Foto: Ilustrasi penguatan kualitas produk Indonesia.
Jakarta, KabarBalisatu
Di tengah pembahasan kerja sama ekonomi antara Indonesia dan Kanada, Anggota Komisi VI DPR RI dari Fraksi NasDem daerah pemilihan Bali, Ir. Nengah Senantara, menyoroti persoalan lain yang menurutnya tak kalah penting dari urusan perdagangan dan investasi. Ia mengangkat potensi diskriminasi terhadap sejumlah produk unggulan Indonesia yang dinilai kerap mendapat tekanan melalui isu lingkungan.
Pernyataan itu disampaikan Senantara saat mengikuti Rapat Kerja (Raker) Komisi VI DPR RI bersama Menteri Perdagangan dengan agenda pembahasan rencana Persetujuan Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia–Kanada atau Indonesia–Canada Comprehensive Economic Partnership Agreement (ICA-CEPA), Selasa (19/5/2026).
Dalam forum tersebut, Senantara menilai negara-negara maju sering kali menerapkan standar tertentu yang berpotensi menghambat akses produk Indonesia ke pasar internasional. Menurutnya, komoditas strategis seperti kelapa sawit hingga produk furnitur nasional kerap menghadapi tantangan serupa.
“Yang kedua, Pak Menteri. Kita tahu Kanada itu adalah negara yang maju. Beberapa aspek seperti kelapa sawit contohnya. Itu kita terus menerus ditekan dengan faktor lingkungan. Ini merupakan tantangan Pak Menteri ke depannya agar kita tidak didiskriminasi terus tentang ini. Bagaimana membuat ada kesetaraan. Tadi teman kita menyampaikan juga di furniture hal yang sama. Ini tantangan buat Pak Menteri agar kita tidak dikritik dan didiskriminasi lagi,” ujar Senantara dalam rapat tersebut.
Menurut Senantara yang juga Ketua DPW Partai NasDem Provinsi Bali itu kerja sama ekonomi tidak semata berbicara tentang penghapusan tarif atau peningkatan volume perdagangan, tetapi juga harus memastikan adanya perlakuan yang adil bagi produk Indonesia di pasar internasional.
Sorotan Senantara muncul di tengah meningkatnya perhatian global terhadap aspek keberlanjutan lingkungan dalam perdagangan internasional. Sejumlah negara mulai menerapkan regulasi ketat terhadap produk yang dinilai berkaitan dengan isu deforestasi, emisi karbon, hingga rantai pasok berkelanjutan.
Kelapa sawit menjadi salah satu sektor yang selama beberapa tahun terakhir menghadapi tekanan cukup besar. Indonesia sendiri merupakan produsen minyak sawit terbesar dunia dengan kontribusi lebih dari separuh produksi global. Data menunjukkan ekspor produk sawit Indonesia dalam beberapa tahun terakhir secara konsisten menyumbang devisa puluhan miliar dolar Amerika Serikat dan menjadi sumber penghidupan bagi jutaan tenaga kerja, mulai dari petani hingga sektor industri turunannya.
Sementara itu, industri furnitur juga merupakan sektor yang memiliki kontribusi penting terhadap perekonomian nasional. Produk furnitur Indonesia dikenal memiliki daya saing melalui bahan baku kayu, rotan, hingga kerajinan berbasis desain lokal yang telah menembus berbagai pasar internasional, termasuk Amerika Utara dan Eropa.
Di sisi lain, pembahasan Indonesia–Kanada CEPA sendiri diproyeksikan membuka peluang baru bagi peningkatan perdagangan kedua negara. Nilai perdagangan bilateral Indonesia dan Kanada dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan tren peningkatan dengan potensi besar pada sektor pertanian, manufaktur, ekonomi kreatif, serta produk hilirisasi.
Namun bagi Senantara, peluang pasar yang lebih luas harus dibarengi dengan perlindungan terhadap kepentingan nasional.
Ia menegaskan bahwa pemerintah perlu memastikan kerja sama internasional yang dibangun tidak menempatkan produk Indonesia dalam posisi yang kurang menguntungkan akibat standar atau kebijakan yang dinilai tidak diterapkan secara setara.
“Persaingan harus berlangsung secara adil. Jangan sampai isu lingkungan justru digunakan menjadi instrumen yang melemahkan daya saing produk kita,” tegas wakil rakyat asal Bali yang dikenal dengan tagline “Senantara Peduli, Senantara Berbagi” itu. (kbs)

