BerandaDaerahPesan Mendalam Gubernur Koster untuk Mahasiswa Program Satu Keluarga Satu Sarjana: Berusaha...

Pesan Mendalam Gubernur Koster untuk Mahasiswa Program Satu Keluarga Satu Sarjana: Berusaha Sekala Niskala! Kekayaan Abadi Ada di Kepala, Tidak Pernah Hilang!

Lupakan Warisan Tanah dan Mobil! Hidup Harus Dipecahkan dengan Hasil dari Kepala Sendiri

Foto: Gubernur Bali Wayan Koster saat penyerahan bantuan Program Satu Keluarga Satu Sarjana (SKSS) di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Art Centre Denpasar, Selasa (23/12/2025).

Denpasar, KabarBaliSatu

Di bawah langit sore Denpasar yang teduh, Gedung Ksirarnawa di kawasan Taman Budaya Art Centre terasa berbeda pada Selasa, 23 Desember 2025. Ruang itu bukan sekadar tempat seremoni, melainkan menjadi saksi lahirnya harapan—harapan yang dititipkan kepada generasi muda Bali dari keluarga miskin dan miskin ekstrem, melalui Program Satu Keluarga Satu Sarjana (SKSS).

Gubernur Bali Wayan Koster hadir langsung, menyapa para mahasiswa penerima bantuan dengan senyum hangat dan nada suara yang penuh empati. Ia mengaku bahagia bisa bertatap muka, berbagi cerita, dan menyampaikan pesan langsung kepada anak-anak muda yang kelak akan menjadi penopang masa depan Bali.

“Saya doakan adik-adik sehat semua. Ikuti perkuliahan dengan baik, rajin dan tekun belajar, raih prestasi setinggi-tingginya,” ucapnya. Namun pesan itu tak berhenti pada nasihat akademik. Koster lalu menanamkan satu gagasan yang sederhana, namun menghunjam dalam: kekayaan sejati yang abadi adalah pengetahuan di dalam kepala.

Gubernur Koster menegaskan kekayaan fisik bisa hilang. Tapi ilmu pengetahuan, pendidikan tinggi, itu ada di kepala. Tidak bisa dicabut. Dari situlah hidup dipecahkan, masalah diselesaikan, dan kemandirian lahir.

“Adik-adik, kekayaan abadi yang takkan pernah hilang adalah kekayaan yang ada di kepala. Ini yang tidak akan hilang karena nggak bisa dicabut. Ada di kepala. Kalau diwariskan mobil, tanah apapun oleh orang tuanya, kekayaan fisik suatu saat terkena masalah hilang. Atau punya hutang bisa hilang. Atau bertengkar sama saudara bisa juga habis, jangan begitu. Kalau sudah punya pendidikan tinggi sudah lupakan itu semua,” katanya disambut tatapan penuh harap dari para mahasiswa.

“Hidup harus dipecahkan dengan hasil dari kepala sendiri. Dan itulah yang akan membuat adik-adik ini mandiri, otonom, mampu menyelesaikan dan memecahkan masalah hidup sendiri. Supaya menjadi pribadi yang berkualitas dan berdaya saing,” ujar Gubernur Koster melanjutkan pesannya.

Bagi Gubernur Koster, Program Satu Keluarga Satu Sarjana bukan sekadar program bantuan. Ia adalah jalan sunyi untuk memutus rantai kemiskinan, dengan pendidikan sebagai kunci. Ia berharap para penerima SKSS kelak tumbuh menjadi putra-putri terbaik Bali, membanggakan diri, orang tua, daerah, bahkan Indonesia.

Lebih dari itu, Gubernur Koster menekankan keseimbangan hidup sekala dan niskala. Karena itu Gubernur Bali dua periode itu juga meminta para mahasiswa peserta Program Satu Keluarga Satu Sarjana untuk berusaha secara sekala dan niskala.

Rajin belajar dan bekerja, namun juga tekun berdoa, hormat kepada orang tua, leluhur, dan Ida Sesunan. “Kalau klop sekala niskala, hidup akan berkeadaban, bermartabat, dan membawa kemajuan untuk semua. Kalau bisa, lebih bagus dari saya,” ujarnya tulus.

Program Satu Keluarga Satu Sarjana sendiri merupakan inisiatif strategis Pemerintah Provinsi Bali, dan disebut-sebut sebagai salah satu program pertama di Indonesia yang secara khusus membuka akses pendidikan tinggi bagi keluarga miskin dan miskin ekstrem. Pemprov Bali menggandeng 26 perguruan tinggi negeri dan swasta sebagai mitra.

Tahun 2025, Program Satu Keluarga Satu Sarjana menargetkan 3.000 mahasiswa. Namun karena keterbatasan waktu dan sosialisasi, tercatat sekitar 1.000 pendaftar dari sembilan kabupaten/kota se-Bali. Dari jumlah tersebut, 500 mahasiswa akhirnya menerima bantuan Program Satu Keluarga Satu Sarjana, sementara lainnya telah terakomodasi melalui Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K).

Bantuan yang diberikan pun konkret dan menyentuh kebutuhan dasar: biaya hidup Rp1,4 juta per bulan bagi mahasiswa di Denpasar dan Badung, Rp1,2 juta di kabupaten lain, serta Rp750 ribu per bulan bagi mahasiswa Universitas Terbuka. Pemprov Bali juga menanggung UKT hingga Rp1 juta per semester dan biaya pendaftaran maksimal Rp300 ribu.

Acara penyerahan bantuan Program Satu Keluarga Satu Sarjana (SKSS) dihadiri Ketua Komisi IV DPRD Provinsi Bali Nyoman Suwirta, jajaran kepala perangkat daerah, kepala dinas pendidikan kabupaten/kota se-Bali, serta pimpinan perguruan tinggi negeri maupun swasta mitra Program SKSS 2025. Bantuan diserahkan secara simbolis kepada mahasiswa dari sembilan kabupaten/kota yang menempuh pendidikan di berbagai perguruan tinggi di Bali. (kbs)

Di akhir acara, yang tersisa bukan hanya angka dan kebijakan. Ada keyakinan yang tumbuh di dada para mahasiswa—bahwa negara hadir, bahwa pendidikan adalah jalan keluar, dan bahwa dari kepala yang tercerahkan, masa depan Bali akan ditulis dengan lebih bermartabat. (kbs)

Berita Lainnya

Berita Terkini