BerandaDaerahDipimpin Dr. Made Artana, Bali Creative Board Lahir, Pelaku Ekonomi Kreatif dan...

Dipimpin Dr. Made Artana, Bali Creative Board Lahir, Pelaku Ekonomi Kreatif dan Digital Bali Kini Punya Wadah Bersama

Dari Startup hingga Musik, 28 Organisasi Bali Bersatu Bentuk Bali Creative Board

Foto: Deklarasi pembentukan Bali Creative Board (BCB), di Ruang Pertemuan Etna, Kantor Dinas Pariwisata Provinsi Bali.

Denpasar, KabarBaliSatu

Bali memasuki babak baru dalam penguatan sektor ekonomi kreatif dan digital. Sebanyak 28 organisasi ekonomi kreatif dan digital resmi mendeklarasikan pembentukan Bali Creative Board (BCB), sebuah organisasi payung berbentuk federasi yang diharapkan menjadi rumah besar bersama bagi para pelaku industri kreatif di Pulau Dewata.

Deklarasi tersebut digelar di Ruang Pertemuan Etna, Kantor Dinas Pariwisata Provinsi Bali, dan menjadi momentum penting bagi konsolidasi ekosistem ekonomi kreatif serta digital Bali yang selama ini berkembang dinamis namun berjalan secara terpisah.

BCB dibentuk untuk menghimpun kekuatan berbagai organisasi lintas subsektor, mulai dari teknologi, musik, film, desain, game, media, hingga industri kreatif berbasis budaya. Kehadiran organisasi ini dinilai strategis untuk memperkuat kolaborasi, meningkatkan posisi tawar pelaku kreatif, sekaligus mendorong arah pembangunan ekonomi kreatif Bali yang lebih terintegrasi.

Dalam forum tersebut, Dr. Made Artana, S.Kom., M.M., Rektor Primakara University yang dikenal aktif membangun ekosistem ekonomi kreatif dan digital Bali, terpilih secara aklamasi sebagai Ketua Umum pertama BCB.

Dukungan terhadap Made Artana mengalir hampir dari seluruh organisasi pendiri. Sosoknya dinilai memiliki rekam jejak panjang, jaringan luas, serta peran nyata dalam menyatukan berbagai komunitas dan organisasi kreatif hingga BCB akhirnya terbentuk.

“Proses membentuk BCB ini tidak bisa dilakukan sembarang orang. Apa yang dilakukan Pak De Artana membuktikan beliau mampu mengumpulkan dan memimpin kita bersama,” ujar Ketua Bali Music Forum, Gus Mantra, saat mengusulkan nama Made Artana dalam forum tersebut.

Aklamasi itu menjadi simbol kuatnya kepercayaan para pelaku ekonomi kreatif dan digital Bali terhadap figur yang sejak awal berada di garis depan proses konsolidasi tersebut.

Rumah Besar Baru Ekonomi Kreatif Bali

Pembentukan BCB lahir dari kesadaran bersama bahwa Bali membutuhkan wadah kolektif yang mampu menjadi penghubung dan representasi sektor ekonomi kreatif serta digital secara lebih kuat.

Selama ini, banyak komunitas dan organisasi kreatif tumbuh aktif di Bali, namun belum memiliki satu forum besar yang mampu mengonsolidasikan gerakan, menyatukan aspirasi, dan memperjuangkan kepentingan sektor secara bersama-sama.

Di tengah upaya Bali memperkuat struktur ekonomi yang lebih berimbang, ekonomi kreatif dan digital dipandang memiliki potensi besar sebagai motor pertumbuhan baru. Apalagi Bali memiliki modal budaya, adat, tradisi, serta talenta kreatif yang sangat kuat.

BCB pun diharapkan menjadi ruang kolaborasi yang mampu menghubungkan kreativitas lokal dengan peluang ekonomi masa depan.

Rekam Jejak Panjang Made Artana

Terpilihnya Made Artana sebagai Ketua Umum pertama BCB dianggap sebagai kelanjutan alami dari perjalanan panjangnya di dunia ekonomi kreatif dan digital Bali.

