Foto: Anggota Badan Akuntabilitas Keuangan Negara (BAKN) DPR RI yang juga Anggota Komisi VI DPR RI Fraksi Partai Golkar dari dapil Bali, Gde Sumarjaya Linggih (Demer) saat Kunjungan Kerja Badan Akuntabilitas Keuangan Negara (BAKN) DPR RI dalam rangka penelaahan tata kelola subsidi dan kompensasi listrik di PLTDG Pesanggaran, Senin (4/5/2026).
Denpasar, KabarBaliSatu
Dorongan menuju energi bersih kembali menguat di Bali. Anggota Badan Akuntabilitas Keuangan Negara (BAKN) DPR RI yang juga Anggota Komisi VI DPR RI Fraksi Partai Golkar dari dapil Bali, Gde Sumarjaya Linggih atau yang akrab disapa Demer, mendesak percepatan pemanfaatan solar panel sebagai sumber listrik berbasis energi terbarukan di Pulau Dewata.
Pernyataan itu disampaikan Demer saat Kunjungan Kerja Badan Akuntabilitas Keuangan Negara (BAKN) DPR RI dalam rangka penelaahan tata kelola subsidi dan kompensasi listrik di PLTDG Pesanggaran, Senin (4/5/2026).
Kegiatan tersebut dipimpin Ketua Tim Delegasi BAKN DPR RI, Ir. Andreas Eddy Susetyo, dan dihadiri jajaran pimpinan PT PLN (Persero), termasuk Direktur Manajemen Proyek dan Energi Baru Terbarukan Suroso Isnandar serta Direktur Utama PT PLN Energi Primer Indonesia Rakhmad Dewanto.
Menurut Demer, transformasi menuju energi bersih bukan sekadar isu lingkungan, melainkan juga strategi ekonomi yang relevan bagi masa depan pariwisata Bali.
“Pariwisata kita sangat memerlukan energi bersih. Bahkan wisatawan, khususnya dari Eropa, bersedia membayar lebih mahal ketika destinasi menggunakan energi ramah lingkungan,” ujar Demer yang juga Ketua DPD Partai Golkar Bali itu.
Wakil rakyat berlatar belakang pengusaha sukses dan mantan Ketua Umum Kadin Bali itu menambahkan, sejumlah pembangkit listrik di Indonesia kini mulai beralih ke sistem combined cycle berbasis gas yang lebih efisien. Di sisi lain, dalam Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL), pengembangan energi terbarukan seperti solar panel juga mulai diperluas. Namun, ia menekankan bahwa Bali membutuhkan percepatan implementasi.
Energi Matahari: Dari Teknologi ke Solusi Strategis
Solar panel merupakan teknologi yang mengubah cahaya matahari menjadi energi listrik melalui sel fotovoltaik berbahan silikon. Saat cahaya matahari mengenai permukaan sel, energi tersebut diubah menjadi arus listrik searah (DC), yang kemudian dikonversi menjadi arus bolak-balik (AC) melalui inverter agar dapat digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.
Teknologi ini tidak hanya digunakan untuk kebutuhan rumah tangga seperti penerangan dan pompa air, tetapi juga telah menjadi tulang punggung pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) di berbagai negara.
Keunggulannya terletak pada sifatnya yang berkelanjutan, ramah lingkungan, serta biaya operasional yang relatif rendah setelah instalasi awal. Di tengah tekanan global terhadap pengurangan emisi karbon, solar panel menjadi salah satu solusi yang paling realistis.
Pariwisata dan Energi Bersih: Relasi yang Tak Terpisahkan
Di Bali, pemanfaatan energi surya semakin menemukan relevansinya. Industri pariwisata yang menjadi tulang punggung ekonomi daerah kini menghadapi tuntutan baru: keberlanjutan.
Penggunaan solar panel dinilai mampu memperkuat citra eco-tourism, sekaligus meningkatkan daya saing destinasi. Hotel, vila, dan pelaku usaha wisata yang mengadopsi energi terbarukan cenderung lebih diminati wisatawan global yang sadar lingkungan.
Selain itu, efisiensi biaya listrik jangka panjang menjadi keuntungan tersendiri bagi sektor hospitality yang dikenal boros energi. Di wilayah-wilayah dengan keterbatasan infrastruktur listrik, panel surya juga menghadirkan solusi kemandirian energi.
Namun demikian, tantangan tetap ada—mulai dari tingginya biaya investasi awal, aspek estetika di kawasan budaya, hingga kesiapan infrastruktur pendukung seperti sistem penyimpanan energi.
Arah Kebijakan dan Momentum Bali
Dorongan Demer sejalan dengan arah kebijakan nasional yang mulai mengakselerasi transisi energi bersih. Bali, sebagai destinasi wisata dunia, dinilai memiliki kepentingan strategis untuk berada di garis depan perubahan ini.
“Ini bukan hanya soal lingkungan, tapi soal positioning Bali ke depan. Energi bersih akan menjadi nilai tambah sekaligus tuntutan pasar global,” tegas wakil rakyat yang sudah lima periode mengabdi di DPR RI memperjuangkan kepentingan Bali itu.
Dengan tekanan global terhadap isu keberlanjutan yang kian menguat, Bali dihadapkan pada pilihan: beradaptasi lebih cepat atau tertinggal dalam kompetisi destinasi wisata dunia. (kbs)

