Foto: Ilustrasi kasus ISPA di Bali yang mencapai 244.329 kasus hingga Agustus 2026. Dinas Kesehatan Bali memperkuat surveilans influenza dan mengimbau masyarakat meningkatkan kewaspadaan serta menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat.
Denpasar, KabarBaliSatu
Penemuan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Bali mencapai 244.329 kasus sepanjang Januari hingga Agustus 2026. Angka tersebut mendorong Dinas Kesehatan (Dinkes) Bali meningkatkan kewaspadaan dan memperkuat surveilans penyakit saluran pernapasan, terutama dalam memantau perkembangan influenza.
Berdasarkan data Dinkes Bali yang diperbarui per 10 September 2026, penemuan ISPA tertinggi tercatat di Kabupaten Badung dengan 57.667 kasus. Berikutnya Tabanan sebanyak 47.513 kasus dan Denpasar 42.204 kasus.
Tiga wilayah tersebut menyumbang 147.384 kasus, atau sekitar 60,3 persen dari total penemuan ISPA di Bali.
Sementara itu, penemuan ISPA di wilayah lainnya tercatat sebanyak 23.141 kasus di Gianyar, 22.192 kasus di Buleleng, 19.105 kasus di Karangasem, 16.373 kasus di Klungkung, 14.016 kasus di Jembrana, dan 2.118 kasus di Bangli.
Jika dilihat berdasarkan kelompok umur, kasus terbanyak ditemukan pada kelompok dewasa dengan 100.101 kasus. Selanjutnya kelompok balita sebanyak 51.728 kasus, lansia 35.081 kasus, anak 30.610 kasus, dan remaja 26.809 kasus.
Surveilans Influenza Diperkuat
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Provinsi Bali, dr. I Gusti Ayu Raka Susanti, M.Kes, mengatakan tingginya penemuan kasus ISPA menjadi perhatian dalam penguatan pemantauan penyakit saluran pernapasan.
Dalam keterangan tertulis yang disampaikan Selasa (29/9/2026), Raka menyebut pemantauan influenza dilakukan melalui surveilans influenza-like illness (ILI) dan severe acute respiratory infection (SARI).
“Pemantauan dilakukan melalui jejaring surveilans dan fasilitas pelayanan kesehatan. Bila terdapat peningkatan kasus yang tidak biasa, perlu dilakukan analisis epidemiologi dan tindak lanjut,” ujarnya.
Menurut Raka, sistem surveilans diperlukan untuk mendeteksi lebih dini apabila terjadi perubahan pola atau peningkatan kasus yang tidak biasa di masyarakat.
Penguatan juga dilakukan melalui jejaring laboratorium. Proses pengambilan, pengiriman hingga pemeriksaan spesimen harus berjalan sesuai pedoman agar virus yang beredar dapat dipantau dan diagnosis influenza dapat dilakukan secara definitif.
“Jejaring laboratorium juga perlu diperkuat untuk memastikan mekanisme pengambilan, pengiriman dan pemeriksaan spesimen berjalan sesuai pedoman, sehingga virus yang beredar dapat dipantau,” jelasnya.
Dinkes Bali juga meminta Puskesmas dan rumah sakit meningkatkan kewaspadaan terhadap pasien dengan gejala infeksi saluran pernapasan, terutama mereka yang memiliki risiko mengalami penyakit berat.
Kenali Gejala dan Cara Penularannya
Influenza A merupakan salah satu penyebab influenza musiman pada manusia. Subtipe yang bersirkulasi pada manusia antara lain A(H1N1) dan A(H3N2).
Gejala influenza dapat berupa demam yang muncul secara tiba-tiba, batuk, sakit tenggorokan, pilek atau hidung tersumbat, sakit kepala, nyeri otot dan persendian hingga tubuh terasa lemas.
Masa inkubasi influenza umumnya berkisar satu hingga empat hari, dengan rata-rata sekitar dua hari.
Penularan terutama terjadi melalui partikel pernapasan ketika orang yang terinfeksi batuk, bersin, berbicara atau bernapas. Risiko penularan dapat meningkat di ruangan tertutup dengan ventilasi kurang baik, tempat ramai, sekolah, fasilitas pelayanan kesehatan maupun lingkungan dengan kontak erat.
Karena itu, masyarakat diminta tetap waspada tanpa perlu panik.
Raka mengimbau masyarakat yang mengalami gejala influenza untuk mengurangi aktivitas di luar rumah dan menghindari kontak dekat dengan orang lain. Penggunaan masker saat sakit, penerapan etika batuk dan bersin serta menjaga kebersihan tangan juga perlu dilakukan untuk mengurangi risiko penularan.
“Apabila gejala semakin berat, terutama muncul sesak napas, penurunan kesadaran atau kondisi memburuk, segera mencari pertolongan ke fasilitas pelayanan kesehatan,” tegasnya.
Penguatan surveilans, kesiapsiagaan fasilitas kesehatan dan perilaku hidup bersih di masyarakat diharapkan dapat membantu mendeteksi perubahan pola penyakit saluran pernapasan lebih cepat sekaligus mencegah penularan meluas. (kbs)

