kebersamaan.
Di tengah momentum Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah, Rabu (28/5/2026), relawan De Gadjah bersama kader Partai Gerindra turun langsung ke masyarakat dalam kegiatan turun ke bawah (Turba), membagikan hewan kurban kepada warga muslim di sejumlah wilayah Kota Denpasar.
Bukan sekadar membagikan kambing kurban, kegiatan itu seolah membawa pesan yang lebih dalam: bahwa di tengah tekanan ekonomi yang belum sepenuhnya pulih, nilai kepedulian dan toleransi masih tumbuh dan dijaga bersama.
Sebanyak sekitar 150 ekor kambing disalurkan secara serentak ke sejumlah titik berbeda seperti di mushola, sementara sisanya diberikan kepada kelompok masyarakat yang dinilai membutuhkan bantuan kurban tahun ini. Sejak pagi hingga sore, kader dan relawan bergerak dari satu lokasi ke lokasi lain, memastikan bantuan sampai kepada penerimanya.
Di antara rombongan itu tampak sosok Ketut Ngurah Aryawan, politisi muda Partai Gerindra yang juga Anggota DPRD Kota Denpasar dari Fraksi Partai Gerindra. Ia tak hanya hadir mengawasi kegiatan, tetapi juga menyapa masyarakat satu per satu, berbincang, dan memastikan proses penyaluran berjalan lancar.
Bagi Ngurah Aryawan, kegiatan seperti itu bukan sekadar agenda tahunan atau rutinitas seremonial yang datang lalu berlalu. Menurutnya, kehadiran partai politik seharusnya dapat dirasakan masyarakat dalam kehidupan nyata, terutama pada momen penting yang memiliki makna mendalam bagi masyarakat.
“Hari ini kami berbagi kambing yang dilaksanakan serentak oleh relawan De Gadjah bersama kader Partai Gerindra. Ini bentuk toleransi antarumat beragama sekaligus bukti bahwa Gerindra hadir di tengah masyarakat yang merayakan Idul Adha,” ujarnya.
Ia menjelaskan kegiatan tersebut juga merupakan arahan Ketua DPD Partai Gerindra Bali, Made Mulyawan Arya atau De Gadjah, agar seluruh kader terus hadir di tengah masyarakat tanpa memandang latar belakang agama maupun kondisi sosial.
Menurutnya, Bali selama ini dikenal sebagai rumah besar keberagaman yang dibangun di atas pondasi toleransi. Nilai itu, kata dia, tidak cukup hanya dijaga lewat slogan, tetapi harus diwujudkan melalui tindakan nyata.
“Harapan kami, umat muslim dapat merasakan kebahagiaan lahir dan batin pada Idul Adha ini. Kami ingin menunjukkan bahwa Gerindra hadir dalam berbagai momentum keagamaan masyarakat,” katanya.
Antusiasme masyarakat terlihat begitu kuat. Di beberapa lokasi, warga bergotong royong menurunkan kambing dari kendaraan. Tangan-tangan saling membantu tanpa memandang latar belakang. Suasana terasa sederhana, tetapi hangat.
Sejumlah tokoh masyarakat muslim yang hadir pun mengaku mengapresiasi langkah tersebut. Mereka menilai kegiatan itu bukan hanya sebatas penyaluran bantuan, tetapi juga memperkuat ikatan persaudaraan yang selama ini tumbuh di Bali.
“Ini bukan hanya soal kambing kurban. Ini tentang rasa persaudaraan. Kami merasa diperhatikan dan dihargai,” ungkap salah seorang tokoh masyarakat muslim di Denpasar.
Ngurah Aryawan menegaskan semangat solidaritas itu bukan hanya hadir saat Idul Adha. Pada perayaan Galungan maupun momentum keagamaan lainnya, pihaknya juga berupaya untuk hadir di tengah masyarakat.
“Kami ingin membangun solidaritas. Tidak hanya saat Idul Adha, saat Galungan juga kami hadir. Masyarakat harus merasakan adanya kebersamaan dan keadilan ketika mereka merayakan hari besar keagamaan,” katanya.
Di tengah kondisi ekonomi yang masih memberi tekanan bagi sebagian masyarakat, mulai dari naiknya kebutuhan pokok hingga tantangan pekerjaan, Ngurah Aryawan menilai justru saat seperti inilah kepedulian harus lebih diperkuat.
Baginya, masyarakat terkadang tidak mengukur bantuan dari besar kecil nilainya. Ada hal lain yang lebih penting: kehadiran.
“Kadang masyarakat tidak melihat besar kecil bantuannya. Tapi mereka melihat siapa yang hadir dan siapa yang peduli,” tuturnya.
Menjelang akhir kegiatan, matahari perlahan mulai turun. Namun semangat kebersamaan yang tercipta sepanjang hari itu masih terasa.
Di tengah keberagaman Bali, hari itu masyarakat kembali diingatkan tentang satu hal sederhana: bahwa rasa peduli sering kali hadir bukan melalui kata-kata besar, melainkan lewat langkah kecil yang dilakukan bersama.
“Kapan pun masyarakat membutuhkan, kita harus hadir,” tegas Ngurah Aryawan. (kbs)

