Foto: Suasana kebersamaan DPD HIPPI Bali menggelar Meet Up” Sunday Market pada Minggu 26 April 2026 di Meet Up Cafe and Eatery, Kerobokan, Badung.
Badung, KabarBaliSatu
Dewan Pimpinan Daerah Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (DPD HIPPI) Provinsi Bali resmi meluncurkan program “Meet Up” Sunday Market pada Minggu 26 April 2026. Bertempat di Meet Up Cafe and Eatery, Kerobokan, kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi strategis antara Bidang UMKM DPD HIPPI Bali dengan SMK Negeri 1 Mas Ubud untuk mewadahi kreativitas pengusaha lokal.
Acara yang berlangsung meriah ini menampilkan beragam produk unggulan, mulai dari produk kreatif, fashion, hingga sayur-mayur segar hasil binaan HIPPI Bali dan para siswa SMKN 1 Mas Ubud. Tidak sekadar menjadi ajang jual beli, kegiatan ini dirancang sebagai wadah pemberdayaan agar UMKM lokal mampu bersaing dan “naik kelas”.
Sejumlah brand dan UMKM yang turut menyemarakkan Sunday Market kali ini antara lain: Adole Bag, Body Shop Inbi, Telur Hippi Bangli, Marigold Ecoprint, Padma Herbal, Kuwera Ja, Dupa Kaori, Sayuran Hippi Bangli, Fashion R&R, Nadya Fashion, Seraya Mekar, Gemnet Nimmi, serta berbagai produk kreatif dari SMKN 1 Mas Ubud.
Rangkaian acara juga diisi penandatanganan MOU antara DPD HIPPI Bali dengan Universitas Bali Internasional (UNBI) serta penandatanganan MOU antara Rotary Club of Bali Bersinar dengan Stikes Wira Medika.
Ketua DPD HIPPI Bali, Dr. AAA Ngr Tini Rusmini Gorda, S.H., M.M., M.H., yang akrab disapa Gung Tini Gorda menegaskan bahwa Sunday Market ini adalah langkah nyata untuk membumikan produk lokal di tengah gempuran produk luar. Ia menekankan pentingnya sinergi antara pelaku usaha, akademisi, dan pemerintah.
“Kita harus mendorong kajian akademik untuk membumikan produk lokal agar perjuangan kita memiliki landasan yang kuat. Mari kita dorong pemerintah daerah bersama-sama, sehingga produk lokal Bali tidak tersingkirkan di rumah sendiri,” tegasnya dalam sambutan pembukaan.
Senada dengan hal tersebut, Ketua Umum DPP HIPPI, Erik Hidayat, mengungkapkan kekhawatirannya terhadap dominasi asing di Bali yang kini diperkirakan mencapai 40-45%. Ia mengapresiasi inisiasi ini sebagai langkah “perjuangan dari akar rumput” untuk merebut kembali kedaulatan ekonomi masyarakat pribumi.
“HIPPI adalah organisasi perjuangan. Kita harus menyuarakan kepentingan pengusaha pribumi agar tidak hanya menjadi penonton atau pekerja di tanah sendiri. Saya berharap kegiatan seperti ini bisa dilakukan serentak di seluruh kabupaten di Bali, seperti Tabanan atau Bangli, agar manfaat jejaring ini semakin terasa,” ujar Erik.
Sementara itu, Ketua DPC HIPPI Kabupaten Badung, I Gusti Agung Rendra Wijaya, menambahkan bahwa acara ini juga menyasar pasar internasional mengingat lokasi Kerobokan yang strategis bagi wisatawan mancanegara. Ia bahkan mengungkapkan adanya peluang ekspor bagi produk-produk terpilih.
“Tujuan kita adalah memperkenalkan produk lokal kepada masyarakat luas hingga internasional. Saat ini sudah ada penjajakan untuk membawa beberapa produk UMKM binaan kami ke pasar Korea dan Eropa melalui jaringan konsulat yang kami miliki,” kata Rendra.
Dukungan juga datang dari Anggota DPD RI, Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna yang akrab disapa AWK. Ia menilai Sunday Market sebagai alternatif pasar konvensional yang segar dan memiliki vibrasi positif bagi destinasi wisata. Namun, ia juga berpesan agar pelaku UMKM tidak cepat berpuas diri.
“UMKM harus berani keluar dari zona nyaman. Jangan selamanya menjadi UMKM; harus dinamis, tingkatkan kualitas produk dan SDM agar bisa bertransformasi menjadi pengusaha kelas premium yang memiliki pabrik sendiri dan berkontribusi besar pada pajak daerah,” pesan Senator yang akrab disapa AWK tersebut.
Manfaat nyata dirasakan langsung oleh peserta, salah satunya I Dewa Ayu Eka Taris Wahyuniati. Pelaku UMKM binaan HIPPI ini mengaku mendapatkan pengalaman berharga mengenai dinamika pasar dan perluasan jejaring (networking).
Kesan serupa disampaikan oleh perwakilan siswa SMKN 1 Mas Ubud. Dalam partisipasi perdana ini, mereka membawa produk inovatif seperti buket bunga, lilin aromaterapi, hingga es krim daun kelor. “Kami mendapatkan relasi baru dan belajar secara langsung bagaimana mengembangkan sebuah usaha,” ungkap salah satu siswa. (kbs)

