BerandaDaerahBDFW Hari Ketiga: Panggung Wastra Bali Semakin Gemerlap, Tujuh Desainer Unjuk Karya...

BDFW Hari Ketiga: Panggung Wastra Bali Semakin Gemerlap, Tujuh Desainer Unjuk Karya Formal-Kasual & Koleksi Pribadi Ny. Putri Koster

Foto: Gelaran Bali Dekranasda Fashion Week (BDFW) 2025 di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Denpasar, Kamis (4/12).

Denpasar, KabarBaliSatu 

Gelaran Bali Dekranasda Fashion Week (BDFW) 2025 terus memancarkan pesonanya. Memasuki hari ketiga sesi kedua, panggung di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya Denpasar, Kamis (4/12), berubah menjadi ruang kreativitas yang merayakan kekuatan wastra Bali dalam arus mode modern.

Tujuh perancang lokal—Kinara Busana, Ipong, Fortuna Bali Fashion, Kwaca Bali, Luh Jaum, Uluwatu, dan Jineng Amertha D’Sign—menampilkan koleksi terbaik mereka, mulai dari formal hingga kasual. Setiap perancang hadir dengan karakter unik, memadukan estetika tradisi dengan inovasi desain masa kini, menghadirkan busana yang bukan hanya indah tetapi juga relevan dengan kebutuhan pasar fesyen yang terus berkembang.

Menambah istimewa panggung BDFW, koleksi pribadi Ketua Dekranasda Provinsi Bali, Ny. Putri Koster, turut diperagakan. Koleksi ini menggunakan tenun Bali karya perajin lokal, menjadi simbol keberpihakan nyata kepada industri kreatif daerah.

Dalam sambutannya, Ny. Putri Koster menyampaikan apresiasi atas antusiasme para perajin dan desainer. Ia menegaskan bahwa BDFW menjadi ruang penting untuk memperkuat posisi wastra Bali di tengah kompetisi industri mode nasional maupun internasional.

“Melalui BDFW, kita ingin kreativitas perancang lokal semakin bersinar dan perajin kita semakin sejahtera,” ujarnya.

BDFW bukan sekadar panggung mode—tetapi strategi kebudayaan dan ekonomi untuk memajukan IKM Bali sebagai tulang punggung ekonomi rakyat.

Ketua Panitia BDFW sekaligus Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Bali, Ngurah Wiryanatha, melaporkan bahwa gelaran hari ketiga sesi pertama berlangsung sukses dan mencatat nilai penjualan signifikan.

“Penampilan para desainer sudah melalui proses kurasi. Pasti bagus,” tegasnya.

Dari tujuh perancang, masing-masing membawa 10 koleksi, ditambah 30 koleksi dari Ibu Putri Koster. Total 100 busana tampil di panggung, diperagakan oleh 20 model profesional.

Wiryanatha menegaskan bahwa industri fesyen adalah mata rantai panjang yang menghidupkan banyak pihak—mulai dari pemintal benang, penenun, desainer, penjahit, hingga konsumen. Karena itu, dukungan publik sangat menentukan keberlanjutan IKM Bali.

“Wastra hitakara bukan hanya indah. Ia menghidupi banyak keluarga. Mari belanja, mari gunakan produk IKM Bali,” pesannya.

Untuk menambah semarak acara, panitia menyediakan doorprize dari Balimall, Bank BPD Bali, dan Perumda Bali Sat Guna dengan total hadiah Rp5 juta. Kehadiran hadiah ini sekaligus menjadi bentuk penghargaan bagi masyarakat yang hadir mendukung para pelaku IKM.

Gelaran BDFW hari ketiga menunjukkan bahwa industri fesyen lokal Bali semakin percaya diri. Inovasi para perancang, kualitas tenun lokal, serta dukungan penuh Dekranasda dan pemerintah provinsi menjadi fondasi penting untuk membawa wastra Bali ke panggung global.

BDFW tidak hanya menampilkan keindahan, tetapi juga memperkuat narasi bahwa Bali mampu memajukan ekonomi kreatif berbasis budaya—sebuah komitmen untuk menyejahterakan perajin, menghidupkan industri lokal, dan menjaga identitas Bali dalam arus modernitas. (kbs)

Berita Lainnya

Berita Terkini