BerandaDaerahPersembahyangan Tumpek Wayang di Pura Er Jeruk, Gubernur Koster Tegaskan Sad Kerthi...

Persembahyangan Tumpek Wayang di Pura Er Jeruk, Gubernur Koster Tegaskan Sad Kerthi sebagai Fondasi Masa Depan Bali

Dorong Pembangunan Bali Berkelanjutan Berbasis Nilai-Nilai Leluhur

Foto: Gubernur Bali Wayan Koster saat megikuti persembahyangan bersama dalam rangka Rahina Suci Tumpek Wayang di Pura Dang Khayangan Er Jeruk, Kabupaten Gianyar, Sabtu 10 Oktober 2026.

Gianyar, KabarBaliSatu

Gubernur Bali Wayan Koster mengajak seluruh elemen masyarakat dan jajaran pemerintah untuk terus menjaga nilai-nilai kearifan lokal Sad Kerthi sebagai fondasi pembangunan Bali yang berkelanjutan. Ajaran warisan leluhur tersebut dinilai menjadi pedoman penting dalam menjaga keseimbangan alam, manusia, dan kebudayaan Bali hingga diwariskan kepada generasi mendatang.

Pesan itu disampaikan Koster saat melaksanakan persembahyangan bersama dalam rangka Rahina Suci Tumpek Wayang di Pura Dang Khayangan Er Jeruk, Kabupaten Gianyar pada Sabtu 10 Oktober 2026.

Kegiatan tersebut dihadiri Bupati Badung I Wayan Adi Arnawa, Bupati Klungkung I Made Satria, Wakil Bupati Gianyar Anak Agung Gde Mayun, perwakilan Wali Kota Denpasar melalui Asisten I Pemerintah Kota Denpasar, serta sejumlah kepala organisasi perangkat daerah (OPD) di lingkungan Pemerintah Provinsi Bali.

Dalam sambutannya, Koster menyampaikan bahwa persembahyangan merupakan bentuk rasa syukur sekaligus penghormatan terhadap ajaran leluhur yang diwariskan kepada krama Bali. Salah satu warisan penting tersebut adalah Sad Kerthi, yang mencakup enam prinsip pemuliaan kehidupan, yakni Atma Kerthi untuk penyucian dan pemuliaan jiwa, Segara Kerthi untuk laut dan pantai, Danu Kerthi untuk sumber air, Wana Kerthi untuk tumbuh-tumbuhan, Jana Kerthi untuk manusia, serta Jagat Kerthi untuk alam semesta.

Menurut Koster, Sad Kerthi merupakan ajaran yang memiliki makna mendalam karena menempatkan kelestarian alam sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari keberlangsungan hidup manusia. Kehidupan manusia bergantung pada keseimbangan lingkungan, mulai dari tumbuh-tumbuhan yang menghasilkan oksigen, laut yang berperan dalam siklus air, hingga sumber air yang menopang kebutuhan sehari-hari dan sistem irigasi pertanian tradisional Subak.

“Nilai-nilai Sad Kerthi merupakan ilmu kehidupan yang diwariskan oleh leluhur. Ajaran ini membimbing kita untuk menjaga seluruh aspek alam agar kehidupan dapat berlangsung secara berkelanjutan,” ujar Koster, gubernur asal Desa Sembiran, Buleleng tersebut.

Ia menegaskan, nilai-nilai Sad Kerthi kemudian diimplementasikan dalam visi pembangunan Bali, Nangun Sat Kerthi Loka Bali. Visi tersebut, kata dia, harus dijalankan secara tertib dan disiplin oleh seluruh bupati dan wali kota beserta jajarannya, serta menjadi pedoman dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.

Koster menekankan bahwa pembangunan Bali tidak boleh sekadar berorientasi pada kemajuan fisik. Lebih dari itu, pembangunan harus mampu membentuk tatanan kehidupan dan peradaban yang berkualitas, dengan menjaga keseimbangan antara alam, manusia, dan kebudayaan. Dengan demikian, Bali dapat terus berkembang tanpa kehilangan jati diri serta tetap memiliki lingkungan yang sehat dan lestari.

Untuk mewujudkan tujuan tersebut, Koster menyebut perayaan Rahina Tumpek perlu terus dihidupkan sebagai bagian dari upaya melestarikan tradisi dan menanamkan nilai-nilai kearifan lokal kepada generasi muda. Ia juga meminta jajaran Dinas Pendidikan agar mendorong pelestarian Sad Kerthi dan perayaan Rahina Tumpek di lingkungan sekolah.

Menurutnya, penguatan nilai-nilai budaya sejak dini menjadi modal penting dalam menyiapkan generasi penerus yang mampu menjaga keberlanjutan peradaban Bali. Upaya tersebut sejalan dengan Haluan Pembangunan Bali Masa Depan 100 Tahun Bali Era Baru periode 2025–2125.

Koster juga mengingatkan bahwa Bali memiliki nilai kesakralan yang terbentuk melalui warisan ajaran para Rsi, Mpu, Dang Hyang, serta para leluhur yang menetapkan berbagai ajaran, upacara, dan tempat suci di seluruh wilayah Bali. Karena itu, pembangunan harus dilaksanakan secara bertanggung jawab, tertib, dan konsisten agar tidak mengabaikan nilai-nilai spiritual maupun keseimbangan lingkungan.

Selain melalui pelestarian adat dan budaya, pembangunan berkelanjutan juga perlu diwujudkan lewat kebijakan konkret. Koster menyoroti pentingnya pengelolaan sampah berbasis sumber, pembatasan plastik sekali pakai, penerapan energi bersih, pengembangan transportasi ramah lingkungan, serta penguatan pertanian organik.

Sejalan dengan arah pembangunan tersebut, Pemerintah Provinsi Bali bersama pemerintah kabupaten dan kota menetapkan enam kawasan sebagai Kawasan Rendah Emisi atau Kerthi Bhumi Satwika. Keenam kawasan itu meliputi Ubud di Kabupaten Gianyar, Kepulauan Nusa Penida di Kabupaten Klungkung, Nusa Dua dan Kuta di Kabupaten Badung, serta Sanur dan Kawasan Cagar Budaya Gajah Mada di Kota Denpasar.

Koster menjelaskan, penetapan kawasan tersebut mempertimbangkan tingginya aktivitas pariwisata yang perlu diimbangi dengan upaya menjaga kualitas lingkungan. Kawasan pariwisata, menurutnya, harus mampu berkembang secara harmonis dengan alam, tanpa mengorbankan kelestarian ekosistem yang menjadi penopang kehidupan masyarakat dan daya tarik Bali.

Melalui penguatan Sad Kerthi, pelestarian tradisi Tumpek, dan penerapan kebijakan rendah emisi, Pemerintah Provinsi Bali mendorong pembangunan yang tidak hanya mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menjaga kualitas lingkungan, keluhuran budaya, dan kesejahteraan masyarakat.

Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya mewujudkan Bali yang berkelanjutan bagi generasi sekarang maupun generasi mendatang. (kbs)

Berita Lainnya

Berita Terkini