Publik mengenalnya sebagai pendiri dan Rektor Primakara University. Namun jauh sebelum itu, ia telah aktif membangun industri digital sejak mendirikan perusahaan pengembang software PT Bali Soket Informindo pada 1999, setelah menyelesaikan pendidikan di Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia.

Tak hanya di bidang teknologi, Made Artana juga pernah aktif di industri musik Bali melalui band berbahasa Bali Soband, ikut mendirikan Pramusti Bali, hingga mengelola event organizer SomeOne Production yang sempat aktif menggelar konser dan pertunjukan di Bali.

Saat mendirikan Primakara University pada 2013, ia terus memperkuat fokus pada technopreneurship, startup, dan inovasi digital. Ia juga mendirikan Bali Tech Startup (BTS), komunitas yang menjadi wadah perusahaan teknologi dan startup di Bali.

Keterlibatannya meluas ke berbagai subsektor lain, mulai dari radio melalui XD-Radio Bali hingga industri game lewat Pandora Entertainment. Bagi Made Artana, budaya Bali bukan sekadar warisan yang dijaga, tetapi juga sumber inspirasi bagi lahirnya produk kreatif dan digital masa depan.

Ia juga aktif membangun gerakan kolaboratif melalui Bali Initiative Hub (Bithub), termasuk program Banjar Creative Space yang memanfaatkan balai banjar sebagai ruang kreatif dan ruang belajar di berbagai kabupaten/kota di Bali.

Sejak 2022, Made Artana aktif di Indonesia Creative Cities Network (ICCN) dan pada 2026 menjabat sebagai Deputy Talent, Education & Human Development.

Selain dikenal sebagai akademisi dan pengusaha, ia juga memiliki keterlibatan dalam pengembangan kebijakan publik. Saat ini, ia tercatat sebagai Anggota Kelompok Ahli Pembangunan Pemerintah Provinsi Bali Bidang Ekonomi Kreatif dan Digital, sekaligus Kepala Tim Penyusun Raperda Pengembangan Ekonomi Kreatif dan Digital Bali.

Posisi tersebut membuatnya dinilai mampu menjembatani dunia kampus, industri, komunitas, media, dan pemerintah dalam satu arah pembangunan yang lebih sinergis.

“BCB Harus Jadi Rumah Besar Bersama”

Made Artana menegaskan Bali memiliki potensi besar di sektor ekonomi kreatif dan digital yang harus dihimpun dalam satu kekuatan bersama.

“Bali punya kekayaan budaya, adat, tradisi, talenta kreatif, dan pasar yang kuat. Semua potensi itu perlu dihimpun agar pelaku ekonomi kreatif dan digital Bali memiliki posisi tawar yang lebih kuat dan mampu mengambil peran lebih besar dalam masa depan ekonomi Bali,” ujarnya.

Ia menegaskan BCB bukan dibentuk untuk menggantikan organisasi yang sudah ada, melainkan memperkuat seluruh ekosistem yang telah tumbuh sebelumnya.

“BCB harus menjadi rumah besar bersama. Organisasi-organisasi yang sudah ada tetap tumbuh mandiri, tetapi sekaligus memiliki wadah bersama untuk memperjuangkan kepentingan sektor secara kolektif,” katanya.

Menurutnya, jika sektor pariwisata Bali memiliki organisasi payung yang kuat, maka ekonomi kreatif dan digital Bali juga sudah saatnya memiliki kekuatan kolektif yang setara.

28 Organisasi Pendiri Bali Creative Board

BCB didirikan oleh 28 organisasi ekonomi kreatif dan digital di Bali, di antaranya Bali Tech Startup, PRSSNI Bali, GameDev Bali, Pramusti Bali, ICCN, Balinimation, Komunitas Cinta Film Indonesia, Bali Blockchain Center, Bali Music Forum, Bali Initiative Hub, hingga Backstagers Indonesia.

Kehadiran berbagai organisasi lintas subsektor tersebut menunjukkan bahwa Bali tengah membangun fondasi baru untuk memperkuat ekonomi kreatif dan digital sebagai salah satu pilar masa depan Pulau Dewata. (kbs)

Berita Lainnya

Berita Terkini